Artikel

Antara Kepribadian dan Pertaubatan oleh : Adlina Utsman

Administrator | Selasa, 04 Oktober 2016 - 07:55:39 WIB | dibaca: 1077 pembaca

Antara Kepribadian dan Pertaubatan
By. Adlina Utsman
 
Salah satu penggalan dialog di film Avatar The Legend of Aang “Masalah kalian itu nyata, Jangan menunggu seseorang untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Kamu, kita sendiri lah yang harus menyelesaikan ini.” Dialog tersebut adalah ketika Katara memotivasi para penghuni pengendali udara untuk segera melakukan tindakan dari pada menunggu juru penyelamat [AVATAR] datang dan membantu menyelesaikan masalah yang akan mereka hadapi yakni serangan dari negeri api.

Well, kita sedang tidak ingin membahas dan terlibat terlampau dalam dalam film animasi tersebut. Tetapi film layaknya sastra sering mengungkapkan pesan-pesan kehidupan yang terdalam yang ingin disampaikan penulis dengan bahasa yang ringan dengan cara lain selain ruang ilmiah.

Kepribadian asli seseorang itu terlihat dari beberapa perilaku yang justru lahir dari sesuatu yang tidak dia sadari dan bukan dari apa yang dia sadari [sadar dalam frekuensi gelombang otak alfa]. Seorang Psikolog, bisa dengan waktu singkat mengetahui kepribadian seseorang hanya dengan melihat tulisan tangan, berbicara, gestur, mimik wajah, bahasa tubuh, dsb. Islam menyebutnya akhlaq, suatu tindakan yang lahir secara spontan tanpa pemikiran yang panjang. Suatu tindakan yang dilahirkan karena faktor pembiasaan. Dengan demikian akhlaq berkaitan dengan apa isi alam bawah sadar seseorang. Tindakan yang kita lakukan yang seolah terlihat seperti sederhana ternyata menunjukkan sesuatu yang bermakna mendalam. Misalnya kemrungsungnya seseorang dalam mengatur jadwal hariannya dapat menunjukkan bagaimana dia mengatur manajemen sholatnya, tidak sabarnya seseorang menunggu lampu lalu lintas berwarna merah, dapat menunjukkan kurang sadarnya dia akan tanggungjawab yang dipikulnya sebagai seorang pengendara sepeda motor/mobil dsb termasuk masalah yang nyata yang ada di sekeliling kampus yakni bagaimana gaya parkir seseorang mempertaruhkan integritas seseorang untuk dipertanyakan, dengan bahasa jawa yang khas, orang kemudian berkata “ki maksudte piye???”.....   

Jika gaya parkir seseorang [misalnya] masih salah dan dia tidak otomatis mampu untuk parkir secara tepat, berarti perlu ada rekontruksi kepribadian. Orang memerlukan pertaubatan yang harus dimulai dari dalam diri sendiri. Bagaimana tidak, sering kita menyalahkan orang lain ketika dia berbuat salah tanpa mempertanyakan dulu apakah kita terlibat di dalamnya atau tidak. Seolah kita tidak pernah sadar bahwa saya, adalah bagian dari kami [kita]. Di satu sisi, tepat dan baiknya seseorang harus tetap diperjuangkan di tengah-tengah sistem yang belum baik yang belumbaiknya tersebut juga didukung oleh orang-orang yang belum baik. Orang-orang yang sadar bahwa dia adalah bagian dari peradaban tentu berada dalam dua pilihan, tinggal milih, tergerus oleh sistem yang belum baik sehingga ikut menjadi belum baik, atau berupaya untuk menjadi baik, mengajak orang untuk lebih baik, dan membuat kita lebih baik dengan menggunakan berbagai macam cara dan strategi.

Syarat Taubat menurut para sufi adalah 1) menyesali perbuatan salah yang telah dilakukan, 2) bertekad tidak akan mengulangi, 3) mengganti perbuatan yang buruk tersebut dengan perbuatan yang baik, meminjam istilah Al-Ghazali adalah Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Point yang pertama adalah menyesali perbuatan yang telah dia lakukan. Pada tataran praktisnya, beberapa orang mengakui susah untuk merasa menyesal dan tidak merasa bersalah telah melakukan kesalahan. What’s wrong ? Apa yang salah? Bagian mananya dari diri kita yang salah? Jika yang salah adalah akalnya [misal: ketidaktahuannya yang membuat dia keliru], maka orang harus rajin mencari pengetahuan, kemudian memilah mana yang tepat mana yang tidak tepat. Dalam konteks ini misalnya, di lahan parkir sudah ada garis putihnya, orang boleh mencari tahu apa makna garis putih yang tertutup dan terbuka. Garis tertutup berarti untuk parkir dan yang terbuka berarti untuk jalan dan tidak untuk parkir. Maka, menggunakan kemampuan akal dengan berfikir yang logis [sehat dan adil] adalah hal yang juga penting dalam kehidupan. Lihat bagaimana Allah memperingatkan manusia tentang kedzalimannya, tentang bagaimana cara berfikirnya tidak digunakan sebagaimana mestinya.  

                                                                                             فَبَدَّلَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ فَأَنزَلۡنَا عَلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ  ٥٩ 

59. Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik (سورة البقرة,٥٩)

Namun jika seseorang sudah tahu akan tetapi begitu susah untuk menyesali maka yang sakit adalah hatinya. Oleh karena itu hati memerlukan dzikir, mengingat Allah yang Lathif mohon agar dilembutkan hatinya supaya tidak keras dan semakin mengeras. Dengan maqam [usaha] yang telah kita upayakan tersebut, ahwal [anugrah] berupa hidayah akan datang dengan sendirinya. Jika ketidaktahuannya membuat dia tidak mau tahu, berarti derajat sakit sudah pada stadium sakit Jiwa. Jiwa dalam hal ini Diri. Karena yang sakit adalah akal dan hatinya [dua unsur ini bagian penting dalam nafs-jiwa manusia]. Dalam bahasa kedokteran sering kita dengar, komplikasi. Jika demikian, maka dibutuhkan terapi khusus yang boleh jadi datang langsung dari Allah swt berupa cobaan dsb. Proses mencari diagnosa yang tepat dari penyakit kejiwaan yang sedang kita alami adalah melalui taubat, yang tidak mungkin dapat dijalani tanpa melalui muhasabah, introspkesi, kontemplasi, merenung, dengan intents, latihan terus menerus [riyadhoh] dan sungguh-sungguh [mujahadah]. Dengan demikian, orang tidak mungkin bisa shabar [sabar ketika mendapat kritikan bahwa parkirnya keliru, misalnya] jika belum bertaubat dan jika belum melampaui proses yang panjang dalam pertaubatan tersebut.  

SO, teman-teman mahasiswa, jika  anda merasa bagian dari agent perubahan dunia menuju ke arah yang lebih baik. Lihat baik-baik sekeliling dan do something yang lebih baik. Giatkan lagi makna dari surat al-ikhlas

                                                                                              وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
 
1. Demi masa, 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Hari ini... sudah parkir pada tempatnya?

Rapilah, demi kamu, demi kita, demikian dan terima kasih.