Artikel

Atribut-Atribut Negara Kuat

TIPD STAIN Kudus | Selasa, 30 Agustus 2016 - 08:10:26 WIB | dibaca: 1162 pembaca

Atribut-Atribut Negara Kuat
Oleh: Muhamad Jalil, M.Pd
(Dosen Tarbiyah/Tadris Pendidikan Biologi STAIN Biologi)

Getaran penyambutan HUT RI ke-71 di berbagai daerah mulai terasa. Spanduk mulai bersliweran dimana-mana. Terpampang jelas pada papan reklame perempatan jalan. Sumbernya pun beraneka ragam. Baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Tak sekadar itu, berbagai aktivitas dilakukan warga jauh hari sebelum hari H. Umpamanya perlombaan dan gotong royong seperti mengecat gapura, menyiapkan cagak bendera, memasang umbul-umbul, dan segudang lagi.
Di sekolah dan kampus juga demikian. Bagi yang ditunjuk sebagai regu Paskibraka sudah mulai ditempa baris berbaris oleh tim aparat setempat. Sementara sisanya bergulat dalam ajang perlombaan yang disiapkan oleh pihak panitia sekolah maupun kampus.
Semangat holobis kuntul baris warga ini sejalan dengan logo resmi peringatan HUT RI ke-71. Logo tersebut diluncurkan pertama kali oleh Kemensetneg melalui surat edaran Nomor B-1651 (25/05). Dalam logo tersebut mengambil tema besar “Kerja nyata”. Tema tahun ini merupakan hasil metamorfosis dari tema HUT sebelumnya “Ayo kerja”. Pemerintah ingin menunjukkan bahwa ajakan ayo kerja di tahun sebelumnya harus dibarengi dengan tindakan kerja nyata di tahun berikutnya.
Sejak dilantik 20 Oktober 2014, pemerintah Jokowi telah bekerja keras. Sistem kabinet terus disempurnakan. Terbukti belum genap dua tahun terjadi reshuffle kabinet kerja sebanyak dua kali. Sebagian kalangan optimis perombakan ini akan mempercepat kinerja pemerintah. Diperkuat dengan masuknya Sri Mulyani dalam jajaran kabinet.
Ikhtiyar pemerintah dari masa ke masa masih saja menyisakan persoalan bangsa. Di saat umur negara yang seharusnya sudah mapan, nyatanya masih tertatih-tertatih dalam perekonomian. Saat usianya menginjak angka 71, dekadensi moral masih menghantui generasi muda. Isu sara masih  menjadi momok dalam meruntuhkan semangat Bhineka Tunggal Eka. Seperti yang terjadi di Tanjung Balai Sumut (30/07). Hukum kita juga masih setengah hati terhadap terpidana korupsi. Gelagat terorisme masih ditemukan. BPJS palsu. Dan lainnya.
Ibarat negara ini adalah pohon, maka dapat dikatakan tumbuh dan kembangnya tidak sempurna. Pohon yang pertumbuhannya terhambat biasanya ditandai dengan layu,  kerdil, daunnya menguning dan keriting, akarnya rapuh, batangnya koyak, buahnya sedikit, bahkan tidak mampu berbuah. Kurang lebih demikian wajah Indonesia sekarang.
Dalam kajian ilmu fisiologi tumbuhan, ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertama, faktor internal yaitu gen dan hormon. Kedua, faktor eksternal meliputi makanan, suhu, kelembaban, sinar matahari, cahaya, sampai gangguan biologis. Untuk dapat berkembang dengan baik maka dua faktor ini harus berimbang dan saling mendukung satu sama lain.
Indonesia memiliki atribut faktor eksternal yang kuat untuk tumbuh menjadi negara kuat. Pertemuan dua jalur perdagangan Asia-Australia. Kekayaan laut begitu melimpah. Perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas. Potensi pertambangan menggiurkan. Batubara dan minyak bumi yang melimpah ruah. Tanah yang gembur memungkinkan menjadi negara pengekspor produk pertanian. Sektor pariwisata yang menjanjikan. Baik wisata alam, belanja, maupun religius. Dan segudang lagi.
Modal eksternal ini tidak bernilai jika faktor internal tidak dioptimalkan. Faktor itu terdiri hormon dan gen. Hormon dalam tubuh berfungsi sebagai pengendali pertumbuhan dan perkembangan. Dalam tata negara maka hormon ini sama saja produk hukum. Sementara gen dalam kajian genetika merupakan sepenggal DNA yang menentukan sifat makhluk hidup. Terbungkus rapi dalam kromosom. Gen yang menentukan pemenang dan pecundang seseorang. Dalam bernegara gen itu adalah mental warga negara yang diperoleh dari interaksi sosial-budaya.
Sebagai negara demokrasi, produk hukum  kita terbilang handal. Dengan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. Pancasila mestinya mampu menjadi fondasi dalam menentukan arah nahkoda kapal dalam mengarungi samudera yang penuh badai dan himpitan. Karena Pancasila tercermin jatidiri bangsa yang religius, humanis, nasionalis, demokratis, dan berkeadilan. Di samping itu, Pancasila juga lahir dari norma agama dan adat setempat.
Menjadi ironis ketika produk hukum dan kekayaan eksternal yang dimiliki tak mampu membebaskan warganya dari lorong persoalan yang makin engap ini. Para pakar berpandangan semua ini disebabkan oleh persoalan mental bangsa. Konon sebagian warga kita masih ber-DNA irlander. Mental ini ditandai dengan; tidak dimilikinya rasa percaya diri sebagai bangsa, memandang bangsa lain jauh lebih maju (Kirom, 2011). Walaupun sudah merdeka, namun penyakit irlander tidak serta merta hilang dari nusantara. Parahnya mental semacam ini dimiliki oleh sebagian pejabat negeri ini. Sehingga laju pembangunan menjadi tersendat.
Momentum kemerdekaan ialah waktu tepat untuk membumikan kembali pohon “Revolusi Mental” di Indonesia. Disiram dan dipupuk. Serta didukung setangguh dan sekuat tenaga. Setangguh Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Dan sekuat Supriyadi (Pemimpin PETA) dalam mengusir Jepang.
Dalam sejarah umat manusia, perubahan selalu menggrogoti waktu yang lama. Rasulullah membutuhkan 10 tahun untuk membangun kota Madinah menjadi kota bercahaya. Kaisar Mutsuhito Jepang menunggu 200 tahun untuk mewujudkan Restorasi Meiji pada kurun waktu 1866-1869.
Tumbuhnya pohon “Revolusi Mental”, diyakini akan mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Bahkan mungkin mendahuluinya. Dengan catatan DNA irlander enyah dari NKRI. Merdeka!

Dimuat juga dalam Kolom Wacana Suara Merdeka Tanggal 16 Agustus 2016
Dapat juga dibuka di link sebagai berikut http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/atribut-atribut-negara-kuat/
Kudus, 8 Agustus 2016