Artikel

Baik Sangka pada Allah Oleh : Moh. In`ami, M.Ag

Administrator | Kamis, 03 Agustus 2017 - 08:33:00 WIB | dibaca: 365 pembaca

Kehidupan ini adalah bukti kekuasaan Allah. Setiap makhluk yang hidup merupakan indikator iradah dan masyiah-Nya. Dialah Sang Pencipta, yang menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia yang muslim, kafir, fajir, shalih, dan sebagainya.

Allah Ta’ala menciptakan manusia, menjadikannya senang kembali, dan berprasangka baik kepada-Nya. Karena Dialah Yang Maha Penyayang, yang diakui atau tidak oleh makhluk rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah membuat ketetapan dalam Lauhil mahfud sebelum menciptakan makhluk: Sungguh rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”

Dalam hal sifat mahmudah yang hendaknya ada dalam diri seorang muslim, adalah baik sangka pada Allah. Ini merupakan sifat yang terpuji, yang hendaknya ada dan terpancar pada diri seorang muslim.

Baik sangka kepada Allah termasuk dasar keimanan, yang siapapun bisa belajar dari para nabi dan rasul dalam sirah mereka suatu perjalanan yang penuh dengan ujian, cobaan dan tantangan serta rintangan.

Pada saat Nabi Ibrahim as keluar dari negerinya, beliau pernah berkata, “Sungguh aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. 37: 99). Melalui ayat ini dapat dilihat bahwa Ibrahim berbaik sangka pada Tuhannya; bahwa Allah akan memudahkan segala urusannya, memberi petunjuk kepada hatinya. Maka sebagai konsekuensinya, bagi Ibrahim as sebagaimana apa yang diharapkan.

Pada saat Nabi Musa as dan para pengikutnya sampai di pinggir laut, mereka pikir akan tersusul Fir’aun dan balatentaranya yang mengejar mereka. Pengikut Musa berkata, “Kita benar-benar akan tersusul.” (QS. 26: 61). Lantas Musa as berkata, “Sekali-kali tidak akan (tersusul). Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. 26: 62). Maka Musa as berbaik sangka pada Allah, bahwa Dia akan menyelamatkannya, memberi solusi bagi kegalauannya. Maka hasil yang diperoleh Nabi Musa as dan para pengikutnya adalah keselamatan. Allah berfirman, “Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya.” (QS. 26: 65)

Kita pun memiliki keteladanan dari Rasulullah saw. Beliau mengajak siapa saja, tanpa terkecuali, agar berbaik sangka kepada Allah. Pada saat Abu Bakar berkata kepada beliau, sedang mereka berada di sebuah gua, “Kalau saja salah seorang dari orang kafir itu melihat ke bawah, pasti akan melihat kita.” Lantas Nabi bersabda, “Hai Abu Bakar, Apakah kamu lupa bahwa jika kita berdua sedang pihak ketiganya adalah Allah?.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat) yang tidak terlihat olehmu. (QS. 9: 40)

Kita juga bisa belajar dari para ulama’ dan salafusshaleh. Pendapat mereka dapat dijadikan mau’idhah dalam setiap perjalanan kehidupan sebagai seorang muslim. Betapa keislaman seseorang selalu berhadapan dengan godaan, tantangan dan rintangan yang datang silih berganti.

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Tidaklah seorang hamba yang beriman itu diberi sesuatu yang lebih utama dari baik sangka kepada Allah. Dan tidaklah seorang hamba yang beriman itu berbaik sangka pada Allah melainkan Dia akan memberikan (apa yang disangkanya). Karena semua kebaikan itu bermuara kepada-Nya.”

Bahkan Said bin Jabir berdoa, “Ya Allah, sungguh aku memohon tawakkal yang benar dan baik sangka kepada-Mu.” Karena dengan baik sangka akan menjadikan hati tenang, jiwa pun tenteram, dan kebaikan datang. Baik sangka akan membuka pintu-pintu kebaikan, dan karunia Allah pun akan diberikan.

Kedua pendapat di atas memberikan penegasan sekaligus penguatan kepada setiap muslim bahwa berbaik sangka, apalagi kepada Allah, merupakan bagian penting dari setiap ujian, cobaan dan kenikmatan yang dialami oleh masing-masing dari kaum muslim. Tidak ada suatu sangkaan yang dibenarkan kecuali baik sangka. Dan baik sangka pada Allah akan mengantarkan pelakunya pada banyak kebaikan.

Pertanyaan yang perlu diajukan adalah, “Kapan baik sangka itu dilakukan?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seorang muslim hendaknya melihat dan memperhatikan dirinya sendiri; keimanan, keislaman dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Sesungguhnya manusia senantiasa berbaik sangka kepada Tuhannya, bagaimana pun keadaannya. Tidak ada satu kesempatan atau pilihan lain yang menjadikan seorang muslim dibenarkan berburuk sangka kepada-Nya bagaimanapun keadaan dan kenyataan yang dihadapi oleh seorang hamba. Bahkan sepahit apapun yang dialaminya.

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Allah Ta’ala berfirman: Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku.” Allah mengikuti apa yang disangka hamba-Nya; jika ia berprasangka baik, maka kebaikan yang akan diterima. Namun jika ia berburuk sangka, maka keburukan yang akan dihadapinya.

Menurut seorang ulama, bahwa termasuk baik sangka adalah kamu merasa yakin dikabulkannya doa, diterimanya taubat, dan diperkenankannya permohonan ampun, dengan berpegang pada kebenaran janji-Nya. Karena Allah dalam prasangka baik hamba-Nya, jika ia berharap rahmat dan kebaikan-Nya, maka baginya hal itu. Siapa saja yang memulai suatu pekerjaan, atau mengelola suatu urusan, hendaknya ia optimis dengan kebaikan dan berbaik sangka bahwa Allah akan membuka baginya pintu-pintu anugerah-Nya, memberi kenikmatan dari kerunia-Nya. Maka baik sangka itu dalam segala sesuatu, agar klimaksnya adalah kegembiraan berupa kebaikan dari Allah.

Sebagaimana terjemah hadits di atas, seorang muslim hanya memiliki opsi berbaik sangka pada Allah. Dengan baik sangka itulah keimanan menemukan momen untuk penguatan dan peneguhan, dan menjadikan keislaman semakin tegar.

Pada situasi-situasi sulit, hati seorang muslim hendaknya fokus pada Penciptanya, yang mengetahui keadaannya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Dan baik sangka bahwa Allah akan mengangkat penderitaan yang dialaminya, “Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempatan.” (QS. 65: 7). Seorang muslim hendaknya tunduk pada-Nya dengan memanjatkan doa, yakin bahwa Dia akan memperkenankan doanya, mengabulkan harapannya. Sabda Nabi saw, “Wahai manusia, jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah pada-Nya sedang kalian yakin akan diijabah.”

Tidak seorang mukmin berdoa melainkan melalui doa yang diucapkan itu terdapat rasa penuh harap, bahwa Allah berkenan mendengar doannya. Dan dalam berdoa itulah seorang mukmin menggantungkan segala sesuatu pada Tuhan Yang Maha Mendengar. Dalam perasaan bergantung kepada Allah itulah terdapat perasaan yang sejalan dengan baik sangka pada-Nya.

Apakah masih ada keraguan pada diri seorang muslim terhadap kemahakuasaan Allah? Adakah perasaan pesimis oleh sebab belum terkabulnya doa yang sejak lama dipanjatkan? Bagaimana seorang hamba yang lemah dan tidak memiliki apa-apa merasa tidak butuh pada Tuhan?

Mengapa manusia tidak menyebut asma Allah yang terbaik (asmaulhusna), yang dengannya manusia direkomendasikan untuk berdoa dan bermunajat kepada-Nya? Tidak ada lagi alasan dan argumen yang dibenarkan untuk tidak berbaik sangka pada Allah. Oleh sebab segala urusan kembali kepada-Nya. Persoalan apapun berasal dari-Nya. Dan Allah pula tempat kembali semua makhluk.

Allah berfirman, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 7: 180).

Tugas seorang muslim adalah berdoa dengan asma-Nya. Yang dengan itu seorang muslim mengenal Allah dan bersangka baik pada-Nya, dalam segala hal. Dan meyakini bahwa Allah adalah Maha segalanya.

Dan maksud “orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya” yaitu janganlah dihiraukan orang-orang yang menyembah Allah dengan Nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat dan keagungan Allah, atau dengan memakai asmaa-ul husna, tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan asmaa-ul husna untuk Nama-nama selain Allah.

Dalam konteks ini, suatu ibadah ternyata bergantung pada niat dan motif pengamalnya, serta mengikuti apa yang telah dicontohkan Rasul-Nya.

Maka bergembiralah manusia dengan adanya kebaikan yang bisa terselenggara, fokus ke arah yang bermanfaat baginya dan bagi komunitasnya dengan penuh rasa yakin, positif, dan cita yang tinggi, penuh harap. Karena Nabi saw mengagumi tafa-ul yang baik. (HR. Al-Hakim), karena baik sangka termasuk tafa-ul yang menjadikan setiap individu mampu menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, mendorong kepada pelaksanaan yang optimal dalam perbuatan, maka ia hidup dalam kebahagiaan bersama keluarga dan komunitasnya. Ia senantiasa berbaik sangka bahwa kebaikan itu pada apa yang telah ditetapkan Allah Ta’ala atasnya. Ia memandang positif kehidupan individualnya, sehingga ia mampu memberi manfaat kepada diri dan orang lain.

Sudahkah kita, sebagai muslim, berbaik sangka kepada Allah dalam setiap kelapangan hidup dan kesempitan yang kita alami? Wallahu a’lam.