Artikel

BEDA TAPI MESRA

Administrator | Jumat, 13 Juli 2018 - 14:31:16 WIB | dibaca: 599 pembaca

BEDA TAPI MESRA
Irzum Farihah


Agama Islam dikenal sebagai agama damai, yang mengajarkan keselarasan, ketenangan, dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, serta Islam tidak pernah mengajarkan kebencian sesama manusia. Melihat konsep Islam yang begitu indah, sangat prihatin sekali ketika membaca berita yang muncul di media sosial saat ini, satu dengan lainnya saling menghujat dan menganggap dirinya paling benar, sedangkan yang lain salah. Dengan demikian, masyarakat mudah tersinggung dengan pemberitaan yang kurang baik tentang kelompok atau ideologi yang dianut. Akhirnya saling membalas dengan ujaran kebencian melalui media sosial dan intoleransi yang muncul di masyarakat saat ini semakin meningkat. Padahal al-Quran sudah mewanti-wanti untuk tidak saling menjelek-jelekkan antar individu maupun kelompok, sebagaimana dalam al-Hujurat ayat 12: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kaum lelaki dan perempuan mengolok-olok yang lain, boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah kefasikan sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.  Sebagian masyarakat menganggap sikap seperti di atas merupakan hal yang biasa dan sudah mentradisi, padahal selain merugikan orang lain juga diri sendiri yang mengarah pada sikap iri dan dengki.  

Allah menciptakan manusia pada dasarnya sama, hanya ketaqwaan yang membedakan, sebagaimana dalam ayat selanjutnya (al-Hujurat ayat 13) “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Ayat ini menegaskan kesatuan asal usul manusia dengan menunjukkan kesamaan derajat kemanusiaan. Oleh karenanya tidak sewajarnya seseorang berbangga dan merasa lebih tinggi dari lainnya. Bukan saja antara satu bangsa, suku atau warna kulit, namun berkaitan juga dengan jenis kelamin yang mana semuanya diciptakan oleh Allah untuk saling mengenal. Pesan langit tersebut jika dikaji secara sosiologis, tampak sekali moderasi dalam membangun hubungan antar manusia. Hal tersebut dapat dilihat dalam penggalan ayat yang menggunakan bentuk tafa’ala dalam redaksi lita’arafu yang mempunyai makna “saling mengenal”, fungsinya di sini lil musyarakati baina itsnaini fa aktsara (kerja sama dua orang atau lebih). Di sini menunjukkan bahwa interaksi yang dibangun tidak hanya satu arah “kita mengenal orang lain” saja, namun “orang lain harus mengenal kita”. Interaksi kedua belah pihak tersebut akan melahirkan tidak hanya simpati, tetapi juga empati. Perbedaan agama, budaya dan kepercayaan merupakan sunnatullah (orders of nature). Oleh karenanya keragaman yang ada di Indonesia ini mestinya dijadikan sarana saling mengenal dan saling menghargai satu dengan lainnya. Ungkapan yang tak asing di telinga kita “Tak kenal maka tak sayang”, di media sosial saat ini pun berlaku demikian, maraknya komentar yang semaunya sendiri, saling mengejek, menyinggung bahkan mengklaim orang lain salah, karena mereka menganggap yang ada dihadapannya adalah benda mati, padahal justru masyarakat luas dari berbagai kalangan yang akan membaca pesan tersebut. Harusnya para pengguna sadar, bahwa media sosial menjadi sarana manusia untuk saling mengenal bukan untuk saling memaki.

Melihat fenomena seperti di atas, maka pentingnya pendewasaan diri dalam bersikap dan bertutur. Dalam hal ini, perempuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun moderasi dalam pola pikir di keluarga dan masyarakat. Membiasakan anak sejak dini ada dalam lingkungan yang beragam dengan memberikan pemahaman toleransi yang baik, tanpa harus mengikis keimanan, dengan harapan akan melahirkan generasi-generasi yang mampu menerapkan konsep lita’arafu melalui hidup berdampingan dengan berbagai kalangan tanpa harus menyakiti satu dengan yang lain. Oleh karena itu, untuk mewujudkan “kemesraan” sesama manusia, dibutuhkan mutual understanding atau sikap saling memahami dan dapat menerima orang lain tanpa syarat. Jika semua manusia menyadari kedua pesan-pesan langit di atas dengan baik, maka tidak akan ada lagi hati yang terluka, sehingga terwujudlah equilibrium (keseimbangan) dalam kehidupan manusia dan semakin kuat pengenalan satu pihak kepada pihak lainnya, maka semakin terbuka peluang untuk memberi manfaat kepada sesama. Indahnya perbedaan, Indahnya kemesraan.