Artikel

Belajar Beragama Dengan Benar

Administrator | Rabu, 11 Oktober 2017 - 12:46:48 WIB | dibaca: 544 pembaca

Belajar Beragama dengan Benar
Moh.In’ami | STAIN Kudus
 
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mengadakan sesuatu dalam urusan agama kami yang tidak termasuk di dalamnya maka ia akan tertolak.” (HR. Albukhari dan Muslim)
®
Kehidupan adalah anugerah. Pemberian yang luar biasa bagi siapapun tanpa terkecuali, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, tua, muda. Sebuah pemberian yang tidak dapat dibiarkan lewat begitu saja. Maknanya, kehidupan hendaknya diisi sesuai dengan misi masing-masing. Kita, manusia, misinya adalah kholifah di muka bumi dan —sadar sebagai—  hamba Allah Ta’ala. Maka, tugas kita tentunya, mengelola semesta dan alam di sekitar dengan baik, dan sungguh-sungguh dalam menyembah kepada-Nya. Dua konsekuensi ini tidak bisa ditawar sama sekali, dan tidak ada pengecualian.
Tidak ada kehidupan tanpa tatanan. Kehidupan yang berdasar pada tatanan akan memunculkan keteraturan. Mewujudkan kehidupan yang bertatanan dan teratur adalah melalui agama. Agama menjawab segala persoalan hidup manusia. Dan Islam merupakan way of life setiap orang yang mampu menemukan kesadaran diri akan eksistensi Tuhan, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Agama Islam adalah agama yang memberikan kesempatan kepada seluruh manusia untuk memeluk atau tidak menganutnya. Alqur’an surat al-Baqarah ayat 256 menyatakan: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Beragama atau mengamalkan agama dalam kehidupan tidak lepas dari tantangan, rintangan dan godaan. Rongrongan dari berbagai pihak yang tidak suka terhadap pengamalan agama akan muncul silih berganti. Mereka itu adalah thaghut –syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah Ta’ala. 
Meski demikian, teruskan saja menjalankan agama, jangan pernah lepas darinya. Peganglah kuat-kuat agama Allah yang lurus. Karena hanya dengan berpegang padanya keselamatan hidup di dunia dan akhirat dapat diraih. 
 
Beragama
Islam memberikan tuntunan bagi setiap pemeluknya untuk beragama. Beragama berarti menjalankan semua syari’at yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Beragama (Islam) dapat dimaknai sebagai wujud mu’amalah seorang hamba kepada Tuhannya, dan dibuktikan dalam bentuk kesalehan terhadap sesama. Yang pertama merupakan hubungan vertikal, dan yang kedua adalah hubungan horizontal. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Salah satu dari ibadah adalah dzikir. Dzikir sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw tentunya. Dan dzikir yang paling tinggi nilainya adalah shalat. Allah menegaskan: 
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Alqur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Islam adalah agama yang bisa diterima oleh siapapun. Tentunya dengan hati yang bersih dan benar-benar obyektif dalam memahaminya.  Oleh sebab agama Islam mengajarkan kebersihan dan kesucian. Dan tawaran tentang konsep penyucian diri dan terminologi suci hanya ada dalam Islam. Untuk itulah wajar bila yang diperjuangkan oleh setiap Muslim adalah bagaimana meraih kesucian; pikiran yang suci—bersih dari yang kotor dan negatif, jiwa yang tersucikan oleh dzikir, jasmani yang suci oleh wudlu dan mandi wajib, harta yang suci setelah dikeluarkan zakatnya dan seterusnya.
Sementara jika kita renungkan, bagaimana bisa terjadi, orang sudah sibuk, melupakan shalat, padahal shalat merupakan kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya. Ini akan menyebabkan dirinya semakin jauh dari Allah.
Selain itu, perbuatan baik yang dilakukan tanpa shalat hasilnya muspro (sia-sia). Pun sebaliknya memperbanyak dzikir, tidak mau mendirikan shalat, menjadi salah kaprah. Bagi orang-orang yang menyepelekan shalat telah diingatkan dalam surat Thaha ayat 124 berikut: 
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Dan ayat 125 merupakan jawaban atas pertanyaan mereka, ketika di dunia mata dapat melihat lalu mengapa di akhirat mata mereka buta.
Dalam Tafsir Mizan, Thabathaba’i menegaskan bahwa dzikir mengembalikan segala sesuatu kepada Allah.  Dan dalam berdzikir begitu dekat dengan syukur. Lihat saja pada ayat berikut: 
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152). Jadi jelaslah bahwa syukur berkaitan dengan melakukan ibadah. 
Itulah sebagian kecil dari contoh dalam beragama. Sebagai catatan, kita perlu memperbaiki perilaku kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Sering terjadi ibadah kita belum mencapai derajat sempurna; kita melakukan ibadah shalat dengan memakai baju yang asal-asalan, sementara kita berpenampilan beda (bahkan berlebih) ketika akan menghadiri pesta. Mestinya kita adil dalam bersikap dan berhias, untuk menghadap Allah lebih baik daripada berurusan dengan sesama. Tentunya kita menghindari perilaku ishraf (berlebih-lebihan).
Rasul saw telah memberikan rambu-rambu, siapapun dari kalangan Muslim berkesempatan untuk beragama dengan benar, dengan mewujudkan amal dalam kehidupan sehari-hari. Namun perlu disadari dari amal-amal tersebut yang diterima adalah amal orang yang beriman. Di antara amal orang-orang beriman yang diterima adalah yang berlandaskan ilmu (baca: mengerjakan amal perbuatan bukan ikut-ikutan, tahu dasarnya dengan jelas). Dan mereka yang beramal dan beriman itu yang diterima adalah yang ikhlas (hanya mengharap ridla Allah Ta’ala). Maka, untuk mewujudkan beragama yang benar, jalannya adalah kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. 
 
Tantangan dalam Beragama (Mempraktekkan Ajaran Agama)
Begitu banyak ditemukan berbagai cara beragama dalam masyarakat. Dalam perspektif fenomenologi, banyak hal-hal yang sebenarnya bukan agama dianggap sebagai amalan agama. Pun sebaliknya, dalam perspektif doktrin, tidak banyak orang yang sadar dan mau ‘menyelami’ lebih jauh tentang hakekat yang sebenarnya dalam beragama –mengamalkan agama sebagaimana adanya, berdasar pada apa yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tuntuntunkan. Betapa banyak amalan dalam agama yang sebenarnya tidak ada tuntunan dan contoh dari Rasulullah. Padahal barometer beragama itu sejatinya menggunakan parameter apa dan bagaimana beliau saw.
Nampaknya setiap insan Muslim perlu dan harus mewaspadai hal-hal yang masuk kategori bid’ah dan khurafat. Apasaja dari amalan agama yang masih belum bersih dari unsur bid’ah dan khurafat merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan yang setengah hati terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.
Mengapa kita –sebagai seorang Muslim– hanya mau menerima apa yang kita dengar begitu saja tanpa pernah mencoba untuk mencari, membuka, membaca dan menemukan apa yang menjadi landasan dan pedoman dalam beragama?
Kegiatan mencari adalah tugas setiap orang yang mau belajar. Orang yang belajar dihadapkan pada kemungkinan pilihan untuk mau membuka diri terhadap pengetahuan yang dikajinya. Dan membaca adalah pintu ilmu pengetahuan yang menjadikan orang intelek dan tahu agama. Pada akhirnya, orang yang telah berusaha tersebut menjadi mampu menemukan apa yang dapat menjadi pegangan hidup dalam beragama. Ia tidak sekedar ikut-ikutan, apalagi fanatik.
 
Pedoman Beragama 
Seluruh aspek kehidupan mendapat perhatian agama Islam. Tak satupun yang lepas atau terbebas dari unsur keagamaan. Coba perhatikan aspek ekonomi, Islam menawarkan perekonomian syari’ah. Ekonomi yang berbasis pada keadilan dan kesejahteraan, bukan liberal atau kapitalis. Islam juga memiliki konsep mu’amalah (transaksi) yang beragam; murobahah, ijaroh, qirodl, musyarokah dan lainnya. Dalam aspek sosial, Islam sangat memberikan penghargaan terhadap pihak-pihak yang marginal; kaum miskin dan fakir, orang terlantar, pengemis. Nilai-nilai Islam yang dihidupkan dalam bertetangga, konsep sedekah dan persaudaraan. Pada aspek hukum, 14 abad lebih Islam telah mengenal hak asasi jauh sebelum barat ‘mendengungkan’ konsep hak asasi manusia (HAM). Dan masih banyak lagi aspek-aspek yang di dalamnya Islam mengatur secara teliti dan rinci. Tentu saja akhirnya kembali kepada sikap masing-masing individu Muslim untuk mengaktualisasikan diri dengan keberagamaan yang dimilikinya sesuai dengan aspek kehidupan yang ditekuni. Lalu, manakah yang harus kita pedomani, tatanan buatan manusia atau Allah? 
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Sudah menjadi fitrah manusia untuk beragama. Rasulullah meninggalkan dua hal, Alqur’an dan As-Sunnah, merupakan pedoman yang harus dipegang erat oleh setiap Muslim di berbagai aspek kehidupan. Demikianlah pesan beliau saw. (lihat Shahih Muslim)
Allah Ta’ala menjadikan setiap yang hidup memiliki fitrah. Fitrah Allah sebagaimana disebutkan dalam surat Ar-Rum ayat 30 adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Jika terdapat manusia yang tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. Begitu kuat lingkungan memberi ‘warna’ kehidupan bagi seseorang, sehingga siapapun dari kita mesti berhati-hati dalam memilih lingkungan.
Bagaimana kita beragama secara baik dan benar hendaknya belajar dari kaum salafusshaleh. Dan Nabi saw pernah mengajarkan kepada Mu’ad bin Jabal agar membaca doa berikut setiap usai melaksanakan shalat fardlu lima waktu, “Ya Allah, tolonglah kami agar dapat berdzikir kepada-Mu, bersyukur (atas nikmat)-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu”. Beliau saw bermaksud agar setiap kaum Muslim hendaknya beribadah dengan baik dan benar. Karena begitu banyak orang beribadah namun belum sesuai dengan apa yang dituntunkan Allah dan Rasul-Nya. 
Sudahkah kita mengikuti Allah dan Rasul-Nya sepenuh hati?