Artikel

Belajar Toleransi dan Kejujuran melalui Homeostasis dan Ketosis Puasa Oleh: Miftahurrohmah

Administrator | Senin, 29 Mei 2017 - 10:16:06 WIB | dibaca: 622 pembaca

Belajar Toleransi dan Kejujuran melalui Homeostasis dan Ketosis Puasa
Oleh: Miftahurrohmah*

Ramadhan adalah bulan paling istimewa, dialah satu-satunya bulan yang disebutkan dalam Al-quran surat al–Baqarah ayat 185, `(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur`.

Pada bulan Ramadhan, setiap muslim yang telah memenuhi syarat dan rukun tertentu wajib melaksanakan ibadah puasa. Puasa secara istilah syar`i artinya menahan diri dari makan, minum, dan dari segala pembatal puasa yang disertai dengan niat dari mulai terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari.

Ketiadaan asupan gizi ini menyebabkan orang yang berpuasa mengeluarkan aroma yang tidak sedap dari mulutnya, yang dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah Halitosis. Kenyataan ini kemudian dimanfaatkan oleh produsen pasta gigi dan obat kumur atau mouthwash untuk melancarkan propaganda supaya membeli produknya.

Menggosok gigi atau obat kumur hanya efektif untuk membunuh bakteri dan mencegah berkembangbiaknya bakteri di sekitar gigi dan rongga mulut. Sedangkan, bau mulut orang yang berpuasa tidak semuanya disebabkan oleh bakteri yang ada di sekitar gigi dan rongga mulut seperti informasi yang berkembang luas di masyarakat, tetapi lebih dikarenakan oleh hasil akhir proses adaptasi metabolisme tubuh saat berpuasa.

Homeostasis

Ketika terjadi perubahan lingkungan eksternal misalnya kurangnya asupan karbohidrat pada saat puasa, tubuh akan mempertahankan lingkungan internal tetap konstan yang disebut homeostasis. Puasa menyebabkan karbohidrat berkurang - dimana fungsi karbohidrat dari glukosa adalah sebagai sumber energi – hal ini menyebabkan turunnya kadar glukosa darah kemudian memacu hati untuk membebaskan glukosa dari pemecahan glikogen yang disebut proses glikogenolisis.Apabila ketersediaan glukosa tidak tercukupi, maka lemak dan protein akan diubah menjadi asetil koenzim A (Asetil Co-A) sehingga dapat masuk ke siklus Kreb's, yaitu serangkaian reaksi menghilangkan energi dari asam sitrat dalam langkah-langkah kecil, menyimpannya dalam molekul pembawa energi yang berupa NADH (nicotin amid dinucleotid), FAD (Flavin adenin dinucleotid), ATP (adenosin trifosfat). Peristiwa pembentukan glukosa dari asam amino dan asam lemak ini disebut glukoneogenesis.

Ketosis

Pembentukan energi pada orang puasa dapat dihasilkan dari pemecahan asam lemak danasam amino, sebagaimana keterangan diatas.Oksidasi asam lemak menjadi energi sangat efisien.Perubahan asam lemak menjadi energi akan menghasilkan beberapa senyawa yaitu Asetoasetat, β-hidroksi butirat, dan  Aseton (senyawa keton).Pada orang kelaparan (baca: puasa) perombakan lemak menjadi senyawa keton meningkat yang dapat menimbulkan ketosis yaitu menumpuknya senyawa keton dalam darah. Karena sulitnya sirkulasi pada metabolisme hati maka senyawa keton dikeluarkan lewat urin dan pernafasan.Jadi, aseton lah yang bertindak sebagai pemicu munculnya bau mulut orang yang sedang berpuasa.

Glukosa disebut faktor antiketogenik karena asupan glukosa dapat menghambat pembentukan senyawa keton, sedangkan puasa menciptakan kondisi yang menyebabkan suplai gukosa intraseluler berkurang.

Bau Mulut, Toleransi dan Kejujuran

Proses metabolisme tubuh orang saat berpuasa adalah bukti kekuasaan Allah akan ciptaanNya. Jasad (tubuh) manusia selalu toleran dengan kondisi lingkungannya dan jujur dengan apa yang dikerjakannya. Dari peristiwa homeostasis bisa diambilpelajaran pentingnya toleransi dengan lingkungan yang ada untuk mempertahankan kondisi supaya tetap konstan, ketika asupan karbohidrat yang dibutuhkan tubuh berkurang maka tubuh mengambil glukosa dari pemecahan glikogen dalam hati. Sedangkan peristiwa ketosis memberikan pelajaran untuk selalu jujur. Proses metabolisme tubuh manusia akan melaporkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi, orang yang tidak berpuasa tidak mungkin mengeluarkan aroma tidak sedap dari senyawa aseton melalui mulutnya – kecuali pada beberapa kasus penyakit kronis, dengan riwayat metabolisme yang berbeda.

Bau mulut saat berpuasa tidak bisa dihindari. Menggosok gigi atau menggunakan obat kumur hanya memberikan efek menghilangkan bau mulut yang disebabkan oleh berkembangnya bakteri di mulut. Meskipun demikian, tetap penting menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut pada saat kita berpuasa serta menghindari makanan yang berbau tajam.

Selanjutnya, marilah jadikan Ramadhan untuk mendidik ruhaniah kita mengikuti pesan yang disampaikan proses biokimia tubuh kita. Belajar untuk lebih toleran terhadap perbedaan yang ada sehingga tercipta kehidupan yang harmoni. Pada saat Ramadhan, bagi yang tidak berpuasa jangan makan di tempat-tempat umum atau terbuka pada siang hari, dan bagi yang berpuasa tidak perlu melakukan sweeping rumah makan atau warung makan yang buka pada siang hari. Serta membiasakan jujur yang dimulai dari diri sendiri, sehingga terwujud keseimbangan antara hak dan kewajiban, yang selanjutnya terwujud masyarakat yang adil dan beradab.

*Penulis adalah Dosen STAIN Kudus, Alumni Pascasarjana jurusan Ilmu Kimia UGM, Ketua PC Fatayat Kudus.