Artikel

BENCANA BUKAN SEKEDAR FENOMENA ALAM Oleh: Ahmad Fatah

STAIN Kudus | Jumat, 24 Februari 2017 - 14:01:03 WIB | dibaca: 629 pembaca

BENCANA BUKAN SEKEDAR FENOMENA ALAM
Oleh: Ahmad Fatah*

Berbagai macam bencana alam banyak menimpa manusia, khususnya yang melanda wilayah Indonesia. Diantaranya banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gunung meletus maupun cuaca buruk yang dampaknya mempengaruhi bahkan merugikan kehidupan manusia. Ada beragam respon orang dalam menghadapi suatu bencana. Ada yang marah, ada yang berkeluh kesah, ada yang trauma, ada yang saling membantu, ada yang menyalahkan pihak lain, ada yang pasrah dan legowo, ada yang sabar, ada juga yang antisipatif, bahkan ada juga yang biasa-biasa saja. Pendek kata, ada orang yang merespon positif dan ada juga yang merespon negatif. Berbagai respon tersebut tentu tergantung dari persepsi sesorang dan kualitas keimanannya dalam menghadapi bencana.

Bencana atau musibah tersebut tentu bukan sekedar fenomena alam. Bagi orang yang beriman, bencana atau musibah merupakan ujian atas keimanannya dan bukti kecintaan Allah terhadap dirinya. Sikap seperti ini merupakan sikap yang bijaksana, karena kalau dihitung, tentu lebih banyak kenikmatan yang di berikan oleh Allah Swt kepada seluruh makhluknya. Dalam menghadapi musibah atau bencana, Islam memberikan tuntunan kepada umatnya untuk bersabar dan ber-istirja’, yaitu ketika mendapatkan musibah segera mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun, yang berarti: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah Swt, dan hanya kepada-Nya-lah kita kembali”. Statement tersebut memang terlihat sederhana, namun  memiliki makna teologis yang sangat mendalam, yakni mengingatkan kita untuk senantiasa ber-Tauhid, dan beriman terhadap Qadha` dan Qadar. Hal ini juga diperkuat dengan Rasulullah Saw yang bersabda: “Aku (Rasulullah) mengagumi seorang mukmin yang bila memperoleh kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah, dia memuji Allah dan bersabar” (HR Ahmad). Inilah pentingnya 2 S dalam hidup, syukur dan sabar. Hadis tersebut juga memberikan pemahaman dan pembelajaran keseimbangan dalam kehidupan, baik ketika sedang senang maupun susah, agar selalu memuji dan ingat kepada Allah Swt.

Balasan bagi Orang yang Sabar

Dalam Alquran, Allah memberikan reward dan apresiasi kepada orang-orang yang sabar. Allah swt berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan  cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji`un. Mereka itulah yang mendapat ampunan dan kasih sayang dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. al-Baqarah: 155-157). Pada awal ayat tersebut menjelaskan tentang ragam cobaan yang menimpa manusia, yang meliputi cobaan psikis dan cobaan fisik. Ayat selanjutnya adalah tuntunan agar sabar ketika ditimpa musibah. Pada akhir ayat tersebut menjelaskan tentang balasan dan apresiasi bagi orang yang sabar dalam menghadapi musibah. Balasan tersebut meliputi tiga hal. Pertama, mendapat ampunan dari Allah. Kedua, mendapat kasih sayang dari Allah. Ketiga, mendapat predikat orang yang mendapat petunjuk.

Implementasi sabar dalam menghadapi musibah, -paling tidak- dapat diterapkan dalam tiga dimensi. Yaitu dimensi manusia sebagai mahluk Tuhan, manusia sebagai mahluk individual, dan manusia sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk Tuhan, sabar dalam menghadapi bencana adalah momentum agar kita ingat kepada Allah dan meningkatkan kualitas keimanan. Momentum agar kita menyadari kesalahan kita dan bertaubat kepada-Nya. Berdoa dan berserah diri kepada Allah mohon keselamatan dan ketentraman. Tentu harapan dan doa ini harus di iringi perubahan manusia itu sendiri dengan usaha maksimal untuk menjaga diri, baik hubungan vertikal dengan Tuhan maupun hubungan horizontal dengan sesama dan lingkungannya.

Sebagai makhluk individual, sabar dalam menghadapi bencana merupakan momentum agar tumbuh kesadaran dalam diri kita dengan sikap yang legowo, dan menjauhkan dari sikap-sikap berkeluh kesah dan sikap negatif lainnya. Karena dari sikap sabar dan legowo inilah, ucapan, perilaku dan tindakan berikutnya adalah pada hal-hal yang positif. Sebagai mahluk sosial, sabar dalam menghadapi bencana dapat diwujudkan dengan simpati dan empati terhadap penderitaan orang lain, solidaritas dan saling membantu penderitaan sesama.

Pada dimensi sosial ini, paling tidak membutuhkan dukungan empat pihak. Pertama, pemerintah. Kesabaran pemerintah dalam menghadapi bencana diwujudkan berupa keasabaran dalam melakukan pemetaan dan antisipasi bencana, penanggulangan, penanganan dan koordinasi saat bencana, serta tindak lanjut perbaikan pasca bencana. Kedua, kedermawan orang-orang kaya. Kesabaran para dermawan dalam menghadapi bencana diwujudkan berupa kesabaran dalam menggalang, mengelola dan memberikan bantuan sesuai yang dibutuhkan. Ketiga, ulama` dan intelektual. Kesabaran ulama` dan intelektual dalam menghadapi bencana diwujudkan berupa kesabaran dalam memberikan bantuan pemikiran dan kontribusi keilmuan maupun pemetaan daerah bencana dan solusi antisipasinya. Keempat, kesabaran warga masyarakat untuk saling membantu dan melakukan perbaikan.

Selain tentang kesabaran, ada sisi lain yang perlu diketahui yaitu tentang kerusakan di darat dan laut yang disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Allah Swt berfirman dalam Surah al_Rum ayat 41 yang artinya: “Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ayat tersebut jelas menyatakan tentang akibat buruk dari perbuatan manusia, yaitu timbulnya kerusakan, baik di daratan maupun lautan. Kerusakan yang timbul adalah sebagai “peringatan” dari akibat perbuatan mereka sendiri. Tujuan dari peringatan Allah tersebut adalah adalah agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Alhasil, tindak lanjut dari sikap sabar kita lanjutkan dengan upaya dan ikhtiar nyata. Kita harus bersahabat dengan alam, menjaga alam sekitar, bukan melakukan eksploitasi dan pengrusakan. Sekecil apapun kontribusi kita, memberikan asa bagi kehidupan yang seimbang dan lebih baik. Wallahu A`lam.

*Penulis adalah Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus, dan juga Pemuda Pelopor Pendidikan kabupaten Kudus 2011.