Artikel

Don`t Judge Female from Her Burqaa

Administrator | Selasa, 26 Juni 2018 - 13:24:24 WIB | dibaca: 195 pembaca

Don`t Judge Female from Her Burqaa
Efa Ida Amaliyah
Dosen IAIN Kudus

Fenomena menarik ketika bom terbaru di Surabaya dan Sidoarjo melibatkan eksekutor bom bunuh diri dari kalangan perempuan. Meskipun demikian, keterlibatan perempuan tersebut masih dipertanyakan, apakah karena keterpaksaan sebagai wujud “patuh” kepada suami, atau kah memang “panggilan” hati.

Peristiwa bom Surabaya bagi menimbulkan stigma negatif terhadap perempuan bercadar (burqo), dan berjenggot serta celana congklang yang secara salah kaprah didentikkan sebagai teroris dan pelaku radikalisme. Dampaknya masyarakat bereaksi secara negatif, memberikan pelabelandan penghakiman. Ini dilakukan sebagai bentuk preventif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang (biasa) dilakukan oleh mereka yang sudah diidentikkan. Melihat reaksi massif yang dilakukan oleh masyarakat, beberapa kalangan memberikan koreksi terhadap salah paham tentang keberadaan mereka.  Salah satu cara untuk menghindari stigma negatif, ada yang melakukan “iklan kasih sayang” dan sudah viral di media sosial, yaitu ada dua perempuan yang menggunakan burqo dan laki-laki yang berjenggot dan bercelana congklang. Mereka membawa papan dengan bertuliskan “Peluk Saya Jika Kalian Merasa Nyaman” “Peluk Aku Jika Kamu Tidak Takut”. Ini sebagai bentuk kampanye bahwa menggunakan burqo tidak selalu identik dengan teroris dan tindakan radikalisme.

Fenomena yang sama juga terjadi di Kudus. Salah seorang perempuan pengguna cadar mendapatkan diskriminasi di area publik ketika mengantar orang tuanya untuk berbelanja di salah satu toko. Dia tidak boleh masuk bahkan untuk parkir tidak diberi ruang sehingga orangtuanya lah yang harus berbicara dengan pegawai toko tersebut dan menerangkan bahwa anaknya bukanlah golongan “teroris” hanya karena menggunakan baju yang identik dengan teroris. Kejadian tersebut berulang setiap ia berada di tempat umum.

Pilihan menggunakan cadar dan menempat sebagai minoritas menurut penuturan dia sempat dikuasai oleh rasa “asing” ketika pertama kali.  Pilihan ini tidak disoal oleh teman-teman yang merasa tidak terganggu dan tidak ada hal yang berubah dari cara bergaul dan berinteraksinya dalam kelompok. Dengan demikian, dia tetap merasakan nyaman berada di komunitas tersebut begitu pula sebaliknya. Pilihan memakai burqo bukan karena didasari ideologi radikal yang selama ini dianggap identik dengan burqo dan celana cingkrang, melainkan sebagai bentuk birrul walidain kepada orang tua.  Dia menganggap bahwa dia belum bisa berbakti dan membalas kebaikan orang tua yang telah berjasa menjaga dan merawatnya selama ini  dengan kebaikan dengan memberi materi yang berlimpah, karenanya hanya dengan menjaga marwah (kehormatan) diri sendiri lah sebagai bentuk balasan kepada orang tuanya dengan menjaga aurat sebagai bentuk ketakwaan individual. Karenanya, kemantapan untuk menggunakan burqo semakin besar.

Niat untuk menggunakan burqo disampaikan kepada orangtuanya, dan awalnya mereka keberatan dengan pertimbangan bahwa yang menggunakan burqo akan diidentikkan dengan kelompok-kelompok radikal, sedangkan background keluarga mereka tidak ada yang radikal. Tetapi dengan pendekatan yang baik dan maksud sebagai ketaatan kepada orang tuanya lah yang membuat orang tua merestui untuk menggunakan burqo, dan menerima resiko apapun, salah satunya komentar dan pelabelan tentang teroris dari masyarakat sekitar.

Pelabelan negatif dan penghakiman terhadap pihak lain yang dianggap berbeda semestinya menjadi pekerjaan rumah dalam masyarakat dewasa ini. Masyarakat Kudus merupakan masyarakat yang inklusif dalam berideologi dan memiliki sikap toleransi. Hal ini karena mereka masih memegang ajaran Mbah Sunan Kudus yang sangat toleran terhadap perbedaan ideologi dan agama, apabila merunut sejarah dengan masyarakat Hindu sebelum Sunan Kudus hadir di Kudus. Nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus diharapkan dijadikan pijakan IAIN Kudus untuk menebarkan nilai-nilai humanis dengan jargonnya Gerbang Ilmiah Islam Nusantara. Masyarakat Kudus dan masyarakat manapun tidak mentoleransi tindakan teror dan kekerasan atas nama agama.