Artikel

Don`t Judge Female from Her Burqaa

Administrator | , 00 0000 - 00:00:00 WIB | dibaca: 879 pembaca

Don`t Judge Female from Her Burqaa
Efa Ida Amaliyah
Dosen IAIN Kudus

Fenomena menarik ketika bom terbaru di Surabaya dan Sidoarjo melibatkan eksekutor bom bunuh diri dari kalangan perempuan. Meskipun demikian, keterlibatan perempuan tersebut masih dipertanyakan, apakah karena keterpaksaan sebagai wujud “patuh” kepada suami, atau kah memang “panggilan” hati.

Peristiwa bom Surabaya bagi menimbulkan stigma negatif terhadap perempuan bercadar (burqo), dan berjenggot serta celana congklang yang secara salah kaprah didentikkan sebagai teroris dan pelaku radikalisme. Dampaknya masyarakat bereaksi secara negatif, memberikan pelabelandan penghakiman. Ini dilakukan sebagai bentuk preventif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang (biasa) dilakukan oleh mereka yang sudah diidentikkan. Melihat reaksi massif yang dilakukan oleh masyarakat, beberapa kalangan memberikan koreksi terhadap salah paham tentang keberadaan mereka.  Salah satu cara untuk menghindari stigma negatif, ada yang melakukan “iklan kasih sayang” dan sudah viral di media sosial, yaitu ada dua perempuan yang menggunakan burqo dan laki-laki yang berjenggot dan bercelana congklang. Mereka membawa papan dengan bertuliskan “Peluk Saya Jika Kalian Merasa Nyaman” “Peluk Aku Jika Kamu Tidak Takut”. Ini sebagai bentuk kampanye bahwa menggunakan burqo tidak selalu identik dengan teroris dan tindakan radikalisme.

Fenomena yang sama juga terjadi di Kudus. Salah seorang perempuan pengguna cadar mendapatkan diskriminasi di area publik ketika mengantar orang tuanya untuk berbelanja di salah satu toko. Dia tidak boleh masuk bahkan untuk parkir tidak diberi ruang sehingga orangtuanya lah yang harus berbicara dengan pegawai toko tersebut dan menerangkan bahwa anaknya bukanlah golongan “teroris” hanya karena menggunakan baju yang identik dengan teroris. Kejadian tersebut berulang setiap ia berada di tempat umum.