Artikel

GENEOLOGI DAN KONTEKSTUALISASI GUSJIGANG

Administrator | Rabu, 19 Februari 2014 - 08:56:14 WIB | dibaca: 1218 pembaca

GENEOLOGI DAN KONTEKSTUALISASI GUSJIGANG
Alternatif Landasan Pacu Transformasi  STAIN  menuju ‘IAIN Sunan Kudus’
Nur Said

Peneliti Filsafat Budaya STAIN Kudus;
Penulis buku Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa (2012)
dan Filosofi Menara Kudus (2013); Email: nursaid@ymail.com


Dalam sebuah forum peluncuran buku saya; Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa  (2010) sempat terjadi perdebatan antara istilah ‘Jigang’ atau ‘Gusjigang’  dalam identifikasi wong (orang) Kudus, meski hal ini tidak bermaksud untuk melakukan generalisasi. Yang  jelas budaya jigang begitu populer dan membanggakan dalam sosiologi masyarakat Kudus. Jigang adalah kepanjangan dari ngaji dan dagang, sementara Gusjigang adalah akronim dari bagus (akhlaknya), ngaji dan dagang. Memang belum jelas siapa dan sejak kapan istilah Gusjigang itu muncul, tetapi dalam sosiologi masyarakat Kudus terutama di Kudus bagian Barat (Kudus Kulon), istilah itu sudah begitu populer bahkan hidup dalam sebagian realitas masyarakat muslim dan kaum sufi di Kudus.

Berdasarkan pengamatan dan investigasi, penulis  waktu itu cenderung menggunakan istilah kedua, sementara sebagian audien lebih condong berpihak pada yang pertama, karena dalam makna spirit Jigang  secara implisit ada makna bagus akhlaknya (gus). Maka dalam paper ini, penulis menggunakan kedua istilah tersebut sesuai konteks bahasan dalam  menyebut citra diri wong Kudus. Paper ini ingin memberikan argumentasi sebuah tesis bahwa budaya (gus) jigang memiliki kesinambungan budaya dengan Sunan Kudus, dengan sebuah analisis semiotik ala Roland Barthes (1967).

Perspektif Kesinambungan Budaya

Salah satu cabang kajian arkeologi ada istilah etnoarkeologi  yang secara khusus ingin menjelaskan gejala yang teramati saat ini dari (data etnografis) untuk memberikan gambaran kemungkinan adanya gejala budaya masa lampau dengan budaya masa kini (Truman Simanjuntak, 2008: 188).  Dalam gejala budaya sarat dengan simbol dan sistem tanda (sign), maka mencari hubungan antara tanda budaya (signifying practices) menjadi sesuatu yang penting dalam kajian budaya. Karangka pikir inilah yang penulis gunakan untuk malacak argumentasi penghubung (bridging arguments) dalam rangka uji sebuah tesis di atas.

Geneologi Budaya Gusjigang

Untuk melacak budaya Gusjigang di Kudus tidak bisa lepas dari proses sejarah berdirinya kadipaten Kudus yang dipelopori oleh Sunan Kudus sejak lima abad yang lalu (956 H./1549 M.) (Solichin Salam, 1977Nur Said, 2010).  Posisi Sunan Kudus dalam konstruksi sosiologis masyarakat Kudus sudah menjadi model figur yang turut mengkonstruksi identitas masyarakat Kudus. 

Maka bukan merupakan kebetulan kalau mereka yang lebih dekat dengan Sunan Kudus di sekitar Menara Kudus teridentifikasi diri dan melebur dalam sebuah subkultur yang kemudian dikenal dengan Kudus Kulon atau sering disebut wong ngisor Menoro.

Sunan Kudus dengan berbagai citra yang melekat pada dirinya tersimpan makna simbolik. Kalau ditelaah dalam bingkai sistem tanda, maka berbagai predikat sunan Kudus yang antara lain dikenal dengan waliyyul ilmy dan juga sebagai “wali saudagar” (Nur Said, 2010: 37-38).  Kebesaran Sunan Kudus sebagai waliyyul ilmy, guru akbar  dan pecinta ilmu sudah tidak diragukan lagi. Diantara penguasaan ilmu yang dibidanginya adalah ilmu ushul, ilmu hadits, ilmu tauhid, fiqh, mantiq, juga ilmu tasawuf (Imran Abu Amr, 1989;  Abdurrahman Mas’ud, 2004: 64-65;  Solichin Salam, 1977; Nur Said, 2013).

Sementara citra Sunan Kudus sebagai wali saudagar didukung dengan jejak sejarah Sunan Kudus yang dalam menjalankan misi dakwahnya tak lepas dari jaringan lokal maupun global dalam dunia saudagar. Dalam berbagai teori masuknya Islam ke Nusantara, dari tiga teori yang populer yakni teori pelopor Islam dari India, Persia atau Arap ketiganya menunjukkan adanya kontak dengan Nusantara tak lain karena urusan perdagangan meskipun akhirnya memperluas untuk urusan dakwah Islam. Demikian juga jejaring dakwah Sunan Kudus juga ditengarahi memiliki hubungan dagang dengan Semenanjung Arab. Bahkan kontak dagang Arab dengan Nusantara sudah terjadi sejak abad pertama Hijriah (Alwi Shihab, 2001: 1-20). Mengapa Islam mudah berkembang di daerah pesisir (coastal area) termasuk di Kudus, salah satu faktornya adalah kesamaan jiwa sebagai saudagar yang memiliki ciri keterbukaan, egaliter, dan mobilitas yang tinggi sehingga mudah menerima perubahan-perubahan (Abdurrahman Mas’ud, 2004: 50-51). Maka tak berlebihan kalau dikatakan bahwa Kudus sejak zaman kewalian sudah menjadi “Kota Internasional” baik dalam jejaring dagang maupun dakwah.

Kedua predikat Sunan Kudus (sebagai waliyyul ‘ilmy dan wali saudagar) tersebut dalam semiotika dapat dilihat sebagai sistem tanda untuk merepresentasikan citra Sunan Kudus secara internal, bukan untuk yang lain (Roland Barthes, 1967;  Roland Barthes, 2007: 11-92). Dengan demikian sebutan waliyyul ‘ilmy dan “wali saudagar” dalam hal ini berposisi sebagi penanda (signified), sedang petanda (signified) akan mengalami sebuah perkembangan makna yang dinamis.

Namun setidaknya dengan sebutan waliyyul ilmy dan “wali saudagar” sebagai penanda, maka citra kepribadian Sunan Kudus yang terbangun adalah, sosok wali yang benar-benar memiliki kedalaman ilmu yang tinggi (“guru besar”).  Sedangkan pada posisi Sunan Kudus sebagai “wali saudagar”, menandai bahwa Sunan Kudus memiliki kepekaan usaha serta etos kerja yang tinggi sehingga kekayaannya melimpah-ruah sebagai pendukung dakwah untuk kemakmuran umat yang dipimpinnya.

Sementara telah lama dikenal sebagai jigang (ngaji dan dagang) atau sebagian ada yang menyebut gusjigang (bagus, ngaji dan dagang), yaitu harus bagus akhlaknya, tekun mengaji dan terampil berdagang. Memposisikan budaya Gusjigang sebagai penanda untuk umat Islam di Kudus memiliki hubungan paradigmatik dengan Kanjeng Sunan Kudus yang waliyyul ‘ilmy dan “wali saudagar”.  Hubungan paradigmatik ini terbentuk dari suatu proses imajinasi paradigmatik antara Sunan Kudus dengan umat Islam di Kudus.  Imanginasi paradigmatik inilah yang pada tataran tertentu menurut Barthes akan melahirkan suatu tanda kesadaran paradigmatik (the paradigmatic counsciesness) yang kemudian mengendap dalam stok tanda yang saling menguatkan.

Penanda Sunan Kudus sebagai  waliyyul ‘ilmy melahirkan stok tanda paradigmatik “varian orang santri” yang gemar mengaji, sementara tanda Sunan Kudus sebagai  “wali saudagar”  juga melahirkan tanda paradigmatik “varian santri dengan etos berdagang”. Maka dengan perspektif ini, gejala budaya paradigmatik yang bisa diserap dari pola hubungan tanda tersebut melahirkan identitas budaya (Gus)jigang yang melekat bagi orang Kudus meski semula tumbuh subur hanya dalam komunitas ‘wong ngisor menoro’ (Kudus Kulon).

Maka seringkali banyak kalangan mengatakan bahwa ‘untuk bisa disebut sebagai orang Kudus, harus bercirikan sebagai santri atau Muslim yang taat sekaligus pedagang yang ulung (Hasyim, 2003), sebagaimana terlihat dalam berbagai jamaah tharikat yang berkembang di Kudus yang dikenal dengan bisnis kaum sufi yang berkembang hingga sekarang (Radjasa Mu’tasyin dan Abdu lMunir Mulknan,  1998; Nur Said, 2010)

Dalam kacamata semiotik hal itu bukanlah kebetulan, tetapi memiliki hubungan paradigmatik yang berproses dalam mekanisme jejaring tanda yang tersembunyi. Keduanya (Sunan Kudus dan orang Kudus) bisa dihubungkan secara paradigmatik karena kedua memiliki “forma”, yaitu suatu kedekatan (close), meski masing-masing memiliki keunikan (distint). Dalam proses komunikasi budaya seperti itulah bisa dicermati bahwa budaya jigang menunjukkan adanya fenomena kesinambungan budaya dengan Sunan Kudus.

Dapat ditegaskan di sini bahwa dalam tradisi jigang memiliki 3 (tiga) core values yaitu: (1) gus (bagus) akhlaknya yang berorientasi pentingnya pembangunan karakter ; (2) ji (ngaji), yang berpihak pada keilmuan; dan (3) gang (dagang), yang mementingkan tumbuhnya semangat enterpreneurship.

Anomali Sintagmatik dalam Kebijakan Publik


What next? Kalau dihubungkan dengan analisis semiotik, itu adalah pertanyaan sintagmatik? Hubungan sintagmatik adalah hubungan aktual yang menunjukkan hubungan suatu tanda (budaya) dengan tanda-tanda lainnya baik yang mendahului atau yang mengikutinya. Untuk menangkap hubungan sintagmatik dalam tanda, menuntut imaginasi fungsional, karena dalam obyak yang diteliti terdapat berbagai unsur tanda yang belum menjadi satu kesatuan dan belum mapan (masih mobile) dalam suatu struktur (Roland Barthes, 1967;  Roland Barthes, 2007: 11-92).

Maka ketika kita sama-sama tahu dan sadar akan sejarah bagaimana pendiri Kudus yang pada periode awal dikenal dengan Kudus Darussalam (Purwadi & Maharsi, 2005: 127-143)  menyemaikan tiga nilai utama yaitu: akhlak mulia, tradisi ilmiah dan enterpreneuship menjadi landasan dalam membangun Kudus, maka sudah menjadi keniscayaan apabila nilai-nilai lama tersebut juga harus dilestarikan dan dikembangkan. Prinsip yang tepat adalah memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.

Kalau para pengambil kebijakan baik di dunia politik maupun pendidikan sudah a-historis (terputus dari sejarah) atau mengabaikan akar budaya Kudus Darussalam yang disemaikan oleh Sunan Kudus, maka hal ini adalah bagian dari anomali kebijakan, yaitu penyimpanagan kebijakan yang terlepas dari hubungan sintagmatik dengan warisan budayanya. Karena itu siapapun pemimpin Kudus atau warga Kudus yang mengabaikan akar budaya Kudus yang sudah menjadi kemakluman publik dalam perspektif semiotika disebut sebagai impolite (Sunardi, 2002: 187)  alias tak sopan atau dalam Bahasa Jawa sering disebut ora ilok (tak elok) maka layak disebut anomali (penyimpangan) alias abnormal. 

Ketika para pengambil kebijakan di Kudus baik dalam politik, ekonomi, budaya maupun pendidikan hanya mengedepankan aspek fisik saja misalnya banyak mambangun gedung atau mall tetapi tidak dibarengi dengan membangun ruang budaya seperti perpustakaan yang mumpuni, meseum, tempat ibadah, pesantren, sekolah/madrasah  (yang membangun  jiwa) juga bagian dari anomali. Hanya membangun gedung olah raga tetapi tidak dibarengi dengan membangun gedung kesenian (untuk olah rasa) juga bagian dari anomali. Hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi mengabaikan pemenuhan kebutuhan rohani juga bagian dari anomali.

Anomali sintagmatik dalam hal ini terjadi ketika para pengambil kebijakan sudah tak mau tahu dengan cikal bakal pendiri Kudus yang mengedepankan keseimbangan antara pembangunan jiwa dan raga, atau meminjam semangat lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” yang dalam tradisi di Kudus dikenal dengan budaya Gusjigang. Masihkah kita tetap bertahan hidup dalam kondisi sosial yang anomali?

Anomali akan menjadi kekuatan ketika kita mengacu pada pandangan Thomas Kuhn dimana dengan anomali tersebut lalu ada kemauan untuk menemukan ilmu baru sehingga menggeser paradigma lama (shifting paradigm) untuk menemukan paradigma baru yang lebih baik dalam mengambil kebijakan (Thomas S. Kuhn, 1970: 52).

Landasan Budaya Transformasi STAIN ke IAIN/UIN Sunan Kudus


Ketika sudah disadari bahwa Gusjigang adalah bagian dari warisan budaya yang memiliki kesinambungan nilai-nilai moral yang dikembangkan oleh Sunan Kudus, maka ada baiknya institusi pendidikan yang dikembangkan di Kudus juga menjadikan spirit Gusjigang sebagai landasan budaya untuk memacu perkembangan STAIN Kudus di masa yang akan datang.

Mengacu pada paparan di atas dalam Gusjigang ada 3 (tiga) nilai moral yang menarik dikembangkan sebagai core values bagi transformasi STAIN menuju IAIN/UIN Sunan Kudus:

1. Gus, yakni buGUSnya akhlak (keutamaan karakter). Nilai yang menonjol dari akhlak dalam gerakan dakwah Sunan Kudus adalah semangat toleransi dan keramahannya dalam menyampaikan nilai-nilai Islam. Adanya realitas sebagian masyarakat Islam Kudus yang enggan menyembelih sapi sehingga tereproduksi dengan budaya kuliner Soto Kudus yang khas dengan Soto Kerbau (bukan soto sapi), tak lepas dari nilai-nilai toleransi Kanjeng Sunan Kudus yang dikisahkan dalam cerita rakyat Sunan Kudus “melarang” menyembelih sapi sebagai pendekatan agar dalam dakwahnya tak melukai masyarakat Hindu (saat itu) yang mensakralkan sapi. Maka dibalik semangkok “soto kebau”  di Kudus sesungguhnya terdapat nilai-nilai toleransi dan ajakan untuk DAMAI. Masih ada juga beberapa saksi bisu tentang semangat toleransi Sunan Kudus mulai dari akulturasi budaya dalam Menara Kudus dan juga ornamen tempat wudlu kuno juga sarat dengan nilai-nilai keramahan dalam Islam.   Maka TOLERANSI atau DAMAI bisa menjadi core value dalam dimensi “Gus” dalam Gusjigang.

2. Ji, yakni gemar mengaJI. Tradisi mengaji sudah menjadi akar budaya masyarakat pesisir  setiap menjelang magrib dan setelah jamaah shalat magrib baik di masjid, langgar maupun mushalla. Bahkan anak-anak kampung di pesisir ini, sore-sore kok tidak mengaji segera beranjak ke langgar atau masjid akan dianggap aib. Hal ini tak lepas dari para pendahulunya yankni para wali yang dikenal dengan kecintaannya dengan ilmu. Bahkan Sunan Kudus secara khusus mendapat predikat sebagai waliyyul ilmi. Dalam epistemologi tauhidi  (non-dikotomik) mengaji tentu tak hanya berorientasi ilmu agama (ukhrawi)  tetapi juga ilmu-ilmu umum (duniawi) yang menuntut potensi olah pikir (kecerdasan) bagi setiap individu. Maka mengembangkan KECERDASAN bisa menjadi core value dalam dimensi “Ji” dalam Gusjigang. Menurut Howard Gardner (1993) kecerdasan adalah kemampuan dalam mengatasi persoalan atau masalah yang dihadapai dengan potensi dan keunikan yang kita miliki sehingga membuat hidup menjadi bermakna dan memberi kontribusi dan solusi bagi dunianya.

3. Gang, yakni terampil berdagang atau dalam bahasa sekarang dikenal dengan semangat enterprenership. Di antara nilai-nilai INTERPRENERSHIP adalah semangat kemandirian, kreatif, inovatif, jujur dan amanah (menjaga kepercayaan). Seorang interprener selalu proaktif untuk berpikir kreatif, inovatif, progresif dan berorientasi masa depan. Maka nilai interprenership bisa menjadi bisa menjadi core value dalam dimensi “gang” dalam Gusjigang

Maka sangat strategis akar budaya Gusjigang yang meliputi 3 (tiga) core values yakni TOLERAN, CERDAS dan INTERPRENERSHIP menjadi landasan pacu transformasi STAIN menuju IAIN/UIN Sunan Kudus ke depan. Sehingga kalau ditanya bagaimana profil alumni IAIN/UIN Sunan Kudus yang selaras dengan distingsi akar budaya masyarakat pesisir,  maka jawabannya adalah seorang sarjana dan cendekiawan muslim yang toleran, cerdas dan interprener. Meskipun menurut Kang Sobary (2013: iv) kecendekiawanan hampir tak ada hubungannya dengan gelar akademis pada tingkatan manapun. Ciri kecendekiawanan terletak pada bentuk-bentuk komitmen, sifat pemikiran, dan pergolakan batin dalam diri orang bersangkutan, dalam usahanya memberikan jawaban atas persoalan-persoalan rumit yang berhubungan dengan alam semesta, Tuhan, metafisik, filsafat, dan manusia. Pergolakan batin itu mendalam, dan menimbulkan kegelisahan terus menerus karena setiap kali ditemukan suatu jawaban, maka jawaban itu segera berubah lagi menjadi suatu pertanyaan baru, yang harus dijawab lagi. Dari setiap pertanyaan bukannya lahir suatu jawaban, melainkan lahir suatu pertanyaan baru dan cendekiawan hidup di dalam diealektika pemikiran seperti itu secara terus menerus.  Maka sarjana yang cendekiawan akan menjadi tantangan tersendiri bagi transformasi STAIN menuju IAIN/UIN. Semangat seperti ini tentu sejalan dengan Islam transformatif yang menyeimbangkan antara teks dengan konteks;  teori dengan praktek; dan kesalehan individual dengan sosial sebagaimana diusung oleh STAIN Kudus hingga sekarang.

Ketiga core values yakni aspek toleransi sebagai basis akhlak (ranah dzikir), kecerdasan sebagai entitas keilmuan (ranah pikir) dan interprenership  sebagai (ranah ikhtiar) itu kemudian bisa dijadikan sebagai alternatif  “ide besar kurikulum” atau sebagai grand consept  visi IAIN/UIN Sunan Kudus  yang memberikan ciri khas dari Islam transformatif yang diusung oleh STAIN Kudus untuk kemudian direkonstruksi menjadi dokumen-dokumen kurikulum di setiap fakultas atau jurusan mulai dari visi jurusan atau fakultas, pengembangan silabus setiap mata kuliah hingga Satuan Acara Pengajaran (SAP) yang menyangkut tujuan, isi, metode hingga evaluasi setiap mata kuliah di semua fakultas atau jurusan. Ketika dokumen kurikulum sudah terdesain secara visioner dengan wawasan global dan berakar pada local genius bukan berarti selesai. Dokumen kurikulum tak berarti apa-apa tanpa ada implementasi yang sejalan dengan visi besar lembaga pendidikan tersebut.

Maka “inovasi” menjadi sebuah kebutuhan untuk implementasi kurikulum di setiap institusi pendidikan.  Dengan kata lain proses pembelajaran tidak bisa hanya mengandalkan rutinitas akademik yang menjemukan, tetapi perlu terobosan-terobosan baru yang progresif dan kontekstual dengan open minded yang siap menerima kearifan darimanpun datangnya, mulai dari khazanah keilmuan timur hingga intelektualisme barat.   Inilah tantangan berat transformasi dari STAIN menuju IAIN/UIN Sunan Kudus yang mau tidak mau harus dihadapi  sekarang dan di masa yang akan datang. Semoga kita semua mendapat kemudahan. Wallahu a’lam.***


Daftar Pustaka

Abu Amr, Imran, Riwayat Sunan Kudus, al Sayyid Ja’fat Shodiq, (Semarang: Pustaka Al ‘Alawiyah, 1989).
Barthes, Roland, Elements of Semiology, (London: Jonathan Cape, 1967).
Barthes, Roland, Mythologies, (Hill and Wang, New York,1983)
Barthes, Roland, Petualangan Semiologi, Pent. Stephanus Aswar Herwinarko, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007)
Gardner, Howard, Multiple Intelligences: The Theory in Practice,(1993)
Kuhn, Thomas S., The Structure of Scientific Revolutions, Second Edition (Chicago: The University of Chicago Press, 1970)
Mas’ud, Abdurrahman, MA., Ph. D., Intelektual Pesantren; Perhelatan Agama dan Tradisi, (Yogyakarta: LKIS, 2004)
Mu’tasyin, Radjasa dan Mulknan, AbdulMunir,  Bisnis Kaum Sufi, Studi Tharikat Dalam Masyarakat Industri, 
      (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,  1998).
Purwadi & Maharsi, Babad Demak, Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Jawa, (Yogyakarta: Tunas Harapan, 2005)
Said, Nur, Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa (Brillian Media Utama, 2010)
Said, Nur, Filosofi Menara Kudus, Pesan Damai untuk Dunia, (Kudus: Brillian Media Utama, 2013).
Salam, Solichin, Kudus Purbakala Dalam Perjuangan Islam, (Kudus: Menara Kudus, 1977).
Shihan, Alwi, Islam Sufistik; Islam Pertama dan Pengaruhnya hingga kini di Indonesia, (Bandung: Mizan, 2001)
Simanjuntak, Truman, Prof. Ris. Dr. APU. , dkk [eds.]. Metode Penelitian Arkeologi. (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi
       Nasioanl, Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2008)
Sobary, M.,  “Suara Kaum Cendekiawan dari Daerah”, dalam Pengantar buku, Zamhuri. Republik Kretek, dari Kudus untuk Indonesia.
       (Kudus: Badan Penerbit UMK, 2013).
Sunardi,  ST.  ,  Semiotika Negativa, (Yogyakarta: Kanal, 2002)