Artikel

HAJI DAN KETULUSAN Oleh : Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd

Administrator | Kamis, 24 Agustus 2017 - 14:51:09 WIB | dibaca: 1151 pembaca

HAJI DAN KETULUSAN

Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd

Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus

 

Para haji adalah calon-calon penghuji surga yang nikmatnya abadi, maka mereka adalah para dermawan dan dermawati yang ramah dan suka memberi, bershadaqah, berinfak, berzakat, dan suka menolong orang lain. Tutur katanya lembut tidak suka marah apalagi kasar, bengis, dan memfitnah. Perangai dan tata lakunya menjadi contoh. Kebijaksanaan dan akhlaknya mulia menjadi cermin bahwa mereka adalah haji mabrur, yang Allah menjajikan surga untuknya abadi

 

Tahun 2017 merupakan tahun istimewa pelaksanaan haji bagi jamaah dari Indonesia. Selain karena haji merupakan ibadah istimewa, juga karena kembalinya kuota haji 80% akibat pembangunan masjidil haram menjadi 100% sehingga jumlahnya 221.000 jamaah. Pemerintah Arab Saudi menambah 10.000 jamaah lagi pula. Suatu kabar gembira bagi umat muslim Indonesia yang mengalami long waiting list untuk bisa berhaji. Keistimewaan lain mungkin karena layanan ibadah haji tahun 2017 mengalami peningkatan, misalnya kualitas pemondokan yang dipastikan semuanya hotel berbintang dan konsumsi makan yang semakin baik mendekati citra rasa masakan Indonesia, baik untuk makan selama tinggal di Makkah al-Mukarramah maupun di al-Madinah al-Munawwarah.

Tempo dulu, layanan haji yang kurang baik dianggap aib untuk diceritakan pada orang lain sehingga kurang ada perbaikan layanan. Dewasa ini, layanan penyelenggaraan ibadah haji oleh pemerintah bagi jamaah haji Indonesia bersifat terbuka dan mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, khususnya lembaga tinggi negara dan masyarakat luas. Akibatnya, pelayanan haji Indonesia semakin mendapat peningkatan mutu memadai.

Tapi ada yang jauh lebih penting dari pelayanan haji, yaitu esensi ibadahnya yang sangat istimewa. Haji sebagai rukun kelima dari rukun Islam menempati peran penting sebagai penyempurna keislaman. Setelah orang bersyahadat, shalat, membayar zakat, dan berpuasa, maka haji menjadi penentu kesempurnaan. Prosedur dan tata caranya jauh berbeda dengan ibadah yang lain. Haji menjadi impian dan cita-cita kaum muslimin di seluruh dunia karena mereka benar-benar berislam. Haji menjadi ibadah khusus yang selalu membekas dan teringat oleh orang yang telah melaksanakannya. Haji juga menjadi sistem sosial baru bagi komunitas yang membentuk ikatan persaudaraan haji Indonesia, atau organisasi semacamnya. Haji benar-benar istimewa di lubuk hati muslimin dan muslimat yang taat pada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya. Haji adalah ketulusan untuk memenuhi panggilan Allah, untuk bersama menghidupkan kembali syariat Baginda Rasul Muhammad SAW yang melanjutkan syariat Nabi Ibrahim AS. Haji adalah ketulusan untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, ketulusan untuk meninggalkan kampung halaman dan keluarga, bahkan meninggalkan semua yang selama ini dipunyai sehingga jamaah haji laki-laki hanya mengenakan dua lembar kain putih. Sekali lagi, ketulusan jamaah haji itu bukan basa-basi karena itu orang yang berserah diri di padang Arafah disaksikan para malaikat dan dibanggakan oleh Allah.

Ketulusan adalah kunci, meski berdesak-desakan dengan jutaan jamaah dari seluruh dunia, jamaah haji Indonesia tetap bersabar dan bersemangat melaksanakan semua rukun, wajib, sunnah haji dan ibadah-ibadah lainnya di tanah suci. Niat haji dan umroh di miqat, berjalan menuju Kakbah di Baitullah, thawaf dengan mengelilingi kakbah 7 kali tentunya berjubel-jubel, sa’i antara bukit shafa dan marwa yang menguras tenaga, wuquf di padang Arafah, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, menyusuri jalan-jalan berkilo-kilo meter untuk melontar jumroh, menahan diri dari semua yang membatalkan ataupun merusak ibadah haji, membayar denda dengan menyembelih kambing, tahallul, berkurban di hari Raya Idul Adha dan tasyriq, semuanya adalah wujud dari ketulusan jamaah haji.

Haji adalah ketulusan, seseorang yang datang dari haji, sesuai tradisi di Indonesia, maka mereka mendapat panggilan haji bagi laki-laki atau hajjah bagi perempuan. Mendapat panggilan haji atau hajjah, tentunya kebanggaan, tetapi satu hal yang harus dicatat, panggilan itu tidak boleh mengganggu ketulusan berhaji. Andai saja, seseorang sudah biasa di panggil haji atau hajjah, dan kemudian suatu saat ada orang lain yang tidak memanggil haji atau hajjah, maka tidak sepatutnya dia tersinggung apalagi bersedih hati. Panggilan haji hanyalah tradisi biasa, tidak boleh menjadi sebab riya atau pamer atas ibadah hajinya. Satu lagi, Para haji adalah calon-calon penghuji surga yang nikmatnya abadi, maka mereka adalah para dermawan dan dermawati yang ramah dan suka memberi, bershadaqah, berinfak, berzakat, dan suka menolong orang lain. Tutur katanya lembut tidak suka marah apalagi kasar, bengis, dan memfitnah. Perangai dan tata lakunya menjadi contoh. Kebijaksanaan dan akhlaknya mulia menjadi cermin bahwa mereka adalah haji mabrur, yang Allah menjajikan surga untuknya abadi, diiringin doa Allahummaj’al hajjana hajjan mabruran wa sa’yan masykuran wa dzanban maghfuran wa ‘amalan shalihan maqbulan watijaratan lan tabuur, amin.