Berita

HMJ Ushuluddin STAIN Kudus Gelar Seminar Meneladani Islam Jawa Sosrokartono

Administrator | Rabu, 11 April 2018 - 08:41:09 WIB | dibaca: 834 pembaca

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ushuluddin STAIN Kudus menggelar acara bertajuk Seminar Filologi Meneladani Islam Jawa Sosrokartono. Seminar yang dihadiri oleh tiga narasumber ini merupakan rangkaian acara yang bertujuan untuk mengangkat nilai-nilai kultur lokal (terutama Islam Jawa) yang selama ini jarang diperbincangkan dalam forum-forum kemahasiswaan. Kegiatan yang dilakukan oleh HMJ Ushuluddin ini merupakan langkah cerdas untuk mempromosikan nilai-nilai budaya dan Islam. Kegiatan ini merupakan bukti bahwa STAIN Kudus berada ditengah-tengah masyarakat untuk mengkampanyekan Islam yang moderat dan dapat menerima semua kalangan.

Kegiatan yang dihelat di Aula Lantai 3 Gedung Rektorat STAIN Kudus ini membedah nilai-nilai Islam Jawa yang diteladani dari sosok Sosrokartono. Nur Said, salah satu dosen di Prodi Aqidah dan Filsafat Islam STAIN Kudus ini menuturkan bahwa Sosrokartono merupakan inspirator bagi siapapun yang berada di sekelilingnya, termasuk RA Kartini. Dosen STAIN Kudus yang juga aktif sebagai budayawan ini menambahkan bahwa sikap Sosrokartono yang membumi menjadikannya seorang yang jarang disorot oleh masyarakat. Beliau tidak membutuhkan gelar ataupun apresiasi untuk perjuangannya.

Selain Nur Said, HMJ Ushuluddin juga menghadirkan H. Temu Sunarto (juru kunci makam RMP. Sosrokartono) dan R. Yudi Prastiyawan (sejarawan). Dalam forum ini Yudi Prastiyawan juga menegaskan bahwa sosok Sosrokartono adalah pejuang yang memegang teguh nilai-nilai Islam Jawa.

“Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa adji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorke. Itu semua adalah nilai filosofis dari Sosrokartono yang bisa kita teladani maknanya,” sambung Yudhi.

RMP Sosrokartono merupakan sosok jenius yang hadir dibumi Nusantara dengan kontribusi yang luar biasa. Beliau merupakan mentor dari Presiden RI yang pertama Ir. Sukarno. Beliau adalah kakak dari pahlawan kaum wanita RA Kartini yang mampu menguasai 30 macam bahasa. Meskipun puluhan tahun hidup di benua biru namun beliau tetap memegang teguh ajaran Islam dan Jawa. Hal Inilah yang wajib untuk diteladani generasi saat ini, sehingga kita tidak akan pernah kehilangan akar dan karakter khas Nusantara. (NA)