Berita

IAIN KUDUS, SIAP MENGAWAL ISLAM NUSANTARA

Administrator | Senin, 30 Oktober 2017 - 00:00:00 WIB | dibaca: 428 pembaca

Gegap gempita peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dan Hasi Sumpah Pemuda baru saja diperingati di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Pesta dan seremonial sudah selesai. Saatnya karya nyata. Apa yang harus dilakukan pemuda dan para santri generasi bangsa menghadapai tantangan global yang tak terbendung lagi.

Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Kudus dengan kolaborasi dengan Wadah Gerakan Santri Indonesia (WG SANINDO) dan juga Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kudus menggelar kegiatan Pesantren Harmoni Srawung Kampung (PHSK) dengan tema: “Plan of Action Santri Indonesia” pada Ahada (29/10/207) untuk menemukan jawaban tersebut.

Dalam sambutan pembukaan Dr. Supaat, M.Pd., Waket I STAIN Kudus yang tak lama lagi menjadi IAIN Kudus menegaskan bahwa kegiatan yang mengintegrasikan budaya akademik dengan masyarakat perlu kita dukung. Apalagi yang menyangkut penguatan karakter santri sebagai penjaga kultur Islam nusantara yang moderat. Menanggapi kesiapan STAIN Kudus transformasi menjadi IAIN, Waket 1 menegaskan IAIN Kudus nantinya siap menjadi gerbang sebagai pengawal Islam nusantara yang rahmatan lil’alamin. “Maka setiap unit kegiatan akademik perlu melakukan pengarusuatamaan Islam yang ramah baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun kultur akademik di luar kelas”, demikian tegasnya.

Acara yang diselenggarakan di Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah Kudus tersebut dihadiri ratusan santri, mahasiswa, dosen dan sejumlah tokoh masyarakat. Dari kalangan santri antara lain anggota WG SAININDO, utusan dari berbagi pesantren, juga jamaah Ma’iyah Santrinya Cak Nun. Hadir juga sejumlah aktivis mahasiswa dari beberapa kampus sehingga menjadikan forum ini begitu beragam dan kaya perpsektif.

Menurut Nur Said, Kepala PSG STAIN Kudus sebagai penyelenggara mengatakan melalui PHSK, PSG ingin mempelopori gerakan kembali ke kampung. Di balik kehidupan kampung menyimpan kekayaan nilai-nilai kearifan lokal mulai dari kesederhanaan, kebersamaan dan juga keharmonisan. “Kebesaran kampus tak lepas dari masyarakat, maka perlu upaya-upaya terobosan yang mengintegariskan kegiatan akademik kampus dalam komunitas masyarakat sebagai upaya membangun hubungan harmonis antara kampus dengan masyarakat. Di kampung-kampung itu juga tradisi santri hidup secara nyata”, tandasnya.  

Hal ini diamini oleh Fajar Nugroho, salah satu narasumber yang aktif di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kudus. Melalui pengalamannya berguru dengan KH Sahal Mahfud, ia menegaskan pentingnya gerakan santri mendatang berorientasi pada perubahan bukan sekedar meriah seremonial. Maka pendampingan berbasis aksi yang berkesinambungan menjadi penting sebagaimana diteladankan oleh para santri Pondok Mathali’ul Falah Kajen asuhan Rama KH Sahal Mahfud. “Kalangan akademisi, mahasiswa dan santri juga bisa melakukannya melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau progaram alternatif seperti PHSK ini. Kita bisa.”, kata Fajar yang disambut tepuk tangan meriah.

Yang tak kalah menarik adalah paparan Siti Khadijah Al Hadizah sebagai pengasuh Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah Kudus. Ia merasa tersanjung karena diberi kesempatan bicara mewakili suara perempuan. “Saatnya Nyai pesantren bicara. Tak sekedar sebagai sebagai komentator tapi juga sebagai aktor”, katanya dengan semangat.  “Dari pengalaman yang ada menunjukkan Nyai (santri perempuan) dalam hal-hal tertentu lebih peka dalam urusan kelola pesantren. Maka mohon maaf para Kyai juga perlu mendengar suara Nyai agar gerakan santri mendatang lebih terarah, tidak pincang”, tambahnya yang disambut gemuruh tepuk tangan terutama oleh santriwati.

Sementara KH Sofiyan Hadi, sebagai motivator Mawaddah Center dan narasumber penutup merasa senang atas bangkitnya generasi muda santri sebagaimana lahirnya WG SININDO yang akan menindaklanjuti hasil saresehan ini menjadi aksi nyata. “Sudah waktunya santri bangkit, maka Indonesia akan jaya”, demikian pesan utamanya.

Acara diakhiri dengan dialog terbuka dari para hadirin yang ada. Dalam dialog tersebut dapat disimpulkan bahwa generasi muda santri menunjukkan adanya semangat yang membara. Hanya membutuhkan mentor-mentor yang bisa mendengar, maka gerakan santri tersbut akan merubah dunia. ***(ORSA).