Artikel

Integrasi Ilmu sebagai Moral Hakiki al-Qur`an

Administrator | Kamis, 21 Agustus 2014 - 10:20:43 WIB | dibaca: 1014 pembaca

Integrasi Ilmu sebagai Moral Hakiki al-Qur`an

 oleh : Mas`udi

A. Menguak Hakikat Kewahyuan al-Qur’an

Al-Qur’an secara eksistensi merupakan pedoman utama kehidupan kaummuslimin. Semua aspek kehidupan mereka secara menyeluruh telah dirumuskandalam al-Qur’an. Di atas kenyataan inilah, al-Qur’an meneguhkan eksistensinyamelalui QS. Al-Baqarah, [2]:1-2 (Alif laam miim. Dzaalika al-Kitabu la Raibafiih. Hudan Lil-muttaqiin) “Alif laam miim. Kitab al-Qur’an ini tidak adakeraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Perumusan ayat iniseutuhnya mengarahkan positioning al-Qur’an sebagai fakta yang mustahildibantah bagi keberlangsungan kaum muslimin. Penafikan atas keberadaannyaakan menganlienasi kaum muslimin itu sendiri ke ruang keberagamaan berbedadan berorientasikan keluar dari doktrin keislaman. Mengetengahkan eksistensi dirinya di tengah-tengah kehidupan kaummuslim, al-Qur’an memberikan diferensiasi hukum kepada realitas hukum yangjelas (muhkamat) dan bersandar kepada hukum interpretif (mutasyaabihaat).hukum yang bersandar kepada ayat-ayat muhkamat adalah ayatayatyang bila diinterpretasikan semua orang, khususnya kaum muslim akanmelahirkan kesimpulan yang sama. Sedangkan yang mutasyaabihat adalah ayatayatyang multi-interpretatif, yang bila diinterpretasikan oleh banyak orang bisamelahirkan kesimpulan yang berbeda (Afif Muhammad, 1998:49). Dasar kewahyuan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi segenap umat Islammengindikasikan keberadaannya untuk dijadikan pedoman hidup mereka.
Tanpamengenyampingkan keberadaan al-Qur’an yang berhaluan kepada kenyataan ayat-ayatnya yang bersifat muhkamat dan atau mutasyaabihat, al-Qur’an tetapsepenuhnya duduk dalam kelayakannya untuk dipegang dan dipedomani olehkaum muslim. Keyakinan kaum muslim atas keberadaan al-Qur’an sebagailandasan utama kehidupan mereka akan menjadikan kehidupan masing-masingberada dalam domain hakiki doktrinasi keislaman. Namun sebaliknya, di saatsegenap kaum muslim menepis akan hakikat keberadaan ini, maka sepenuhnyamereka akan jauh dan mustahil mewujudkan pesan-pesan suci al-Qur’an secarautuh dan menyeluruh.

B. Al-Qur’an di antara Dinamika Manusia Modern
Dalam pertumbuhan kajiannya, al-Qur’an memiliki porsi signifikan perwujudannya. Hal ini bersandar kepada semakin meningkatnya semangatkeagamaan masyarakat modern sebagai akibat dari keberadaan globalisasi yangsemakin menegangkan. Kenyataan ini pula bisa diaktualisasikan sebagai titikbalik kesadaran manusia modern yang telah merasa jemu dengan dinamikakehidupan masa lalu mereka. Sebagai faktanya, Seyyed Hossein Nasr (19830menjelaskan bahwa manusia modern telah jauh dari sumbu hakikat kebenarankehidupan. Primordialitas agama telah terkikis dari kehidupan mereka akibat darimodernitas yang semakin mendesak dan menggiring ke arah globalisasi.
Berbagai ironi dari dinamika kehidupan manusia modern menjadikanmereka teralienasi dari kenyataan sosial yang semestinya mereka wujudkan.Manusia sebagai human socious secara niscaya perlu menyandarkan dirinyakepada penentu kehidupan “Tuhan” sebagai Pemilik dan Pengatur ruh kehidupan itu sendiri. Untuk itulah, menyikapi semua kondisi ini perlu kesadaran setiaporang bahwa kembali kepada al-Qur’an sebagai pedoman hidup adalahkeniscayaan. Eksistensi al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan umat manusia. Al-Qur’anal-Karim diturunkan Allah swt., kepada Nabi Muhammad saw., agar disampaikan untuk pertama kalinya kepada suatu masyarakat yang karena dekadennya disebutdengan masyarakat Jahiliyah. Kepada masyarakat Jahiliyah inilah al-Qur’andihadapkan dan dipergumulkan dan tidak memakan waktu lebih dari dua puluhlima tahun, ia telah berhasil merombak masyarakat tersebut menjadi masyarakatyang baru sama sekali. Bahkan Rasulullah saw., sendiri dalam sebuah hadis yangdiriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, menyebut periode yang diisi oleh generasimuslim pertama ini sebagai khair al-qurun (Kurun terbaik sepanjang sejarahIslam) (Afif Muhammad, 1998:87). Diturunkannya al-Qur’an di tengah-tengah kehidupan masyarakat Arabmerupakan sebuah petisi bagi setiap pribadi muslim. Hal ini sebagaimanatergambar dalam deskripsi di atas bahwa dekadensi masyarakat Arab menjadialasan sederhana diturunkannya Kitab Suci ini.
Moralitas masyarakat yang telahjauh dari sumbu utama ajaran-ajaran Rabbani menjadikan kitab ini pengentas bagikehidupan mereka. Masyarakat diangkat derajat kehidupannya untuk sampaikepada titik inti ruh ketuhanan sehingga tercipta kesetaraan. Realitas ini menjadinilai-nilai luhur yang diprioritaskan Islam demi terbentuknya masyarakat yangharmonis dan menghargai keanekaragaman.  Berbagai perkembangan positif di era keemasan Islam secara niscaya perludihadirkan kembali ke tengah-tengah generasi masa kini. Hal ini menjadi realitasyang sangat penting untuk memberika pengertian kepada masing-masing bahwaIslam telah menyodorkan aneka kegemilangan pengetahuan terhadap masyarakat.Sebagaimana catatan dari Emil Salim dalam Hery Sucipto, ed., (2007:129)dijelaskan bahwa kemajuan agama Islam pada abad lampau dipelopori oleh ulama yang banyak membaca, menulis, dan berfikir. Jadi, akal dikembangkan serentakdengan pengembangan kalbu. Ada balance (keseimbangan) antara akal dan kalbu.Di antara keseimbangan ini muncullah beberapa perkembangan keilmuan yangmengarahkan studi-studi keislaman sebagai embrio terhadap pemenuhan nilainilaisosialdimasyarakat.

C. Al-Qur’an sebagai Integrator Keilmuan
Kehadiran Islam dengan pedoman sucinya kepada al-Qur’an secara hakikimenjadikan kitab ini sebagai muara dari pelbagai dinamika kehidupan dimasyarakat. Hal ini sebagaimana bisa dicontohkan dari keberperanan al-Qur’anterhadap integrasi keilmuan. Nazaruddin Umar (2007:134) mencatat padahakikatnya reintegrasi ilmu pengetahuan telah muncul sejak lahirnya Islam. Ayatal-Qur’an yang pertama diturunkan ialah Iqra’ bi ism Rabbik al-ladzi khalaq.Khalaq al-insan min ‘alaq. Iqra’ wa Rabbuk al-Akram. Al-Ladzi ‘allama bi slqalam.‘Allam al-insan ma lam ya’lam. (Bacalah dengan (menyebut) namaTuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpaldarah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia)dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidakdiketahuinya). Nazaruddin Umar mencatat bahwa ayat pertama tersebutmemberikan bukti bahwa dalam Islam, perintah membaca sebagai simbol dariurgensi ilmu pengetahuan harus diintegrasikan dengan wawasan ketuhanan.Pembacaan manusia terhadap eksistensi Tuhan secara niscaya mustahildiwujudkan ketika dirinya tiada menghadirkan perpsepsi tentang alam sebagaidalil wujud-Nya. Membangun perspektif individu tentang alam niscaya dipenuhiketika masing-masing pribadi mampu menguak intisari hakiki dari nilai-nilaialamiah kehidupan.
Perintah integaratif pengetahuan manusia antara nilai dasariah ketuhanandan nilai-nilai alamiah kehidupan telah dijabarkan oleh Rasulullah saw., denganmenjabarkan wahyu pertama yang diterimanya dengan memperkenalkanintegralisme keilmuan sejati dengan pemaduan secara harmonis antara unsur rasionalitas, unsur moralitas dan seni ke dalam tiga landasan ilmu, yaitu ontologi,epitemologi, dan aksiologi. Puncak peradaban manusia paling menakjubkanmemang terjadi di masa Rasulullah saw. Ia berhasil membangun landasankeilmuan yang integratif antara ilmu-ilmu rasional-analitis dan ilmu-ilmu moralspiritual(Nazaruddin Umar, 2007:134).
Keberadaan ini pula pada akhirnya mendudukkan Islam dengan al-Qur’an sebagai lokomotif peradabannya lahirsebagai peradaban baru yang menguasai peradaban dunia. Tidak dapat dinafikkan,persinggungan Islam dengan berbagai struktur peradaban yang mengitari dari                                      sebelum dan sesudah zamannya memberikan filter positif terhadap perkembanganIslam sendiri. Islam semakin menemukan atmosfer peradabannya sampai dizaman kenyataannya sampai menduduki zaman keemasan di antara abad ke 8 – 12Masehi.  

DAFTAR PUSTAKA
Afif Muhammad, 1998. Islam Mazhab Masa Depan Menuju Islam Non-Sektarian.Bandung: Pustaka Hidayah.Hery Sucipto, ed., 2007. Islam Madzhab Tengah Persembahan 70 Tahun TarmiziTaher. Jakarta: Grafindo.Departemen Agama Republik Indonesia, 1989. Al-Qur’an dan Terjemahnya.Semarang: Al-Waa’ah.