Artikel

Islam dan Paradigma `Kita` Oleh : M. Saekan Muchith

TIPD STAIN Kudus | Jumat, 16 Desember 2016 - 10:25:05 WIB | dibaca: 545 pembaca

Islam dan Paradigma `Kita`
M. Saekan Muchith
 

Dalam dunia percakapan dan juga bahasa tulisan dikenal empat kata yaitu `aku atau saya`, `kamu atau saudara`, `kami` dan `kita`. Aku atau saya bermakna personal atau pribadi, makna atau maksudnya ditujukan kepada pribadi untuk satu orang saja. Kata saya tidak berlaku untuk orang banyak.  Sedangkan kamu atau saudara bermakna orang lain diluar orang yang berkata dan untuk personal saja yaitu satu orang. Kalau mendengar kata kamu berarti ditujukan kepada orang diluar yang bicara dan hanya untuk satu orang. Kata kami dimaksudkan untuk menerangkan sekelompok orang yang didalam kelompok tersebut. Kata kami tidak untuk kelompok yang diluar kelompoknya. Ketika ada sekelompok orang mengatakan `kami mohon pamit` berarti yang meminta pamit hanya kelompok mereka yang satu rombongan, kelompok lain diluar rombongannya tidak termasuk. Dengan demikian, kata kami memiliki makna bersifat kelompok tetapi hanya untuk kelompoknya sendiri, tidak untuk kelompok lainnya. `Kita` memiliki makna kelompok dan menyangkut semuanya, baik yang berbicara maupun yang diajak berbicara. Kata `kita` bersifat unity-kolektif artinya walaupun menyangkut kelompok tetapi tetap satu kesatuan.

Islam sangat menjunjung tinggi pentingnya saling kenal diantara sesama manusia. Kesediaan untuk saling mengenal akan melahirkan rasa saling memiliki, saling menghormati, saling menghargai satu dengan lainnya. Firman Allah SWT, `Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadilan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha Mengenal` (QS. Al-Hujuraat ; 13).

Islam sangat memberi ruang sangat luas bahkan mengharuskan kepada umatnya untuk bersikap dan perperilaku berdasarkan filosofi `kita`. Paradigma `kita` mengandung kebersamaan, persamaan hak, persatuan dan satuan, saling menghargai dan saling menghormati tanpa melihat suku, agama, ras dan golongan tertentu. Apa yang dirasakan sakit oleh orang lain juga dianggap atau dirasakan sakit, apa yang dirasakan bahagia juga dirasakan bahagia oleh yang lainnya. Paradigma `kita` tidak menjadikan masyarakat terkotak-kotak,  walaupun berbeda dalam pendapat atau pikiran tidak menyebabkan pertentangan atau konflik secara vertikal maupun horizontal. Hakekat muslim adalah satu yang tidak boleh dipisahkan oleh siapapun dan apapun. Dalam kondisi apapun muslim hatus tetap bisa bersatu dan juga bisa menyatukan umat lain di luar muslim. Sesuai firman Allah SWT, `Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaiki hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat` (QS. Al- Hujuraat; 10). Salah satu tugas umat muslim selain mewujudkan persatuan dan kesatuan diantara manusia, juga harus mampu mewujudkan kedamaian dan juga mampu mendamaikan saudaranya baik saudara sesama muslim maupun non muslim. Apa lagi bangsa Indonesia adalah negara pancasila yang memiliki agama lain selain muslim harus juga mampu menjadi contoh bagi manusia lainnya. Sesuai dengan tujuan awal Islam datang ke muka bumi sebagai pemberi rasa aman, nyaman dan damai bagi apa yang ada di alam semesta ini. Islam harus memberi kedamaian tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada binatang, tumbuhan dan alam seperti tanah, air dan api. Di sinilah kehebatan Islam sebagai agama yang memberi rahmah bagi semesta alam.

Paradigma `kita` akan melahirkan diantara sesama manusia di dalam kehidupan masyarakat saling menjaga posisinya masing masing, tidak saling hina, tidak saling hujat apa lagi saling memfitnah, karena jika diantara manusia menghujat pihak lain itu sama dengan menghujat dirinya sendiri. Jika menghina pihak lain juga berarti menghina dirinya sendiri, jika memfitnah pihak lain juga berarti memfitnah dirinya sendiri. Dalam hadis dijelaskan bahwa Islam itu ibarat satu tubuh, jika sebagian tubuh sakit maka akan merasakan sakit semuanya, sebaliknya jika sebagian yang lain sehat maka akan dirasakan oleh semua tubuhnya.

Allah SWT dalam firman-Nya sangat jelas melatang manusia saling menghujat dan memfitnah. `Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan sekumpupan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat mara mereka itulah orang-orang yang dzalim.` ( QS. Al-Hujuraat; 18).

Paradigma `kita` akan mampu menjauhkan sifat atau karakter manusia yang sering buruk sangka, curiga negatif (su'udzan) kepada siapapun, apa lagi kepada kelompok yang beda agama, suku, warna kulit dan golongan. Padahal Islam tidak membolehkan diantara manusia atau masyarakat saling curiga dan saling mencari-cari kesalahan atau aib yang lain. Karena perbuatan tersebut, akan menimbulkan konflik berkepanjangan dalam kehidupan sosial. Firman Allah SWT, `Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba sangka (curiga) karena sebagian curiga itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyanyang.` (QS. Al-Hujuraat; 12).

Paradigma `kita` bermakna agama atau keyakinan dan bermakna kebangsaan yaitu bangsa Indonesia. Paradigma `kita` dalam konteks agama berarti sebagai sesama muslim harus tetap menjaga keutuhan, saling menghargai dan menghormati. Sangat tidak tepat sesama muslim saling menjatuhkan saling mencari-cari kesalahannya. Menuduh sesat, menuduh kafir, menudih munafiq dan menuduh musyrik kepada sesama muslim jelas-jelas tidak bisa dibenarkan. Predikat kafir, musyriq, munafiq itu sebenarnya hanya kewenangan Allah SWT yang tidak diberikan kepada manusia. Sesama manusia yang seagama tidak tepat melakukan tuduhan tuduhan yang itu menjadi  kewenangan Allah SWT.

Paradigma `kita` dalam konteks berbangsa dan bernegara mengandung makna bahwa sebagai bangsa Indonesia harus selalu menjaga keutuhan kebhinekaan yang berbeda beda agama, suku, warna kulit dan golongan atau organisasi. Diantara golongan, suku, warna kulit dan agama tidak boleh mengklaim memiliki negara Indonesia. Umat Islam yang mayoritas juga tidak boleh mengklaim memiliki negara Indoensia, sehingga umat Islam menghendaki untuk memberlakukan syariat Islam di bumi Indonesia. Walaupun agama mayoritas, umat Islam tidak diperbolehkan menuntut hak mayoritas atas lainnya. Kita sebagai bangsa Indonesia adalah satu kesatuan dan senasib seperjuangan untuk membela, menegakkan dan membangun bangsa Indonesia secara bersama sama.

Mempersoalkan agama lain dalam konteks memilih pemimpin di Indonesia juga tidak tepat jika ingin menegakkan dan menlaksanakan paradigma `kita` sebagai bangsa Indonesia. Walaupun ada ayat yang sering dipahami umat Islam melarang memilih pemimpin non muslim atau kafir, maka ayat itu untuk pedoman yang sifatnya privat atau pribadi. Sebagai bangsa Indonesia yang bersifat publik, sangat tidak tepat jika dipahami berlaku untuk bangsa Indonesia, karena sikap dan perilaku tersebut akan menimbulkan konflik horizontal bangsa Indonesia.

Paradigma `kita` perlu dikembangkan menjadi sistem kehidupan beragama, karena dengan cara fikir atau paradigma `kami` secara evolutif akan terbangun sistem kehidupan kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Walaupun banyak elemen, kelompok, suku, golongan jika tetap memegang paradigma `kita` maka masyarakat akan tetap tenang, tentram, damai dan sejuk.

Penulis adalah Dosen STAIN Kudus  yang mendapat tugas tambahan sebagai Wakil Ketua I STAIN Kudus, Sekretaris Majelis Alumni IPNU Jawa Tengah dan ketua IKA PMII Kabupaten Kudus, Inisiator /pendiri www.tassamuh.com.