Artikel

Jihad Sosial: Jihadnya Muslim Indonesia. Oleh M. Saekan Muchith

TIPD STAIN Kudus | Rabu, 14 Juni 2017 - 05:59:00 WIB | dibaca: 357 pembaca

 

 

 

 

Jihad dalam pengertian umum adalah usaha secara sungguh-sungguh untuk memberantas berbagai bentuk kejahatan atau pelanggaran yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial dan negara. Di bumi Indonesia banyak fenomana yang tidak sesuai dengan aturan agama maupun negara, seperti  jual beli hukum dan keadilan, manipulasi pajak, kekerasan atas nama agama, memfitnah melalui sosial media, terorisme, aksi bom bunuh diri dengan alasan jihad menegakkan agama, kekerasan dalam pendidikan baik yang dilakukan oleh  siswa kepada guru, guru kepada siswa ataupun orang tua kepada guru.

Bagi umat Islam, dalam menghadapi berbagai fenomena di atas sudah saatnya diberantas atau dihilangkan dengan cara jihad. Tetapi mengapa ketika bangsa Indonesia dilanda persoalan serius yang merugikan bangsa dan negara istilah jihad tidak pernah terdengar. Pada saat Israel menyerang palestina, umat Islam ramai-ramai menyatakan Jihad dijalan Allah.

Dilihat dari substansi dan kemanfaatan, justru sangat penting jihad melawan ketidak adilan, mafia hukum,  mafia pajak , mafia pendidkan, mafia birokrasi, mafia politik dan mafia mafia lainnya dibanding berteriak membela bangsa palestina dengan atas nama agama.

Jihad selalu dipahami “perang suci” (holy war) yang dilakukan dengan cara menggunakan senjata tajam, senjata api serta bom bunuh diri. Oleh sebab itu jihad identik dengan kekerasan, kriminalitas, teroris, tidak berperikemanusiaan, melanggar HAM dan demokrasi. Jihad yang seperti ini mengandung makna negatif, menakutkan bagi orang lain, dibenci banyak orang bahkan menjadi musuh bersama umat beragama dan negara.

Meskipun jihad bermakna negatif, menurut sebagian kelompok tetap dipahami tindakan suci yang harus selalu dikobarkan untuk memberantas kemaksiatan. Kelompok ini meyakini, jihad dengan cara seperti didasarkan firman Allah “ Perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah melampaui batas, karena sesunggnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah “ (QS Al Baqarah:190 dan 193).  Dalam surat lainnya  dijelaskan “ Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang dijalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaetan itu” (QS. An Nisa’: 76).

Bagi kelompok masyarakat yang memahami ayat diatas secara tekstual, layak dikatakan melakukan “Jihad anarkhis”, karena akan  melahirkan perilaku atau gerakan “radikal”, “ekstrem”, “militan”, “ non toleran” bahkan bisa disebut “anti barat”. “Jihad anarkhis” ini akan melahirkan tipologi gerakan yang cenderung melakukan aksi-aksi jika dilihat dari ukuran “normal” termasuk kategori sangat kasar dan tidak rasional. Misalnya menghancurkan segala hal yang dianggap (menurut keyakinannya) tidak sesuai dengan ajaran Islam. Beberapa tempat hiburan, didatangi dan dirusak karena dianggap pusat kemaksiyatan. Bertindak kasar kepada para penjual makanan yang jualan siang hari selama bulan suci ramadhan. Menghancurkan dengan cara bom bunuh diri terhadap beberapa hotel atau restoran yang dianggap milik orang Amerika/non muslim, meskipun didalamnya juga banyak orang Islam.

“Jihad anarkhis” seperti ini jelas tidak akan efektif untuk memperjuangkan Islam, karena tidak sesuai dengan dinamika dan tuntutan kehidupan masyarakat dalam tataran lokal, regional dan global. Tuntutan dan budaya masyarakat sudah berubah secara drastis jika dibanding dengan masa kehidupan zaman dahulu (zaman ketika rasulullah masih hidup). Dizaman sekarang dituntut mewujudkan sistem demokrasi dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), oleh sebab itu perjuangan terhadap Islam (jihad) juga harus memperhatikan demokratisasi dan HAM. Konsekuensinya harus ada pergeseran jihad dari “jihad anarkhis” menuju “jihad humanis”, yaitu suatu cara berjuang menegakkan agama Allah yang dilakukan dengan cara santun, damai, tanpa kekerasan, penuh toleransi  dan selalu menjung tinggi HAM.

Jihad Sosial/ Humanis

Untuk mewujudkan “Jihad Humanis” dimulai dari pemahaman yang bernuansa sosial terhadap teks-teks al-qur’an maupun hadits. Jihad dalam konteks kehidupan kekinian tidak tepat dipahami dengan cara perang mengangkat senjata.

Jihad secara hakiki adalah berjuang melawan kedholiman, penindasan, membantu orang yang ditindas, didholimi  yang dilakukan tidak dengan cara kekerasan. Allah telah mengajarkan kepada umatnya untuk mendakwahkan agama hanya melalui himbauan dan ajakan secara damai dan santun. “ maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohon ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”. (QS. Ali Imron:159).

Allah juga jelas-jelas melarang umatnya untuk melakukan perbuatan mungkar dan permusuhan. “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan” (QS. An Nahl: 90).

Berdasarkan ayat tersebut, jelas bahwa Islam tidak memberi ruang sedikitpun untuk melakukan kekerasan, anarkhisme dan dan kejahatan. Hal ini sejalan dengan misi utama Islam adalah agama yang memberi rahmat bagi semua alam. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta Alam” (QS. Al Anbiyaa’: 107).

Islam tidak melarang peperangan, perang yang diperbolehkan Islam adalah perang yang memiliki prinsip-prinsip mengedepankan dan menghargai kemanusiaan. Pidato Khalifah Abu Bakar ketika  mengirimkan pasukan dalam sebuah ekspedisi ke perbatasan Siria “ Berhentilah hai manusia, Aku ingin memberimu sepuluh aturan sebagai pedoman dalam peperangan. Jangan melakukan pengkhianatan atau berbelok dari jalan yang benar. Jangan merusak orang yang telah mati. Jangan membunuh anak-anak, perempuan dan orang jompo. Jangan mengganggu tanaman terutama yang sedang berbuah. Jangan membunuh rombongan musuh yang memberimu makanan. Kamu sebaiknya membiarkan orang yang mencurahkan hidupnya untuk pelayanan peribadatan, biarkan mereka hidup”. (Sahih Muslim Vol 3, hal 940).

Begitu rumitnya ketentuan perang yang dirumuskan sayyidina Abu Bakar. Hal ini mengandung makna bahwa perang hanya bisa dilakukan dengan sangat terpaksa dan kondisi mendesak (dhorurot). Umat Islam tidak bisa dengan mudah melakukan kekerasan dengan alasan jihad membela atau memperjuangkan agama.

Ibnu Taimiyah dalam Zianudin Sardar (1985) dalam buku “ The Other Jihad: Muslim intellectuals and Their Responsibilities” menjelaskan bahwa jihad dicapai dengan hati, pikiran dan tangan. Hati bermakna kesabaran dalam menghadapi segala tantangan atau problem kehidupan. Pikiran dimaksudkan suatu  karya ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat luas. Tangan adalah merujuk kepada tindakan nyata dalam ikut membantu dan mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi manusia dimuka bumi ini.

Gary Legenhausen (1985) dijelaskan bahwa secara umum jihad diartikan suatu bentuk perjuangan setiap manusia untuk menerima bentuk bimbingan spiritual tertentu supaya dapat mensucikan dirinya.

Berdasarkan pendapat itu, jihad  benar-benaar diperintahakan Allah swt dan Rasul Muhammad saw yang menyuruh untuk melakukan evaluasi diri secara terus menerus dalam rangka mengembangkan potensi diri untuk melawan berbagai bentuk penindasan untuk mewujudkan perdamaian dengan cara penuh tanggung jawab secara moral, akademik dan sosial. “Jihad  Humanis” dapat ditampilkan dalam realitas kehidupan sebagai berikut:

Pertama, sebagai praktisi pendidikan selalu berusaha melakukan pengelolaan pendidikan secara jujur, transparan dan tidak melakukan praktik kecurangan dalam segala bentuk. Ujian Nasional benar-benar dilaksanakan secara jujur, tanpa ada kebocoran sedikitpun, sehingga Ujian Nasional benar-benar proses evaluasi kualitas peserta didik terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan.

Kedua, sebagai praktisi politik selalu berusaha untuk menegakkna nilai-nilai atau etika dalam menyerap dan memperjuanagkan aspirasi masyarakat. Kasus bank century misalnya benar-benar ditegakkan sesuai dengan aturan hokum yang berlaku, bukan dijadikan hanya untuk komuditas politik yang hanya menguntungkan pribadi dan kelompoknya sendiri.

Ketiga, sebagai penegak hukum akan selalu memproses segala bentuk kesalahan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku. Membongkar kasus atau mafia hukum benar-benar dilandasi untuk membantu masyarakat dan menyelematkan uang negara agar masyarakat benar-benar memiliki dan merasakan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan.

Keempat, sebagai praktisi ekonomi, selalu melaksanakan aturan ekonomi secara benar, sehingga tidak ada lagi pembobolan rekening, tidak ada pencucian uang, tidak ada lagi L/C fiktif dan lain sebagainya. Sebagai pelaku birokrasi, selalu menjadi pelayan umat, bukannya minta dilayani.

Kelima, sebagai  mahasiswa yang nota benenya calon ilmuwan sudah barang pasti dalam menyalurkan aspirasinya tidak bisa ditunggangi pihak-pihak lain sehingga mudah terjadinya gerakan anarkhis yang jelas merugikan masyarakat umum.

Peran Kementerian Agama (Kemenag)

Pemahaman atau kedewasaan masyarakata dalam memahami ajaran agama tidak dapat dilepaskan dari persn kantor kementerian agama (kemanag).  Sebagai sebuah kantor kementerian  yang merupakan bagian dari komponen Negara republik Indonesia dapat dikatakan belum terlalu tua, tetapi juga tidak bisa dikatakan masih remaja, artinya kemenag sebagai bagian dari elemen negara sudah seharusnya mampu memberi kontribusi nyata dalam proses pembangunan bangsa Indonesia khususnya dalam bidang kesadaran beragama.  Hal ini didasarkan atasa tugas pokok dan fungsi kemenag  adalah menyelenggarakan sebagian tugas dari pemerintah dalam bidang pembangunan agama. Oleh sebab itu peran kemenag kaitannya dnegan pemahaman yang tepat terhadap ajaran agama perlu melakukan optimalisasi peran.

Optimalisasi peran kemenag perlu dilakukan dengan cara meningkat pemberdayaan peran yang dimiliki oleh kemenang. Optimalaisasi peran dapat dilakukan dengan cara: Pertama, mengoptoimalkan peran Penyuluh Agama. Ada kesan peran penyuluh agama masih kalah jauh dibanding dengan mubaligh, sehingga penyuluh agama tidak optimalkan dalam memberikan pemberdayaan agama kepada masyarakat. Masyarakat lebih percaya kepada mubaligh dari pada penyuluh agama yang dimiliki kemenag.

Kedua, mengoptimalkan pengawas satuan pendidikan. Kemenag memiliki tenaga fungsional yang mempunyai tupoksi membina, mengawasi dan melaporkan kinerja guru dan kepala sekolah /madrasah. Berdasarkan Peraturan pemerintah (PP) nomor 32 tahun 2013 tentang standar nasional pendidikan,  pengawas satuan pendidikan harus melaksanakan delapan standar yang ada dalam PP tersebut yaitu tandar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan evalausi pendidikan. Konsekuensinya pengawas saatuan pendidikan perlu menguasai masalah pembelajaran dan juga manajerial sekolah. Idealisme tupoksi pengawas sekolah masih perlu ditingkatkan.

Ketiga, kemenag perlu membentuk lembaga pusat kajian agama dan keagamaan. Selama ini peran ini hanya dilaksanakan oleh badan penelitian dan pengembangan (litbang) yang hanya sampai di tingkat kemenag wilayah propoinsi. Di masa yang akan datang, kemenag perlu memiliki unit khusus kajian bidang agama dan keagamaan yang dibentuk mulai dari tingkat pusat sampai  tingkat kabupaten dengan  tugas mengidentifikasi, menganalisis dan menemukan solusi problem umat beragama.

Diakui atau tidak, kemenag sampai sekarang, baru bisa menjalankan perannya yang bersifat administratif birokratis, yaitu malakukan pembangunan dalam bidanag agama yang bersifat fisik, formal dan kuantitatif, hal ini dilihat dari peningkatan anggaran untuk pembangunan lembaga pendidikan, pesantren dan organisasi sosial agama. Banyak bantuan rehab untuk  pendidikan dasar dan menengah. Bantuan Bos untuk  MI dan Mts, serta bantuan studi bagi para santri. sehingga peningkatan kualitas kesadaran keagamaan bagi umat Islam belum bisa diketahui secara pasti.

Konsekuensinya, kemenag harus mampu meningkatkan atau mengoptimalkan perannya dalam bidang pembangunan agama secara kualitatif yang dilakukan dnegan cara :

Pertama, Kemenag sebagai penyelenggara ibadah haji, indikasi keberhasilannya tidak hanya dilihat dari aspek kelancaran dan ketertiban pelaksanaan ibadah haji mulai dari tanah air ke tanah suci sampai pulang lagi ke tanah air, tetapi bagaimana ritual ibadah haji ini benar-benar mampu menjadikan kualitas manusia yang berkualitas sesuai  dengan makna yang dilaksanakan pada saat menjalankan ibadah haji.

Kedua, Kemenag sebagai lembaga pelopor pengumpulan dan pendistribusian zakat, keberhasilannya tidak hanya dilihat dari berapa banyak zakat yang berhasil dikumpulkan melainkan seberapa jauh zakat yang dikelola mampu menjadi sarana untuk mengetaskan kemiskinan dan kebodohan serta keterbelakangan bagi umat Islam.

Ketiga, Kemenag sebagai penyelenggara pendidikan formal dan non formal, indikasi keberhasilannya jangan hanya dilihat dari  banyaknya jumlah sekolah yang telah diberi bantuan, berapa banyak jumlah sekolah yang meningkat statusnya serta berapa banyak sekolah yang berhasil terakreditasi, melainkan dengan lembaga pendidikan yang dimiliki kemenag ini, dapat melahirkan lulusan yang memiliki kecerdasan secara intelektual dan juga kualitas moral kepribadian serta ketrampilan dalam kehidupannya.