Artikel

Kafir Tidak Harus Non Muslim Oleh : M. Saekan Muchith

TIPD STAIN Kudus | Minggu, 20 November 2016 - 12:30:31 WIB | dibaca: 839 pembaca

Kafir Tidak Harus Non Muslim
M. Saekan Muchith
 
Terminologi kafir sesuatu yang dibenci, ditakuti dan di jauhi oleh umat Islam karena orang kafir menurut kayakinan umat Islam  memiliki dosa besar yang tidak akan diampuni Allah SWT dan besok di hari kiamat tempatnya di neraka selama lamanya. Sungguh mengerikan imbalan bagi orang kafir. Di dalam Al-Qur`an banyak sekali yang menjelaskan tentang profil atau ciri ciri orang kafir yang belum tentu bisa di maknai secara mudah, karena tekstual ayatnya masih perlu pemahaman secara utuh. Akibatnya pemahaman dan pemaknaan tentang kafir menimbulkan perdebatan. Sebagian masyarakat mengatakan bahwa orang kafir identik dengan non muslim dan sebagian lainnya mengatakan bahwa kafir tidak hanya milik agama non muslim, tetapi siapa saja walaupun secara formal beragama Islam bisa juga masuk kategori kafir jika sifat dan perilakunya memiliki ciri-ciri atau karakter orang kafir.
 
Pertama, QS. Al Baqarah ayat 6-7 : `Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka  dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang berat`. Karakter atau ciri orang kafir adalah orang yang tidak mau menerima ajakan, arahan, bimbingan dari manapun dan siapapun untuk melaksanakan kebaikan. Kafir dalam hal ini, adalah orang yang hanya berfikir, bersikap dan berbuat untuk dirinya sendiri (jawa; ndableg). Tidak sanggup menggunakan potensi akal pikirannya, tidak mau menggunakan penglihatan dan pendengarannya untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan sosialnya.
 
Kedua, QS. Al Kahfi ayat 100-101 : `Dan Kami perlihatkan neraka jahanam dengan jelas pada hari itu kepada orang kafir, yaitu orang yang mata hatinya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda tanda kebesaran-Ku dan mereka tidak sanggup mendengar`. Kafir menurut ayat ini adalah orang yang tidak mau peduli dengan kebesaran Allah SWT. Orang yang hatinya, pikirannya, pendengarannya tidak digunakan untuk menghayati makna dibalik ciptaan Allah SWT. Orang yang seperti ini, memiliki potensi besar melakukan kerusakan dimuka bumi. Tidak bisa mengelola dengan baik semua sumber alam, hanya bisa mengeksploitasi untuk kepentingan diri sendiri yang akhirnya merugikan orang lain.
 
Ketiga, QS. Al Baqarah ayat 152 : `Maka ingatlah kepada-Ku, Akupun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku`. Karakter orang kafir adalah orang yang selalu ingkar kepada semua pemberian (nikmat) dari Allah SWT. Tidak mengakui apa yang dimiliki itu pemberian dari Allah SWT. Akhirnya tidak bisa memanfaatkan apa yang dimiliki dijadikan sarana untuk melakukan kemanfaatan dirinya dan orang lain. Misalnya kekayaan dan jabatan tidak digunakan untuk membantu orang lain, tetapi justru di jadikan sarana melakukan kedholiman. Kesehatan yang dimiliki tidak dijadikan untuk menjalankan ibadah tetapi untuk melaksanakan kemaksiyatan. Karakter seperti ini, menjadikan orang sombong karena merasa dirinya memiliki kekuatan yang luar biasa tanpa harus peran dari Tuhan sang pencipta.
 
Keempat, QS. Ali Imran ayat 54 : `Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah-pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya`. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tipu daya terdiri dari dua kata "tipu" dan "daya". Tipu artinya perbuatan atau perkataan yang tidak jujur, bohong, palsu dan sejenisnya. Sedangkan daya adalah berbagai macam cara yang buruk atau tipu muslihat. Tipu daya dalam ayat tersebut, berarti semua orang yang memiliki perkataan, perbuatan yang tidak baik atau memiliki karakter pembohong dan kebiasaan untuk menipu orang lain sehingga orang lain menderita atau sengsara. Tipu daya juga bisa dimaksudkan karakter orang yang licik, suka `ngakali` orang lain.
 
Kelima, QS. Al Maidah ayat 12 : `Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian, dan mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, mudah-mudahan mereka berhenti`. Kafir adalah para pemimpin yang tidak bisa memegang janjinya. Dengan kata lain semua pemimpin yang jika berjanji tetapi tidak bisa melaksanakan kebijakan sesuai janjinya atau bahkan sering mengingkari apa yang telah dijanjikan maka pemimpin itu termasuk golongan kafir.
 
Keenam, QS. Al Maidah ayat 72 : `Sesungguhnya, telah kafirlah orang-orang yang berkata, `Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam`. Padahal Al-Masih sendiri berkata : `Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu`, sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah di neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang orang zalim`. Kafir secara ideologi adalah orang yang beragama dengan keyakinannya mengakui atau mempercayai bahwa Al-Masih adalah putra Mariyam dalam hal ini adalah agama nasrani. Ayat selanjutnya, kafir juga di tandai dengan katakter atau sifat dari manusia yang menyamakan Tuhan dengan mahluk atau benda lain (musyrik)  terlepas agama apa yang dimiliki.
 
Ketujuh, QS. Al Bayyinah ayat 1 : `Orang-orang kafir dari golongan ahlu kitab dan orang orang musyrik tidak akan meninggalkan agama mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata`. Orang kafir bisa datang dari agama apapun dan dari kelompok manapun yang disimbolkan dari kelompok ahli kitab dan orang-orang musyrik. Menurut pandangan para ulama Ibnu Katsir dalam tafsir Al Qur'an al Adzim jilid II, At Thobari dalam kitab tafsir al Thobari juz 5 dan al Qurthuby dalam kitab Jami' li al Hakam al Qur'an jilid II mengatakan bahwa ahli kitab itu hanya diperuntukkan Yahudi dan Nasrani. Sedangkan menurut Imam Syafii dalam kitab Al Umm jilid 6 dikatakan bahwa ahli kitab hanyalah pengikut Yahudi dan Nasrani dari Bani Israil saja.
 
Sebagian pemikir lain seperti Nurcholish Madjid dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban mengatakan bahwa ahli kitab adalah semua agama, tidak hanya Yahudi dan Nasrani, tetapi juga termasuk semua agama yang memiliki kitab. Karena setiap kaum dan agama memiliki risalah tauhid, dan memiliki kitab sendiri yang selalu mengajarkan kepada kebenaran, kedamaian dalam kehidupan.
 
Selain ahli kitab, surah al-Bayyinah ayat 1 juga menyatakan bahwa kelompok kafir juga bisa berasal dari orang musyrik. Musyrik adalah memiliki keyakinan dan perbuatan yang mengakui ada kekuatan lain selain Tuhan. Artinya ada tuhan-tuhan kecil lain yang dianggap atau dipercayai memiliki kekuatan yang dapat membantu kesuksesan manusia. Keyakinan adanya kekuatan lain selain Tuhan bisa muncul dari berbagai fenomena, seperti dari batu besar, dari kuburan, dari pohon besar, dari jabatan atau kekuasaan, dari kekayaan material seperti uang dan hal hal lain yang menyebabkan seseorang beranggapan bisa menyelesaikan persoalan dengan kekuatan atau kekayaan yang dimiliki. Memiliki keyakinan bahwa jabatan atau kekuasaan memiliki daya yang bisa menyelematkan karir seseorang juga termasuk bagian dari musyrik. Memiliki anggapan atau keyakinan bahwa duit atau meteri bisa menyelesaikan persoalan juga bisa dikategorikan musyrik. Memiliki keyakinan bahwa dokter memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit juga bisa di katakan musyrik. Musyrik menyangkut urusan perasaan atau hati, hanya dirinya sendiri yang mengetahui apakah musyrik atau tidak. Walaupun secara formal beragama Islam tetapi dalam kehidupan sosial sehari-hari memiliki keyakinan ada kekuatan lain selain Tuhan maka juga masuk kategori musyrik.
 
Berdasarkan beberapa ayat tersebut, dapat dimaknai bahwa kafir tidak bisa ditujukan hanya kepada orang non muslim, karena kafir lebih banyak menyangkut keyakinan dan karakter atau sifat manusia. Walaupun beragama Islam tetapi dalam kehidupan sosialnya memiliki sifat dan katakter tidak sanggup memperhatikan masukan atau saran dari siapapun dalam hal kebaikan yang diibaratkan dengan Karakter orang yang turkunci hatinya, tertutup penglihatan dan pendengarannya ( QS. al-Baqarah ; 6-7 dan al-kahfi ; 100-101), orang yang selalu ingkar atau tidak mengakui nikmat dan pemberian dari Allah (QS. al-Baqarah ; 152), orang yang tidak jujur, suka melakukan kebohongan, tipu muslihat, tipu daya kepada orang lain dan licik (QS. Ali Imron ; 54) , pemimpin yang tidak bisa menepati janjinya, atau tidak sama antara janji dengan realitas kebijakan (QS. at-Taubah ; 12) dan orang orang yang ahli kitab serta memiliki keyakinan dan praktik kemusyrikan (QS. al-Maidah ; 72 dan al-Bayyinah ;1) maka mereka masuk kategori kelompok kafir.
 
Dalam konteks NKRI yang memiliki pluralisme dalam agama, budaya, warna kulit dan suku tidak sepatutnya saling tuduh dan klaim kebenaran agama. Apa lagi menuduh orang non muslim sebagai kelompok kafir. Kafir bisa menimpa orang Islam, Kristen, Hindu, Budha,  Yahudi dan agama apapun dan juga bisa menimpa kelompok manapun, karena kafir itu menyangkut keyakinan, karakter atau sifat manusia dalam merespon fenomena yang terjadi diluar dirinya.

      
* Penulis adalah Dosen STAIN Kudus, Sekretaris Umum Majelis Alumni IPNU Jawa Tengah, Ketua Ikatan Alumni PMII Kabupaten Kudus, Ketua Komisi Dakwah dan Politik MUI Kudus.