Artikel

Konsep Kebudayaan Islam By: Masturin

STAIN Kudus | Kamis, 03 Agustus 2017 - 08:48:27 WIB | dibaca: 136 pembaca

Cukup banyak definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh para ahli. Bahkan A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam bukunya, Culture a Critical Review of Consepts and Definitions, menghimpun definisi kebudayaan lebih dari 160 buah, kemudian mengklarifikasikannya ke dalam tipe-tipe tertentu dan dilengkapi dengan komentar dan kritiknya.

Di antara definisi kebudayaan yang muncul dan berkembang adalah definisi yang dikemukakan oleh E.B. Tylor, yang menyatakan sebagai keseluruhan yang kompleks, yang meliputi pengetahuan, dogma, seni, nilai-nilai moral, hukum, tradisi-tradisi sosial dan semua kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat.

Kebanyakan orang dari para ahli ilmu sosial mendefinisikan yang senada dengan definisi diatas, yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya. Oleh karena itu hanya dapat diujudkan oleh manusia sesudah melalui suatu proses belajar.

Ralph Limton juga mengemukakan definisi yang hampir sama, yaitu seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu, yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan.

Berpijak pada tiga definisi diatas menunjukkan bahwa kebudayaan mengandung cakupan yang sangat luas, yaitu keseluruhan ketrampilan, kebiasaan dan pengertian yang didapatkan sebagai hasil dari proses belajar yang berlaku untuk kelompok masyarakat tertentu. Makna kebudayaan ini, dalam wacana keislaman sejalan dengan makna konsep taaqafah, hadlarah dan madaniyyah. Taaqafah mempunyai makna kebudayaan dalam arti yang luas, sedangkan hadlarah  dan madaniyyah memiliki makna yang lebih sempit dan sektoral. Sehingga lebih lengkapnya, kebudayaan mengandung pengertian hasil karya cipta (pengolahan pengerahan, dan pengarahan terhadap alam oleh) manusia dengan kekuatan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, imajinasi, dan fakultas-fakultas rohaniah lainnya) dan raganya, yang menyatakan diri dalam berbagai kehidupan (hidup rohaniah) dan penghidupan (hidup lahiriah) manusia, sebagai jawaban atas segala tantangan dan tuntutan serta dorongan intra-diri dan ekstra-diri manusia, menuju pada terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan (material-spiritual) manusia, baik individu maupun masyarakat.

Kebudayaan yang sangat luas cakupannya itu pada garis besarny dapat dibagi dalam dua kelompok besar. Pertama, kebudayaan immaterial, yang meliputi : (1) filsafat, (2) ilmu pengetahuan, (3) kesenian, (4) kaidah-kaidah budaya, (5) bahasa, (6) agama – budaya – pemahaman keagamaan, (7) tehnik, (8) ekonomi, (9) politik, (10) pendidikan, dan sebagainya. Kedua, kebudayaan material, yaitu alat-alat penguasaan alam, alat-alat perlengkapan hidup, fasilitas hidup, alat-alat material bagi kebudayaan immaterial, dan sebagainya.

Perbandingan mengenai kebudayaan dengan makna seperti diatas, yang kemudian dimasukkan dalam wilayah kajian keislaman memerlukan kajian yang memadai mengenai pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk yang berkebudayaan.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang berbeda dengan makhluk lainnya. Letak perbedaannya pada unsur rohaniah yang diberikan Allah kepadanya. Ketika “manusia baru” dibentuk, Allah “meniupkan” ruh-Nya ke dalam diri manusia, sehingga manusia disebut sebagai makhluk material al-Sheed (38) : 72, al-Sajdah (32) : 9). DalamistilahMurtazaMutahheri, manusiaadalahan animal life danhuman life, yang hidupdalammaterial life danculture life.

Duaunsuryang adadalamdirimanusia (jasmaniah-rohaniah) tersebutbukanlahmerupakanduahal yang terpisah, tetapimerupakankesatuan yang terpadu.Dari sinimanusiaditetapkansebagaimakhluk yang paling muliadanterbaik, baikdarisegikonstruksibangunannya, maupunkedudukannya di alamsemesta.

Keunggulan kualitas yang diberikan Allah kepada manusia, yang terpenting adalah bahwa manusia memiliki hak pilihdan kebebasan. Dari sini, kemudian manusia memiliki pengaruh yang amat besar terhadap alam sekitarnya. Pengaruh itu berujud dalam dua bentuk, yaitu keharmonisan lingkungan dan kehancuran lingkungan. Disinilah letak hakekat, bahwa manusia itu memiliki peran sebagai pengelola alam semesta yang didalam istilah al – Qur’an disebut dengan khalifah.

Tugas kekhalifahan manusia tersebut adalah bagian dari pelaksanaan “amanah Allah” yang memang disanggupi oleh manusia (QS. al-Ahzab (33) : 72). Secara keseluruhan amanah itu berupa kewajiban ‘Ibadah’ (pengabdian) dalam makna yang luas dan multi dimensional, yaitu ‘ibadah khashahah dan ‘ibadah ‘ammah (QS. al-Dzariyat(51) : 56. al-Baqarah (2): 30, al-Nur (24) : 55, Hud (11) : 61, al-An’am (6) : 165, dan al-Anbiya’ (21) : 105-106).

Isyarat yang dinyatakan dalam ayat-ayat diatas menunjukkan dengan jelas bahwa manusia harus berkebudayaan dalam bentuk kekuatan mental spiritual, kecerdasan kesehatan fisik, jiwaseni, solidaritas sosial dalam rangka pengabdiannya kepada Allah (habi min Allah) dan khidmah kemanusiaan serta menjaga keharmonisan alam(habi min al-nas).

Dalam Islam diyakini bahwa agama bukan ciptaan manusia, melainkan wahyu Allah yang bersifat absolutdan universal. Sebagai agama, Islam mempunyai tata nilai dari kumpulan nilai-nilai normatif–idealistik, yang berupadoktrin-doktrin yang mesti diyakini, dipegang teguh dan menjadi bagian dalam diri pemeluknya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ketika al-Qur’an (sebagai sumberajaran Islam) diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dunia tidak dalam keadaan vakum (hampa). Kebudayaan masyarakat Arab, Persia dan Romawi telah berkembang pesat sebelumnya. Sementara setiap kebudayaan mempunyai tata nilai yang dijunjung tinggi oleh para warga dan simpatisannya. Melihat hal ini, Islam, dalam dataran histories empiris, dalam pemahaman, interpretasi dan aktualisasinya dalam kehidupan tidak dapat lepas bahkan sangat dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Ketika agama telah berada pada pemahaman, interpretasi dan pemikiran manusia, dimana proses yang dilaluinya sangat dipengaruhi oleh ruang dan waktu, maka ia telah berada dalam dataran kebudayaan. Meski demikian, setidaknya ada empat pandangan mengenai hubungan antara agama dan kebudayaan yaitu :

1.      Kebudayaanmencakup agama, artinya agama merupakanbagiandarikebudayaan.

2.      Agama mencakupkebudayaan, artinyakebudayaanmerupakanbagiandari agama.

3.      Agama, Islam (al-din al-Islami) mencakup agama dankebudayaansekaligus.

4.      Agama wahyu (samawi) dankebudayaantidaksalingmencakup, artinya agama wahyubukanmerupakanbagiandarikebudayaan. Masing-masingberdirisendiri. Keduanyadapatsajasalingberhubungandalam area kegiatanmanusia, dandarisalingberhubunganitudapatmelahirkankebudayaanbaru, yaitukebudayaan yang dijiwaidandiwarnaioleh agama wahyutersebut. Sedangkan agama budaya (ciptaantokohpendiriagam) adalahbagiandarikebudayaan. Agama  wahyubukanmerupakanbagiandarikebudayaan, tetapiberagama(dalamarti proses pemahaman, interpretasidanpengalaman agama) termasukbagiandarikebudayaan.

Dalampandangan al-Qur’an, maknadankonsep agama mencakup agama sebagaiwahyumaupun agama sebagai proses pembudayaandankebudayaansetelahbergumuldalam arena kehidupanmanusia. Agama sebagaiwahyuadalahdalamposisi primer, sedangkankebudayaanadalahsekunder.Budayamerupakanekspresihidupberagama, sehinggasub-ordinate terhadap agama, dantidaksebaliknya.Olehkarenaitu agama adalahabsolut, berlakuuntuksetiapruangdanwaktu, sementarabudayabersifat relative, terbatasiolehruangdanwaktu.

Al-Qur’an melihatbahwa agama dankebudayaan, meskikeduanyaberbedadanharusdibedakansecarajelas, tetapitidakdapatdipisahkan.Dengan demikian, Islam (al-Qur’an) menjadi dialogis dengan ruang dan waktu. Dan agama yang universal itu akan selalu menemukan relevansinya dengan tuntutan khusus dan nyata dari para pemeluknya, menurut ruang dan waktu, disertai dinamika dan vitalitasnya.

Karena kebudayaan dalam Islam adalah manivestasi dan perwujudan dari segala aktivitas manusia muslim (Pratiknya: 1989; 74) yang melibatkan al-aql (piker), al-dzauq (rasa), al-iradah (kehendak), dan al-‘amal, dalam rangka pelaksanaan amanah ilahiyah untuk menggapai ridla-Nya, maka dapatlah dirumuskan beberapa prinsip dan sistem nilai budaya dalam Islam sebagai berikut:

1.   Wahyu (al-Qur’an dan al-Sunnah al-Nabawiyyah) adalah sumber kekuatan kebudayaan dalam Islam.

Unsur-unsur dalam wahyu yang mendorong umat Islam untuk menciptakan kebudayaan antara lain :

  1. agama Islam menghormati akal, meletakkan akal pada tempat yang terhormat, menyuruh manusia mempergunakan akal untuk meneliti dan memikirkan keadaan alam (QS. Ali Imron (3) : 189-192. al-Ghaasyiyah (88) : 17-20).
  2. agama Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu (QS. al-Mujadalah (58) : 11).
  3. agama Islam melarang umatnya bertaqlid buta, melainkan harus menggunakan pikiran, perasaan, pendengaran dan penglihatannya (QS. al-Isra’ (17) : 36).
  4. agama Islam mengarahkan pemeluknya supaya melakukan inovasi dan inisiatif dalam hal keduniaan yang memberi manfaat dan maslahat bagi masyarakat.
  5. agama Islam menggemarkan pemeluknya supaya menebar ke penjuru dunia, menjalin hubungan dan silaturrahmi dengan bangsa dan golongan lain, saling bertukar pengetahuan, pandangan dan perasaan (QS. al-Hajj (22) : 46).
  6. ajaran Islam menganjurkan untuk melakukan penelitian atas kebenaran walaupun datangnya dari kaum yang berbeda bangsa dan kepercayaannya (QS. Thaha (20) : 17-18).

2.   Wahyu adalah sumber landasan etika bagi pengembangan kebudayaan dalam Islam.

Karena wahyu sebagai sumber dan landasan etika bagi aktifitas pengembangan kebudayaan, maka sistem nilai dalam kebudayaan Islam adalah nilai-nilai ilahiyyah, baik dalam konteks teologi maupun sivilisasi.