Artikel

KONSEP PENDIDIKAN AKAL DALAM PERSPEKTIF FAZLUR RAHMAN Oleh : H. MUHAMMAD AFIF

Administrator | Selasa, 24 Oktober 2017 - 10:06:10 WIB | dibaca: 91 pembaca

KONSEP PENDIDIKAN AKAL

DALAM PERSPEKTIF FAZLUR RAHMAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Arah perkembangan pemikiran Islam dewasa ini, berubah dan sedikit berbeda dengan arah perkembangan pemikiran sebelumnya. Indikasi ini dapat dilihat dari adanya arus baru dimana agenda dan persoalan yang dimunculkan sudah tidak lagi menyinggung masalah-masalah klasik, namun mulai mengarah ke dimensi-dimensi baru yang lebih bersifat universal.[1] Hal ini terjadi karena semakin derasnya tuntutan untuk menerjemahkan Islam secara multi dimensional dan lebih antisipatif terhadap perkembangan dan perubahan zaman. Walaupun perubahan ini belum menunjukkan hasil maksimal, tetapi paling tidak polanya sudah terbentuk sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah pembaharu di Indonesia.[2]

Gerakan pemikiran baru tersebut untuk selanjutnya lebih dikenal dengan Neo-modernisme,[3] dimana gerakan ini berusaha mengkomparasikan nilai-nilai tradisi dengan modernisasi. Menurut pola pemikiran ini, sesungguhnya sikap mempertentangkan secara dikotomis-dualistik antara keduanya (tradisi dengan modernisasi) sangatlah merugikan. Sebab semata-mata hanya mengandalkan pada adekuasi Islam tradisi akan menjadikan umat Islam terperangkap pada sikap tradisionalisme yang pada gilirannya membuat termarginalkan dari proses percaturan zaman. Jadi sikap demikian akan menjadikan Islam kehilangan élan vitalnya dalam berdialektika dengan perkembangan eksternal.

Demikian juga, sikap berlebihan dalam menerima gagasan kemoderenan, meski di satu sisi membawa perkembangan positif, tetapi di sisi lain sering mengakibatkan kehilangan warisan intelektual yang sangat berharga. Oleh karena kedua model di atas (tradisi dan modernisasi) masing-masing mengandung unsur kelebihan dan kelemahan, maka gerakan neo-modernis bermaksud menggabungkan kelebihan dan meminimalisir kelemahan masing-masing ke duanya. Dalam aktualisasinya untuk menjawab berbagai tantangan zaman, ia berusaha mentransformasi nilai-nilai kemoderenan yang positif dengan tetap berpijak pada akar tradisi.

Gerakan neo-modernisme,[4] sebagai gerakan pemikiran Islam-mondial, ditawarkan oleh sejumlah tokoh pembaharu dari berbagai kawasan. Di antara mereka yang cukup terkenal adalah Fazlur Rahman (1919-1988), pemikir asal Pakistan. Ia mendapat didikan Islam tradisional di negerinya sampai memperoleh gelar M.A. dalam bidang sastra Arab. Pemikirannya berkembang jauh setelah ia meraih Doctor of Philosophy (Ph.D) dari Oxford University pada tahun 1950.[5] Dengan latar belakang inilah, Rahman mulai mengkritisi warisan-warisan keislaman dan berupaya menelorkan gagasan-gagasan pembaharuannya. Tidak hanya itu, pemikiran Islam yang telah mengalami kemajuan ia soroti secara tajam dengan mengupas kelebihan dan kekurangannya. Karena pemikirannya yang konvensional, maka ia kurang mendapat sambutan layak di Pakistan, dan akhirnya pindah ke Barat.[6]

Walau demikian, dikalangan modernis sendiri, Rahman tetap dipandang sebagai pemikir brilian dan dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai juru bicara  soal-soal keislaman kaitannya dengan pembangunan Republik Islam Pakistan. Ayub Khan, sebagai presiden waktu itu, pada tahun 1962 mempercayakan Rahman untuk memimpin Institut of Islamic Research (Lembaga Riset Islam). Dua tahun kemudian, ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology (Dewan Penasehat Ideologi Islam) pemerintah Pakistan.[7] Dengan dua posisi strategis ini, ia semakin tidak disukai oleh kalangan ulama tradisionalis.

Lembaga riset ini dibentuk dengan tugas utama menafsirkan Islam dalam terma-terma rasional dan ilmiah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang lebih progresif . Sementara dewan penasehat antara lain bertugas meninjau seluruh hukum, baik yang telah ada maupun yang akan dibuat, serta berhak mengajukan rekomendasi kepada pemerintah guna merealisasikan prinsip-prinsip Islam dalam masyarakat. Kedua lembaga ini memiliki hubungan yang sangat erat, karena dewan penasehat dapat meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dalam rangka menyusun undang-undang.[8]

Keterlibatan Rahman di dua lembaga ini memicu kontroversial, sebab ia selalu menawarkan konsep-konsep baru yang masih sulit diterima oleh masyarakat muslim Pakistan pada umumnya.  Serangan terhadap pemikiran Rahman datang dan dipelopori ulama-ulama tradisional terutama Abu al-A’la Maududi yang tetap berkutat pada paradigma-paradigma klasik.[9] Selanjutnya kontroversi sudah semakin tidak terbendung, ditambah lagi faktor-faktor politik dan sosial ekonomi yang sangat tidak kondusif, keberadaan Rahman di Lembaga Riset ditolak oleh kalangan ulama tradisional.[10] Akhirnya kontroversi itu memuncak dalam suatu demonstrasi massa di beberapa tempat. Rahman sadar, bahwa dirinya tidak mendapat tempat di Pakistan dan memutuskan pindah ke Amerika Serikat. Di sinilah ia dipercaya dan diangkat sebagai Professor of Islamic Studies pada Departemen of Near Eastern Language and Civilization di Universitas Chicago.

Dengan suasana kondusif, Rahman semakin aktif memunculkan gagasan-gagasan segarnya, baik melalui perkuliahan, seminar, dan tulisan-tulisan yang dipublikasikan, Islamic Studies adalah salah satu journal yang paling banyak memuat pemikirannya. Dengan jalan ini, ide-ide cemerlangnya tetap teraktualisasikan. Selain itu Rahman juga menulis artikel, serta menerbitkan beberapa karyanya dalam bentuk buku.

Melalui karya-karyanya yang dihasilkan sekaligus dapat diketahui, bahwa kunci pemikiran Rahman terletak pada penekanannya yang kuat pada aspek metodologi pemahaman Islam, yaitu metode historis dengan pendekatan kontekstual. Bagi Rahman, kaum muslimin tidak cukup menawarkan Islam dalam kehidupan modern hanya dengan menyodorkan al-Qur’an dan Sunnah tanpa dibekali kerangka pemikiran yang memadai. Baginya, seluruh teks-teks keagamaan perlu dilihat dari dua sudut pandang, yaitu” sudut legal-spesifik” dan  “ide formal universal.” Dengan dua sudut pandang ini, maka diharapkan pengaplikasian nilai-nilai Islam akan lebih mengena sesuai tuntutan masyarakat yang dinamis.[11]

Selain menekankan aspek metodologis, dalam soal-soal keislaman, Rahman juga mengembangkan berbagai wawasan yang mendalam. Dalam bukunya, Islam (1968), ia mengelaborasi secara luas hampir semua dimensi sejarah dan keilmuan Islam. Mulai dari kehidupan Rasulullah, legislasi al-Qur’an, asal-usul dan perkembangan ortodoksi, struktur hukum dan kenegaraan, teologi, gerakan filsafat, sufisme, corak pendidikan dan gerakan moderen dalam Islam.[12] Dalam karyanya yang lain, Major Themes of the Qur’an (1980), ia berusaha menampilkan pesan kitab suci al-Qur’an dalam beberapa tema penting. Masing-masing tema dirajutnya dengan mempertimbangkan logika turunnya al-Qur’an dan misi yang diembannya. Karena pendekatan yang bersifat filosofis, maka Rahman sering mengesankan lebih memilih signifikansi makna yang bersifat universal dari pada makna tekstual. Secara umum buku ini dapat dikatakan menunjukkan kepadatan, kedalaman, dan cakupan kohesif al-Qur’an yang hadir untuk menyapa manusia di segala zaman.[13]

Sementara dalam buku Islam and Modernity (1982), greget pembaharuan yang dilakukan Rahman semakin terlihat jelas. Di sini ia menawarkan kekuatan warisan keislaman dengan menunjuk beberapa kasus. Selanjutnya ia menyelami problem-problem yang dihadapi dunia Islam dewasa ini dan kemudian menawarkan solusi pemecahannya. Kandungan buku ini menggambarkan betapa intensifnya pergulatan pemikiran Rahman dalam merancang masa depan Islam.[14]

Mensikapi arah ide Rahman seperti itu, pemikirannya menunjukkan ciri seorang neo-modernis. Sebab sebagaimana dinyatakan H.A.R. Gibb ciri terpenting neo-modernis terletak pada perjuangan melawan otoritas tradisi. Sama halnya dengan Rahman, ia berusaha membongkar pemahaman tradisional umat Islam atas doktrin-doktrin agama dan berusaha menyuguhkan pemahaman yang lebih aktual. Meskipun sealur dengan pola pikir kaum modernis, Rahman mempunyai dinamika tersendiri, sebab dalam beberapa segi ia tidak setuju dengan gagasan-gagasan kaum modernis, bahkan mengkritik dan mengoreksinya secara tegas.[15]

Dalam salah satu artikelnya, ia menyebutkan bahwa meskipun gerakan modernis telah benar dalam semangatnya, tetapi ia memiliki dua kelemahan mendasar. Pertama: Ia tidak menguraikan secara tuntas metodenya. Ini mungkin lantaran perannya selaku reformis terhadap masyarakat muslim dan sekaligus sebagai kontroversialis-apologetik terhadap pemikir Barat sehingga membuatnya terhalang untuk melakukan interpretasi secara sistematis dan menyeluruh atas Islam. Kedua: Kaum modernis terjebak menangani masalah-masalah secara adhoc, sehingga tidak menghasilkan pembaruan yang komprehensif. Bahkan karena masalah-masalah adhoc yang dipilih kaum modernis merupakan masalah-masalah di sekitar dan bagi dunia Barat saja, membuat mereka terkesan sebagai agen-agen westernisasi.[16]

Berpijak dari sinilah, Rahman mencanangkan gerakan baru yang diistilahkan dengan neo-modernisme. Karakteristik gerakan baru ini adalah pengembangan suatu metode sistematis yang mampu melakukan rekonstruksi Islam secara total dan tuntas, serta tetap setia pada akar-akar spiritualnya dan dapat menjawab kebutuhan Islam moderen, tanpa mengalah secara membabi buta kepada Barat atau menafikannya. Disamping itu, neo-modernisme juga harus bersikap kritis terhadap warisan-warisan sejarah keagamaannya.[17]

Gagasan pembaruan Fazlur Rahman sebagai pioner pemikir neo-modernis di dunia Islam rupanya mendapat sambutan baik di berbagai negara Islam, tak terkecuali di Indonesia. Ada dugaan kuat bahwa gerakan neo-modernisme Islam Indonesia mendapat pengaruh dari pemikiran Rahman. Interaksi antara Rahman dengan Indonesia telah terjadi sejak lama, yang dapat dibuktikan dengan beberapa bukti sebagai berikut :

1.      Kunjungan Rahman ke Indonesia pada tahun 1974. Ini merupakan lawatan yang pertama dan ia berkesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh Indonesia.

2.      Pada tahun 1982 ketika menulis buku Islam and Modernity, Fazlur Rahman menyempatkan memahas masalah perkembangan Islam di Indonesia dalam satu sub Bab. Hal ini menunjukkan perhatiannya yang cukup besar atas dinamika Islam Indonesia.

3.      Ketika Fazlur Rahman menjabat sebagai Guru Besar Pemikiran Islam di Universitas Chicago, ada beberapa pemikir Indonesia yang sedang menempuh gelar Doktornya di sana, Nurcholis Madjid adalah diantaranya yang aktif mengikuti perkembangan pemikiran Rahman.

4.      Mulai diterjemahkannya berbagai karya Fazlur Rahman ke dalam bahasa Indonesia sejak tahun 1983, 1984 dan 1985. Dengan diterjemahkannya empat buku karya Rahman menunjukkan perhatian yang serius dari umat Islam Indonesia terhadap gagasan-gagasan Rahman. Disamping itu, penerjemahan terhadap artikel-artikelnya ke dalam jurnal-jurnal Indonesia sudah pula dilakukan.

5.      Kunjungan Fazlur Rahman ke Indonesia yang kedua pada tahun 1985. Pada kesempatan ini ia sempat berdiskusi dengan Civitas Akademika IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

6.      Pada tahun 1988-sepeninggal Rahman-LSAF Jakarta menyelenggarakan seminar tentang pemikiran Fazlur Rahman. Hal ini juga pernah diadakan di Yayasan Wakaf Paramadina pada tahun 1993.

7.      Kajian tidak langsung, seperti yang dilakukan oleh para sarjana Muslim yang sempat belajar ke Barat atau para pemerhati pembaruan Fazlur Rahman.[18]

Satu hal perlu digaris bawahi dalam gerakan neo-modernisme sebagaimana yang dicanangkan Fazlur Rahman adalah sikap kritis terhadap warisan-warisan sejarah keagamaan. Sikap kritis inilah yang akan peneliti ungkap terutama menyangkut bagaimana sesungguhnya konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman dalam rangka mensukseskan gerakan neo modernisme yang digagasnya, keunikan, kelebihan dan kekurangannya dari gagasannya tersebut.

B.  Rumusan Masalah

Melihat latar belakang seperti tersebut di atas, maka adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimanakah konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman?
  2. Apa yang unik dari konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman?
  3. Bagaimana kelebihan konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rhaman?
  4. Bagaimana kekurangan konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman?

C. Tujuan  Penelitian

Tujuan penelitian tesis ini adalah:

  1. Akan meneliti secara lebih jelas bagaimana sesungguhnya konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman.
  2. Akan meneliti keunikan dari konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman.
  3. Hendak meneliti kelebihan konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman.
  4. Hendak meneliti kekurangan konsep pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman.

D.  Kegunaan Penelitian

Sementara kegunaan penelitian tesis ini adalah:

Pertama, secara teoritis penelitian tesisi ini akan berguna dalam mengungkap model pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman yang tentunya, bila diperbandingkan, berbeda dengan model pendidikan akal para intelektual muslim lainnya.

Kedua, secara praktis penelitian tesis ini berguna untuk mengembangkan islami studies (kajian Islam), terutama terkait dengan model pendidikan akal, baik dalam arti formal, non formal, dan informal.

E. Kerangka Teori

1,   Pengertian pendidikan Islam

Pengertian pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan. Pendidik Islam ialah individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara islami dalam situasi pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan dan dituntun dalam al-Qur’an dan hadis.[19] Menurut Langgulung,[20] pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu at-Tarbiyyah ad-Din (pendidikan keagamaan), at-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah al-Muslimin (pendidikan orang-orang islam), at-tarbiyyah fil Islam (pendidikan dalam Islam), at-Tarbiyyah ‘inda muslimin (pendidikan dikalangan orang-orang Islam), dan at-Tarbiyyah al-Islamiyyah (pendidikan Islami).

Pendidik Islam ialah individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara islami dalam situasi pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Para ahli pendidikan lebih menyoroti istilah-istilah dari aspek perbedaan antara tarbiyyah dan ta’lim, atau antara pendidikan dan pengajaran. Dan dikalangan penulis Indonesia, istilah pendidikan biasanya lebih diarahkan pada pembinaan watak, moral, sikap atau kepribadian, atau lebih mengarah kepada afektif, sementara pengajaran lebih diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau menonjolkan dimensi kognitif dan psikomotor.[21]

Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial. Sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah.[22]

Sementara ilmu pendidikan Islam didefinisikan sebagai ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan. Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori, tetapi isi lain juga ada, yaitu teori, penjelasan tentang teori itu, dan data yang mendukung tentang penjelasan teori-teori tersebut.

Islam adalah nama agama yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw, yang berisi seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia, ajaran itu dirumuskan berdasarkan dan bersumber pada al-Qur’an dan hadis serta kekuatan akal. Penggunaan dasarnya haruslah berurutan :al-Qur’an lebih dahulu, bila tidak ada penjelasan atau tidak dijelaskan dalam al-Qur’an maka harus dicari dalam hadis, bila tidak ada atau tidak jelas di dalam hadis, baru menggunakan kekuatan akal (ijtihad atau pemikiran), tetapi temuan akal tidak boleh bertentangan dengan jiwa dan spirit al-Qur’an dan hadis.[23]

2.   Macam-macam pendidikan

Pendidikan Islam hingga kini boleh dikatakan masih berada dalam posisi problematik antara determenisme historis dan realisme praktis. Di satu sisi pendidikan Islam belum sepenuhnya bisa keluar dari idealisasi kejayaan pemikiran dan peradaban Islam pada masa lampau yang hegemonik. Sementara di sisi lain, ia juga dipaksa untuk menerima tuntutan masa kini, khususnya yang datang dari Barat, dengan orientasi yang praktis-progresif.

Dalam dataran historis-empiris, kenyataan tersebut acapkali menimbulkan dualisme dan polarisasi sistem pendidikan di tengah-tengah masyarakat muslim sehingga agenda tranformasi sosial yang digulirkan seakan berfungsi hanya sekedar tambal sulam saja. Oleh karena itu tak mengherankan apabila satu sisi kita masih saja mendapati tampilan sistem pendidikan Islam yang sangat tradisional karena tetap memakai “baju lama” (the old fashion), sementara di sisi lain kita juga mendapati sistem pendidikan Islam yang bercorak materialistik-sekularisrik.[24]

Bila dilihat dari sudut kelembagaan, menurut Mohammad Athiyah al-Abrasyi,[25] pendidikan Islam dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu

(a)  Pendidikan Kuttab

Pendidikan ini ialah yang mengajarkan al-Qu’ran kepada anak-anak di kuttab. Sebagian diantara mereka hanya berpengetahuan sekedar pandai membaca, menulis, dan menghafal al-Qur’an semata, belum sampai menyentuh pada penguasaan ilmu-ilmu umum.

(b)  Pendidikan Umum

 .Pendidikan umum ialah pendidikan pada umumnya, yang mengajarkan di lembaga-lembaga pendidikan dan mengelola atau melaksanakan pendidikan Islam secara formal, seperti madrasah-madrasah, pondok pesantren, atau pun seara informal, seperti pendidikan di dalam keluarga.

(c)  Pendidikan Khusus

Pendidikan khusus adalah pendidikan yang diselenggarakan secara khusus, seperti pendidikan yang dilakukan secara privat yang diberikan kepada peserta didik secara khusus, baik secara individual maupun secara kelompok.

Namun bila dilihat dari sudut bentuk penyelenggaraannya, Hasan Langgulung, membagi model pendidikan menjadi tiga, yaitu pendidikan formal, informal, dan non formal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggarakan secara formal oleh suatu departemen atau kementrian, seperti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Agama, dan kementrian lainnya. Model pendidikan formal juga memiliki jenjang yang terstruktur mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi.

Pendidikan informal adalah pendidikan yang diselenggarakan di dalam keluarga, yaitu pendidikan yang dilakukan para orang tua terhadap anak-anaknya. Pendidikan informal dilakukan tidak secara terstruktur dan tidak memiliki jenjang seperti dalam pendidikan formal, dan pelaksanaannya pun biasanya dilakukan sesuai dengan ketersediaan waktu para orang tua.

Sementara pendidikan non formal adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga privat dan dilaksanakan secara privat pula. Model pendidikan non formal biasanya dilakukan dalam bentuk training, privat, kursus, dan sebagainya.[26]

 

3.   Tujuan pendidikan Islam

Pendidikan merupakan bagian dari perjalanan hidup umat manusia yang ingin maju. Pendidikan adalah salah satu aspek dalam Islam dan menempati kedudukan yang sentral, karena peranannya dalam membentuk pribadi muslim yang utuh sebagai pembawa misi kekholifahan. Allah telah membekali manusia dengan akal (kemampuan berpikir) dan al-Qur’an memberi dukungan yang kuat bagi usaha manusia untuk meningkatkan standar kehidupan. Jika pendidikan Islam diorientasikan pada misi dan fungsi kehidupan manusia, maka orientasi ini lebih bernuansa pada performansi manusia, yaitu bagaimana manusia seharusnya berperan sebagai khalifah Allah dan sekaligus sebagai hamba Allah.[27]

Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.[28] Jadi, tujuan pendidikan Islam hendaknya dilakukan dalam rangka memperkuat basis keilmuan umat Islam dan mempertebal keimanan kepada Allah. Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam Q.S. adz-Dzariyat ayat 56, yang artinya: “Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.[29]

Abdul Fatah Jalal,[30] menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan salat, puasa pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah haji, serta mengucapkan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban setiap orang Islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang baik dan benar.[31] Ibadah ialah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah.

Sedang menurut Omar al-Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :

(a)  Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.

(b)  Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.

(c)  Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.[32]

Sementara itu, al-Abrasyi mererinci tujuan akhir dari pendidikan Islam sebagai berikut, yaitu : (a) pembinaan akhlak, (b) menyiapkan anak didik untuk hidup dudunia dan akhirat, (c) penguasaan ilmu, dan menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan bekerja dalam masyrakat. Menurut Asma Hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan Islam dapat diperinci menjadi beberapa tujuan berikut, yaitu : (a) tujuan keagamaan, (b) tujuan pengembangan akal dan akhlak, (c) tujuan pengajaran kebudayaan, dan (d) tujuan pembicaraan kepribadian.[33] Sementara menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan Ilam adalah : (a) bahagia di dunian dan akhirat, (b) menghambakan diri kepada Allah, (c) memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat Islam, dan (d) membangun akhlak mulia.[34]

Untuk mencapai semua tujuan di atas, maka kurikulum pedidikan sangat menentukan. Sementara sekarang ini kurikulum pendidikan Islam, lebih bersifat problematik, strategis, antipatif dan aplikatif untuk memecahkan problem-problem yang dihadapi umat manusia. Kurikulum pendidikan Islam diorientasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik masa kini, masa akan datang yang  berkorelasi dengan pembangunan  social,  kesejahteraan masyarakat, budaya dengan konteks  global, teknologi informasi.  Program kurikulum pendidikan Islam, perlu diorientasikan  pada learning competency (competency knowledge, skill, ability dan sosial-kultural), relevan dengan kebutuhan otonomi daerah dan bersifat lentur serta adaptif terhadap perubahan. Metodologi pendidikan Islam dalam proses belajar mengajar  harus menggunakan learning based, student learning dan bukan teaching learning dan diorientasi pada cara mengaktifan peserta didik, cara untuk menemukan, cara memecahkan masalah dengan menggunakan paradigma holistik, rasional, partisipatori dengan pendekatan emperik deduktif yang akan menjadi kunci pengembangan perserta didik untuk dapat menghasilkan perserta didik yang  berkualitas, kreatif, inovatif yang mampu menterjemahkan agama dalam perilaku sosial ditengah kehidupan masyarakat global menuju masyarakat madani. Manajemen pendidikan Islam diorientasikan pada menjamen berbasis sekolah (school-based management), desentralisasi dan otonomi sekolah dengan melibatkan orang tua peserta didik, masyarakat dan pengguna lulusan secara aktif dalam pengelolaan pendidikan.  Dilaksanakan secara efektif dan efisien dengan menuntut perencanaan dan langkah-langkah yang sistematis,  operasional, pengawasan dan pengendalian secara professional, dilakukan secara terpadu dan terintegrasi dalam sistem pengelolaan kegiatan manajemen pendidikan Islam.[35]

4.   Masalah dalam pendidikan Islam

Secara umum memang tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih sangat rendah. Ini nampak sekali pada komponen pendidikan yang ada baik itu pendidik, sarana dan prasarana, kurikulum, dan dana yang kurang memenuhi standart. Pendidik kita misalnya, banyak yang belum berkualifikasi sebagai pendidik yang profesional karena secara akademis mereka belum memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang pendidik (guru). Sarana dan prasarana ynag ada masih jauh dari layak. Kurikulum pendidikan pendidikan kita masig terjebak pada dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Anggaran pendidikan kita masih jauh dari standart, sehingga keberadaan pendidikan Islam masih tertinggal dari pendidikan umum.[36] Bila ditilik di lapangan, apa yang disinyalir Syafi’i Ma’arif ini ada benarnya, sebab walaupun pemerintah telah menyamakan pendidikan Islam dan pendidikan umum, baik dari sisi legalitas perundang-undangan dan pendanaan, namun sampai saat ini belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

Sementara dari luar sistem pendidikan yang ada, arus globalisasi dan informasi juga turut memberi pengaruh pada cara pandang masyarakat terhadap pendidikan, terutama pendidikan agama. Sehingga fenomena yang muncul adalah menomorduakan pendidikan agama. Begitu kompleks gambaran permasalahan dalam pendidikan kita, karena selain tantangan internal pendidikan kita juga dihadapkan pada tantangan eksternal sebagai imbas dari globalisasi.[37]

Pendidikan Islam yang bermakna usaha untuk mentransfer nilai-nilai budaya Islam kepada generasi mudaya, masih dihadapkan pada persoalan dikotomis dalam sistem pendidikannya. Pendidikan Islam bahkan diamati dan disimpulkan terkukung dalam kemunduran, kekalahan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, perpecahan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Bahkan, pendidikan yang apabila diberi embel-embel Islam, juga dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan.[38]

Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap sistem pendidikan Islam, yang akhirnya dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua dalam konstelasi sistem pendidikan di Indonesia, walaupun dalam undang-undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam mesupakan sub-sistem pendidikan nasional. Tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya, bahkan pendidikan Islam sering “dinobat” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin.

Dalam hal ini, maka pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini memberi kesan yang tidak menggembirakan. Meskipun, kata Muchtar Buchori, tidak dapat dipandang sebagai evidensi yang kongklusif dalam penglihatannya ialah kenyataan, bahwa setiap kali ada murid-murid dari suatu lembaga pendidikan Islam yang turut serta dalam lembaga cerdas tangkas atau lomba cepat-tepat di TVRI, maka biasanya kelompok ini mendapatkan nilai terenda. Evidensi kedua ialah bahwa partisipasi siswa-siswi dari dunia pendidikan Islam dalam kegiatan nasional seperti lomba Karya Ilmiah Remaja menurut kesan saya sangat rendah, dan sepanjang pengetahuan saya belum pernah ada juara lomba ini yang berasal dari lembaga pendidikan Islam.[39] Hal ini, merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Dalam konfigurasi sistem pendidikan nasional, pendidikan Islam di Indonesia merupakan salah satu variasi dari konfigurasi sistem pendidikan nasional, tetapi kenyataannya pendidikan Islam tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini. Apabila dirasakan, memang terasa janggal, bahwa dalam suatu komunitas masyarakat Muslim, pendidikan Islam tidak mendapat kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini. Apalagi perhatian pemerintah yang dicurahkan pada pendidikan Islam sangatlah kecil porsinya, padahal masyarakat Indonesia selalu diharapkan agar tetap berada dalam lingkaran masyarakat yang sosialistis religius.[40]

Realitas pendidikan Islam pada umumnya memang diakui mengalami kemunduran dan keterbelakangan, walaupun akhir-akhir ini secara berangsur-angsur mulai terasa kemajuaannya. Ini terbukti dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan beberapa model pendidikan yang ditaarkan. Tetapi tantangan yang dihadapi tetap sangat kompleks, sehingga menuntut inovasi pendidikan Islam itu sendiri dan ini tentu merupakan pekerjaan yang besar dan sulit. A. Mukti Ali, memproyeksikan bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan Islam dewasa ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti, kelemahan dalam penguasaan sistem dan metode, bahasa sebagai alat untuk memperkaya persepsi, dan ketajaman interpretasi (insight), dan kelemahan dalam hal kelembagaan (organisasi), ilmu dan teknologi. Maka dari itu, pendidikan Islam didesak untuk melakukan inovasi tidak hanya yang bersangkutan dengan kurikulum dan perangkat manajemen, tetapi juga strategi dan taktik operasionalnya. Strategi dan taktik itu, bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya sehingga lebih efektif dan efisien, dalam arti paedagogis, sosiologis dan cultural dalam menunjukkan perannya.[41]

5.   Model alternatif pengembangan pendidikan Islam

Pengembangan pendidikan Islam memerlukan adanya perencanaan secara terpadu dan menyeluruh yang berfungsi membantu memfokuskan pada sasaran, pengalokasian, dan kontinuitas. Sebagai suatu proses berfikir untuk menentukan hal yang akan dicapai, bagaimana pencapaiannya, siapa yang mengerjakannya, dan kapa dilaksanakannya, maka perencanaan juga memerlukan adanya kejelasan terhadap masa depan yang akan dicapai atau dijanjikan. Oleh karena itu dalam perencanaan ada semboyan: ”Lock is the result of good planning, and good planning is the result of information well applied”.[42] Di samping itu juga harus didukung adanya kegiatan riset dan evaluasi yang terencana dan terprogram, sehingga seluruh program yang terkait dengan pengembangan pendidikan terlaksana dengan baik dan benar, serta sesuai dengan tujuan utamanya.[43]

Penataan kembali sistem pendidikan Islam bukan sekedar modifikasi atau tambal sulam, tapi memerlukan rekonstruksi, rekonseptualisasi dan reorientasi, sehingga pendidikan Islam dapat memberikan sumbangan besar bagi pencapaian tahap tinggal landas.[44] Oleh karena itu perlu memperhatikan pertama, kejelasan antara yang dicita-citakan dengan langkah operasionalnya; kedua, pemberdayaan (empowering) kelembagaan yang ada dengan menata kembali sistemnya; ketiga, perbaikan, pembaharuan, dan pengembangan dalam sistem pengelolaan atau manajemen; dan keempat, peningkatan sumber daya manusia yang diperlukan.[45]

Selanjutnya, Malik Fajar[46] mengakomodasikan 3 kepentingan sebagai kebijakan mengembangkan madrasah dalam menghadapi perubahan di tengah-tengah masyarakat,  pertama kebijakan itu pada dasarnya harus memberi ruang tumbuh yang wajar bagi aspirasi utama umat Islam, yakni menanamkan dan menumbuhkan akidah Islamiyah putra-putri umat dan bangsa. Kedua, kebijakan itu memperjelas dan memperkukuh keberadaan madrasah sebagai ajang membina warga negara yang cerdas, berpengetahuan, berkepribadian, produktif dan sederajat dengan sistem sekolah. Madrasah harus menjadi tempat persemaian yang baik untuk menumbuhkan kreatifitas seni, dan juga tempat berlatih dalam mengembangkan ketrampilan bekerja.  Ketiga,  kebijakan itu bisa menjadikan madrasah mampu merespons tuntutan masa depan. Untuk ini, madrasah perlu diarahkan menjadi lembaga yang sanggup melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kesiapan memasuki era globalisasi, industrialisasi, ataupun informasi.[47]

Menghadapi hal tersebut, lembaga seperti UIN, IAIN, dan STAIN, tempat para pemikir Islam, khususnya Fakultas/Jurusan Tarbiyah, seharusnya mampu memainkan peran lebih untuk menyumbangkan konsep-konsep pendidikan alternatif yang berfungsi ganda, yaitu sebagai antisipasi perubahan masyarakat, dan sebagai realisasi ide-ide mengenal pembentukan suatu sistem kehidupan masyarakat yang lebih memberi peluang masyarakat untuk memahami kebenaran Islam melalui kegiatan pendidikan.

Sepaya lebih jelas, berikut adalah Gambar 1.1, yaitu Bagan kerangka pikir model pendidikan akal dalam perspektif Fazlur Rahman.