Artikel

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM MENURUT FAZLUR RAHMAN Oleh: H. Muhammad Afif

Administrator | Selasa, 24 Oktober 2017 - 10:08:08 WIB | dibaca: 90 pembaca

Pendidikan sebagaimana dirumuskan oleh Joe Park adalah sebagai the art or process of imparting or acquiring knowledge and habit through instruction as study.[1] Berdasarkan konsep tersebut, pendidikan hanya ditekankan pada aspek pengajaran (instructional), padahal menurur Ahmad Tafsir, pendidikan bukan hanya sekedar pengajaran, tetapi juga merupakan usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya.[2] Sementara pendidikan menurut Undang-Undang tentang sistem Pendidikan Nasional (UU No. 2 Tahun 1989), merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan,[3] sehingga dapat mengoptimalkan kesempurnaan hidup yang selaras dengan dunianya.[4]

Berdasarkan konsep-konsep tersebut, pendidikan berarti suatu proses yang diajukan untuk membina kualitas sumber daya manusia (SDM) seutuhnya, agar ia dapat melakukan perannya dalam kehidupan secara fungsional dan optimal, sehingga terbentuk pribadi sempurna, baik yang berhubungan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan.[5] Dengan demikian, pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi lainnya, sehingga menjadi manusia yang lebih matang, lebih dewasa, berpikir objektif, dan lain sebagainya.

Sementara pendidikan dalam arti sistem adalah merupakan suatu kegiatan yang di dalamnya harus mengandung beberapa unsur berikut, yaitu: unsur tujuan, kurikulum, pengajar, metode, anak didik, lingkungan, manajemen, dan sebagainya, yang antara satu dengan lainnya berkaitan erat dan membentuk satu kesatuan sistem yang utuh,[6] terpadu dan integral.

Kurikulum secara fungsional dapat diartikan sebagai program studi, reproduksi kultural,[7] dan juga sebagai produk.[8] Kurikulum yang dapat diartikan sebagai manhaj atau seperangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diharapkan,[9] dan memiliki beberapa prinsip berikut: Berorientasi pada tujuan, terdapat relevansi yang sinergis, efektif dan efisiensi, pleksibilitas, integritas, kontiunitas, singkronisme, objektifitas, demokrasi dan analisis.[10] Kesemuanya itu pada dasarnya tidak lebih dari input instrumental yang misi utamanya mengantarkan proses edukasi yang efisien.[11]

Pada dasarnya arah kurikulum pendidikan sangat dipengaruhi oleh dasar filosofisnya. Dasar tersebut membawa konsekuensi rumusan kurikulum pendidikan pada tiga dimensi pokok, yaitu dimensi ontology, epistemologi, dan aksiologi. Dari ketiga dimensi itu, dimensi epistemologi merupakan permasalahan yang akan dibahas berikutnya. Mengingat filsafat epistemologi dipandang sebagai kunci pokok pada setiap inti permasalahan kajian, demikian halnya dengan kurikulum pendidikan Islam.

Berdasarkan filsafat epistemology, pendidikan berusaha menjelaskan berbagai makna yang menjadi dasar segala istilah pendidikan.[12] Sumber dasar falsafah pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah, serta sisi historis kehidupan Rasulullah secara keseluruhan. Menurut Al-Jamali,[13] al-Qur’an bagi kaum Muslimin adalah kitab filsafat pendidikan yang paling besar. Namun demikian, yang menjadi permasalahan berikutnya adalah bagaimana cara memahami, menafsir dan mengimplementasikan sumber itu. Sebab bila terjadi kesalahan penanganan -sangat mungkin- akan melahirkan falsafah kurikulum pendidikan Islam yang tidak dikehendaki al-Qur’an.

Menurut Fazlur Rahman,[14] ada beberapa kesalahan pada gerakan pembaharuan pendidikan Islam yang dilakukan umat Islam kontemporer. Pertama adalah kesalahan dalam pemahaman terhadap al-Qur’an dengan tidak menggunakan metodologi yang tepat. Menurutnya, pendidikan di dunia Islam kontemporer diselimuti oleh kebingungan tersebut. Kedua, terjadi pemahaman yang parsialitas, sehingga memunculkan kesan antara ayat satu dengan ayat lainnya, atau antara satu bagian dengan bagian lainnya, nampak saling bertentangan dan tidak konsisten. Ketiga, adanya kesalahan yang pernah dilakukan oleh sebagian kalangan modernis, dengan secara serampangan, dengan cara mengadopsi metodologi pendidikan Barat yang sudah netral dari nilai-nilai moral. Dan filsafat pendidikan yang demikian, menurut Rahman, akan menjadikan manusia tumbuh menjadi manusia-manusia yang tidak bermoral dan akan cenderung berperilaku seperti binatang.

Atau paling tidak, proses modernisasi pendidikan di dunia Islam pada awal perkembangannya berpegang pada dua pola utama, yaitu Pertama, pemerolehan pengetahuan modern hanya dibatasi pada bidang teknologi praktis, karena dalam bidang pemikiran murni kaum Muslimin tidak memerlukan produk intelektual Barat. Kedua, adanya asumsi bahwa kaum Muslimin bisa dan harus memperoleh tidak hanya teknologi Barat saja, tetapi juga intelektualismenya, karena tidak ada satu jenis pengetahuan pun yang merugikan.

Melihat fenomena seperti itu, Rahman[15] berpendapat bahwa pendekatan pertama akan melahirkan sikap dualisme antara sikap kepada “agama” dan sikap kepada “dunia”. Pemahaman ini pada akhirnya akan merusak lembaga pendidikan menjadi terpisah, sebagaimana telah dijelaskan pada sub bab terdahulu. Dan sampai kapanpun sistem dualisme tidak akan pernah bermanfaat bagi dunia pendidikan Islam, bahkan hal tersebut cenderung akan mengarah pada pendidikan sekuler. Yaitu suatu sistem pendidikan yang tidak lagi peduli dengan masalah-masalah agama.

Mengenai pendekatan kedua, Rahman berkomentar akan pentingnya semangat ilmiah dan intelektualisme. Semangat ilmiah sebenarnya didorong oleh al-Qur’an sejak awal, yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan akan arti pentingnya mengadakan penyelidikan terhadap alam. Dan semangat intelektualisme yang terjadi di dunia Barat sesungguhnya adalah semangat yang pernah dipesankan oleh para saintis Muslim pada masa kejayaan. Namun dalam perkembangan selanjutnya pesan tersebut terkubur oleh adanya justivikasi “pintu ijtihad tertutup.” Oleh sebab itu, semangat ilmiah dan intelektualisme secepat mungkin harus dimiliki kembali oleh setiap pribadi yang mengaku dirinya Muslim.

Dan satu hal lagi yang dipesankan Rahman adalah bahwa proses pembangunan dunia pendidikan Islam harus didasarkan pada nilai-nilai yang pasti, tidak seperti proses pembangunan pendidikan di Barat, yang mendasarinya dengan nilai-nilai yang relative. Bagi Islam, relativitas nilai-nilai tidak perlu dipegang dalam pembangunan pendidikan Islam. Menurut Rahman,[16] nilai-nilai etika universal adalah tulang punggung dari sebuah masyarakat. Sebab masyarakat yang dibangukan atas dasar nilai-nilai yang dianggap relative, tidak akan mempunyai arah perjuangan yang jelas. Namun ada kecenderungan umum bahwa dunia Islam relative terlena oleh falsafah dan ilmu pengetahuan Barat, dengan melupakan tradisi historis Islam, yang sesungguhnya akan menghancurkan masyarakat Islam itu sendiri. Pola adopsi sistemik yang sering dilakukan, tidak akan bermanfaat kalau pikiran masyarakatnya tidak diubah. Demikian juga pengaruhnya, akan cenderung mengesampingkan agama dan tujuan kurikulum yang telah ditetapkan.[17] Jadi bagi Rahman, proses pembaharuan kurikulum pendidikan Islam bukan hanya sekedar mengadopsi dari Barat, atau bukan hanya mempoles nilai-nilai tradisional atau hanya sekedar mencampur antara yang satu dengan yang lainnya. Tetapi tujuan kurikulum yang benar adalah apabila pendidikan diletakkan sebagai “rendering it capable of creative Islamic intellectual productivity in all fields of intellectual endeavor with the serious commitment to Islam.”[18]

Disamping itu, wawasan kaum Muslimin, menurut Rahman, juga harus ditingkatkan dengan cara menaikkan standar-standarnya. Sebab dalam pemahamannya, “ilmu yang tidak meluaskan ufuk wawasan merupakan ilmu yang setengah matang dan membahayakan.” Ilmu yang setengah-setengah akan memberikan orientasi yang keliru, karena pengetahuannya kurang memadai.

Dalam kaitan ini, Rahman menginginkan adanya pembaharuan yang bukan tambal sulam. Sikap depensif merupakan sikap mental yang mempengaruhi kepada model pengetahuan yang dikembangkan. Terlebih kalau pengetahuan yang dikembangkan hanya bersifat mencampur pengetahuan yang lama dengan yang baru secara mekanis. Oleh sebab itu, sikap yang mesti diambil adalah bersungguh-sungguh merumuskan tujuan pembaharuan dalam kurikulum dengan rumusan yang benar-benar bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi.[19]

Kekeliruan berikutnya yang terjadi dalam pembaharuan pendidikan Islam, menurut Rahman adalah adanya ketidaksingkronan dalam menghubungkan antara tujuan-tujuan, yaitu antara orientasi ideology, ilmu pengetahuan dan agama itu sendiri. Dengan adanya kegagalan ini, seolah-olah siswa dikejar dengan salah satu tujuan sata atau tanpa tujuan, sehingga tidak terinspirasi untuk belajar secara kreatif. Oleh karena itu, secepat mungkin perlu dibangun hubungan signifikan antara tujuan pengetahuan, ideology, dan etika moral Islam dalam sebuah rumusan tujuan pendidikan Islam, termasuk kebutuhan riil negara dan bangsa.[20]

Sebenarnya tujuan pendidikan Islam secara lengkap telah dirumuskan oleh World Converence on Muslim Education yang diselenggarakan di Mekah pada tahun 1977, yaitu:

“Education should aim at balanced growth of the total personality of man though the training of man’s spirit, intellect, the rational self, feeling and bodily sense. Education should therefore cater for the growth of man in all its aspects, spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively and motivate all these aspects towards goodness and the attainment of perfection. The ultimate aim of Muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at lage.”[21]

Rumusan tujuan pendidikan Islam tersebut memuat tujuan yang lengkap, meliputi seluruh aspek dan cakupan yang begitu luas. Dan bila dibandingkan dengan sasaran dan rumusan tujuan pendidikan yang disampaikan Rahman, ia hanya menginginkan satu aspek saja, yaitu standar intelektual yang tinggi. Dalam pandangan Rahman, intelektualitas berhubungan timbal balik dengan nilai-nilai iman dan moralitas. Rumusan itu lebih berorientasi praktis pragmatis, karena melihat kebutuhan riil masyarakat Muslim kontemporer. Aspek inilah, menurut Rahman, yang tidak terdapat dalam dunia pendidikan Islam.

Bagi Rahman, berbagai kemunduran yang dialami umat Islam, tidak lebih karena lemah dan rendahnya intelektualisme umat Islam. Oleh karena itu wajar, bila dalam setiap tulisannya ia selalu menggunakan strategi shock treatment. Ketika dikonfirmasi oleh salah seorang muridnya dari Malaysia tentang gerakan ini, ia menjawab bahwa Islam telah beratus tahun tertidur, maka cara membangunkannya harus dengan cara yang lebih menggugah, bukan dengan cara yang lemah lembut.[22] Dan disinilah, kenapa Rahman sering mengungkapkan pandangan yang controversial, seperti masalah bunga bank, demokratisasi, masalah aurat, pendidikan kaum wanita, termasuk pandangannya tentang al-Ghozali yang banyak dituduh oleh Fazlur Rahman sebagai seorang yang paling bertanggung jawab atas kemunduran umat Islam.

Diantara sekian kritik yang dialamatkan Rahman kepada al-Ghozali, bahwa al-Ghozali telah membuat klasifikasi ilmu yang membahayakan umat Islam. Demikian pula, al-Ghozali telah mempelopori gerakan esoteris pada masa akhir hayatnya, yang kemudian banyak ditiru oleh umat Islam secara salah. Kritik senada juga pernah disampaikan oleh Sayed Hosein Nasr terhadap diri Abu Hamid Muhammad al-Ghozali.[23]

 

 

Bibliografi:

Ahmad Tafsir, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992).

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994).

A.M. Saefuddin, “Konsep Pendidikan Agama: Sebuah Pendekatan Integratif,” dalam Endang Basri Ananda (peny.), Tujuh Puluh Tahun Prof. DR. H.M. Rasyidi, (Jakarta: Harian Utama Pelita, 1985).

Ali Syaifullah, Pengembangan Kurikulum Teori dan Model, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982).

Fazlur Rahman, Islam and Modernity of an Intellectual Tradition, Paper Bach Edition, (Chicago and London: The University Press of Chicago, 1982).

Fazlur Rahman, “The Qur’anic Solution of Pakistan’s Educational Problem,” dalam Islamic Studies, Vol. IV, No. 4, (1967).

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, Cet. 2, 1989).

Herbert M. Kliebard, “Bureaucracy and Curriculum Theory,” dalam Freedom Bureaucracy & Schooling, (T.Tp.: T.p, t.t.).

Joe Park (ed), Selected Reading in the Philosophy of Education, (New York: The Macmillan Company, 1960).

John S Brubacher, Modern Philosophy of Education, (New Delhi: Tata McGraw hill Publishing Company, 1969).

Kemendiknas, Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaannya (UU No. 2 Tahun 1989), (Jakarta: Sinar Grafika, 1993).

Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Majlis Luhur Taman Siswa, 1962).

Muhammad Fadlil al- Jamaly, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, terj. Judi Al-Falasani, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986).

Muhammad Ansyar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Depdikbud, 1989).

Muhammad Fadhil Al-Jamali, Al-Falsafah Al-Tarbiyah fi Al-Qur’an, terj. Judi Al-Falasany, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986).

Muhammad Ali Al-Khoily, Qamus Tarbiyah, Inggris-Arab, (Beirut: Dar al-Ulum, t.t).

S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, Cet. 2, 1995).

Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syalbani, Falsafah Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 1, 1979).

Syed Muhammad Al-Naquib al_atas, Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Haidar Bagir, (Bandung: Mizan, Cet. 4, 1992).

Wan Mohammad Nor Wan Daud, “Fazlur Rahman Kesan Seorang Murid dan Teman,” dalam Journal Qur’an, Vol. II, No. 8 (1991/1411).

Sayed Husein Nasr, Sains dan Peradaban di dalam Islam, terj. J. Mahyuddin, (Bandung: Pustaka, 1986).



[1] Joe Park (ed), Selected Reading in the Philosophy of Education, (New York: The Macmillan Company, 1960), hal. 3.

[2] Ahmad Tafsir, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hal. 6. Juga John S Brubacher, Modern Philosophy of Education, (New Delhi: Tata McGraw hill Publishing Company, 1969), hal. 96.

[3] Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaannya (UU No. 2 Tahun 1989), (Jakarta: Sinar Grafika, 1993), hal. 3.

[4] Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Majlis Luhur Taman Siswa, 1962), hal. 14-15.

[5] Muhammad Fadlil al- Jamaly, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, terj. Judi Al-Falasani, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986), hal. 3.

[6] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994), hal. 47.

[7] Muhammad Ansyar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Depdikbud, 1989), hal. 8 – 9.

[8] Lihat buku S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, Cet. 2, 1995), hal. 9.

[9] Muhammad Ali Al-Khoily, Qamus Tarbiyah, Inggris-Arab, (Beirut: Dar al-Ulum, t.t), hal. 103.

[10] Ali Syaifullah, Pengembangan Kurikulum Teori dan Model, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hal. 52-59.

[11] Lihat Herbert M. Kliebard, “Bureaucracy and Curriculum Theory,” dalam Freedom Bureaucracy & Schooling, (T.Tp.: T.p, t.t.), hal. 74-93.

[12] Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syalbani, Falsafah Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. 1, 1979), hal. 30.

[13] Muhammad Fadhil Al-Jamali, Al-Falsafah Al-Tarbiyah fi Al-Qur’an, terj. Judi Al-Falasany, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986), hal. 1.

[14] Untuk lebih jelas lihat Fazlur Rahman, Islam and Modernity of an Intellectual Tradition, Paper Bach Edition, (Chicago and London: The University Press of Chicago, 1982), hal. 171, 143, dan 159.

[15] Fazlur Rahman, Islam and Modernity…, hal. 46-47.

[16] Untuk lebih jelas lihat Fazlur Rahman, Islam and Modernity…, hal. 160.

[17] Bandingkan dengan A.M. Saefuddin, “Konsep Pendidikan Agama: Sebuah Pendekatan Integratif,” dalam Endang Basri Ananda (peny.), Tujuh Puluh Tahun Prof. DR. H.M. Rasyidi, (Jakarta: Harian Utama Pelita, 1985). Hal. 237-238.

[18] Lihat Fazlur Rahman, Islam and Modernity…, hal. 134.

[19] Fazlur Rahman, Islam and Modernity…, hal. 135. Bandingkan dengan Syed Muhammad Al-Naquib al_atas, Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Haidar Bagir, (Bandung: Mizan, Cet. 4, 1992), hal. 83-95.

[20] Fazlur Rahman, “The Qur’anic Solution of Pakistan’s Educational Problem,” dalam Islamic Studies, Vol. IV, No. 4, (1967), hal. 320-321.

[21] Dikutip dari Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, Cet. 2, 1989), hal. 151-152.

[22] Untuk lebih jelas lihat Wan Mohammad Nor Wan Daud, “Fazlur Rahman Kesan Seorang Murid dan Teman,” dalam Journal Qur’an, Vol. II, No. 8 (1991/1411), hal. 106-111.

[23] Lihat Sayed Husein Nasr, Sains dan Peradaban di dalam Islam, terj. J. Mahyuddin, (Bandung: Pustaka, 1986), hal. 284.