Artikel

M. Saekan : Model Pembelajaran di MI itu Doktriner

TIPD STAIN Kudus | Sabtu, 03 Juni 2017 - 07:04:20 WIB | dibaca: 369 pembaca

 

 

 

Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah (pasal 17 ayat 1). Pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa pendidikan dasar berbentuk Sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (MTS/SMP) atau  bentuk lain yang sederajat. Pasal 17 ayat 2).

Berdasarkan undang undang tersebut, pendidikan dasar diterdiri dari pendidikan di MI/SD dan pendidikan di MTS /SMP. Jenjang pendidikan madrasah Ibtidaiyah (MI) /Sekolah dasar (SD) dapat dikatakan jenjang pendidikan pertama dan utama dalam konteks pendidikan formal. Pendidikan dan pembelajaran di MI/SD menjadi landasan untuk pengembangan pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan secara optimal bagi peserta didik. Kualitas masa depan akan ditentukan sejauhmana motivasi atau gairah dalam melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran mulai jenjanag MI/SD.

Dilihat dari perspektif teori Jean Piaget, pendidikan di MI/SD adalah proses perkembangan masa operasional kongrit yanitu rentang waktu 7-12 tahaun, dimana rentang waktu ini anak mulai mengenal dirinya dan orang lain melalui optimali potensi yang ada did alam dirinya. Konsekuensinya pembelajaran di MI harus mampu mengembangkan seluruh potensi untuk pengembangan di masa mendatang. Dari teori psiko-analisa, pada masa usia 7-12 tahun adalah masa mencari jati diri yang diwujudkan dengan cara mencontoh (uswah) kepada orang lain yang dianggap memiliki kelebihan  di mata anak. Dari perspektif teori John Locke dan Francis Bacon  yang dikenal dengan “tabularasa” maka pembelajaran di MI adalah proses untuk menggambar atau memberi warna kepada anak didik secara tepat agar gambaran atau  proses mewaranai benar benar memberi makna dan bermakna di masa mendatang. Dengan kata lain proses pendidikan dan pembelajaran di MI dapat dikatakan sangat netral dan bisa di arahkan atau digeser kemanapun tergantung dari guru atau orang yang ada disekitarnya.

Undang Undang republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintah republic Indonesia (PP) nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dijelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (pasal 1 ayat 18). Pembelajaran pada hakekatnya adalah terjadinya interaksi atau komunikasi antara peserta didik dengan peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar . Olah sebab itu ddikatakan pembelajaran jika semua elemen minimal peserta didik dan guru benar benar aktif untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada didalam dirinya.

Pembelajaran memiliki peran sangat besar dalam membentuk atau mempengaruhi pengetahuana dan pemahaman peserta didik. Pembelajaran memiliki faktor signifikan untuk mewujudkan kualitas pendidikan. Melalui pembelajaran ini dapat diprediksi tentang kualitas pendidikan dan kualitas lulusan. Guru harus memiliki kemampuan untuk melakukan elaborasi pembelajaran yang tepat agar semua potensi yang ada di dalam dirinya peserta didik benar benar mampu dikembangkan secara optimal. Oleh sebab itu perlu dilakukan model pembelajaran di MI agar peserta didik di MI benar benar dapat mengembangkan seluruh potensinya.

Model adalah suatu bangunan atau sistem yang memiliki berbagai komponen atau elemen yang saling terkait, jika salah satu elemen atau komponen rusak akan mengganggu atau merusak cara kerja dari bagunan tersebut. Model memiliki berbagai elemen yang mampu menunjukkan pola atau jenisnya. Model pembelajaran berarti memiliki beberapa elemen yang menggambarkan cara kerja dari model tersebut.

Pembelajaran di MI/SD harus dilakukan dalam rangka menanamkan keyakinan, pengetahuan dna ketrampilan secaar total kepada peserta didik agar peserta didik benar benar mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sosialnya. Apa yang diterima dan diyakini benar benar menjadi nilai nilai kehidupan (internalization). Pembelajaran di MI/SD tidak cukup sekedar memebrikan pengetahuan dan ketrampilan, melainkan harus benar benar diakui kebenaran secara mutlaq sehingga peserta didik sanggup menjalankan apa yang diketahui, dipahami dan diyakini. Pembelajaran di MI/SD tidak cukip hanya menceritakan tentang iman dan islam, tetapi apa yang diketahui dan diyakini tentang iman dan islam benar benar menjadi nilai kehidupan sosialnya. Informasi tentang keberadaan atau wujud Tuhan (Allah) tidak cukup diketahui dan diyakini, tetapi eksistensi (wujud) Allah benar benar   dapat diejawantahkan dalam kehidupan sosialnya. Proses penanaman pengetahuan dan keyakinan secara optimal agar dapat dijadikan sistem kehidupan sosialnya dapat disebut sebagai proses Doktrin. Dengan demikian, pembelajaran di MI dapat dikatakan sebaagi model pembelajaran Doktriner.

Mengapa dikatakan doktriner? Karena proses pembelajaran di MI harus mampu menanamkanaa pengetahuan dan keyakinan  kepada peserta didik, dan peserta didik benar benar mau menerima sebagai suatu kebenaran yang mutlaq tanpa ada kritik sedikitpun. Peserta didik percaya sepenuh hati atas semua informasi yang disampaikan dari gurunya.

Jenjang pendidikan MI salah satu jenis pendidikan agama, yang memiliki misi untuk mengembangkan atauaa mengoptimal potensi keagamaan yang ada di dalam diri peserta didik. Konsekeunsinya pembelajaran di MI harus mampu mendekatkan peserta didik kepada Allah swt, bukan sebaliknya menjauhkan peserta didik dengan Allah swt. Doktrin yang perlu disampaikan dalam pembelajaran di MI adalah doktrin tenetang keimanan, ketaqwaan, doktirn agar peserta didik rajin sholat lima waktu, rajin puasa ramadhan, rajin menjaga kelestarian lingkungan, benar benar menghormati dan menghargai sesame, taat dan patuh kepada kedua orang tua dll.

Model dotriner dilakukan dengan cara memberikan kisah atau cerita yang menyenangkan dan meyakinkan bagi peserta didik dan cerita itu benar benar dianggap sebagai suatu kenyataan kehidupan. Konsekuensinya guru harus pandai pandai menyusun scenario atau cerota yang meyakinkan bagi siswa. Pada zaman dahulu, ketika saya masih kecil, pada saat menjelang tidur selalu diawali dengan dongeng dari ibu atau simbah tentang dongeng “kancil nyolong timun” (kancil mencuri ketimun), ada juga dongen “ Anak yang tidak mau sekolah di makan buto ijo”. Dongeng tersebut benar benar mampu menyebtuh dan “menghipnotis” perasaan saya sehingga saya benar benar takut menajdi orang yang tidak pinter dna saya juga taakut untuk tidak sekolah. Karena kalau saya tidaks ekolah alias di rumah sendiri akan di datangi buto ijo dan terus di makan. Ini semua kisah atau dongeng yang mampu diyakini oleh anak sehingga anak benar benar perdaya dengan apa yang didongengkan atau diceritakan.

Pada masa awal kemerdekaan tepatnya pada masa Partai Komunis Indonesia (PKI) berkuasa, konon ceritanya, setiap pagi sebelum masuk sekolah, anak anak di SD dikumpulkan di halaman sekolah dan guru guru yang memiliki afiliasi ke PKI meminta anak anak untuk berdoa dan meminta kepada Tuhan yang maha Esa. Guru guru di sekolah tersebut, memerintah peserta didik untuk segera berdoa dengan memejamkan matanya dan meminta roti kepada Tuhan : “ ya Tuhan saya minta roti”, kemudian guru guru meminta  membuka mata siswa dan melihat kedua tangannya. Guru guru bertanya, apakah di tanagn anda ada roti? Anak anak menjawab serentak “Tidak adaaa”.  Guru guru tersebut meminta mengulangi lagi doanya seperti semula. Lagi lagi ketika kedua amata peserta didik di buka tidak ada roti seperti yang diminta kepada Tuhan.

Guru guru yang memiliki afiliasi ke PKI memiliki sstrategi licik, setelah anak anaka minta kepada Tuhan dua kali tidak diberi roti, untuk yang ketiga kali anak anak diminta berdoa ataua meminta abukan kepada Tuhan tetapi berdoa atau meminta lanagsung kepaad bapak dan ibu guru. Ayo anak anak, minta langsung kepada bapak dan ibu guru. “bapak dan ibu guru saya minta roti”, setelah kedua mata dibuka, semua atangan anak anak tersebut di kasih roti oleh gurunya. Kemudian gurunya bertanya, sekarang kedua tangan anda sudah ada roti sesuai doa/permintaan anda. Sekarang bapak guru bertanya, yang ada itu Tuhan atau bapak/ibu guru?, siswa serentak menjawab yang ada bapak/ibu guru, Tuhan tidak ada. Ini contoh sekilah model doktrin orang orang PKI yang ingin menjauhkan peserta didik dari Tuhan. Sebaliknya semua guru MI, harus mampu mendoktrin untuk mendekatkan diri peserta didik kepada Allah swt. (Taqarrub Ilallah).

Guru MI dalam menjalankan pembelajaran doktriner harus mampu menyusun atau membuat kisah atau cerita yang benar benar dapat diyakini peserta didik. Agar peserta didik benar benar taat dan patuh kepada kedua orang tua, maka guru MI harus panadai menyusun kisah atau dongen yang menceritakan jika anak berani melawan orang tua, maka akibatnya akan mati dimakan buaya. Agar peserta didik rajin sholat dan puasa ramadhan, maka guru Mi harus pandai menyusun dongen bahwa jika orang hidup dibinia tidak pernah sholat dan tidak mau puasa ramadhan maka besok mereka akan dijepit bumi ketika di makamkan atau dikubur. Atau dengan cerita serita lainnya.

Model pembelajaraan doktriner memiliki beberapa komponen atau persyaratan antara lain:

Pertama, Sosok guru yang cerdas. Guru yang cerdas sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaraan doktriner di MI/SD. Guru pada umumnya dan khususnya aguru MI/SD wajib cerdas, yaiytu cerdas membuat kisah aatu cerita yang meyakinkan dan siswa benar benar mau percaya tanpa ada kritik sedikitpun. Kisah atau dongen untuk mendekatkan diri kepaad Allah swt, hanya akan ditemukan dalam diri sosok guru MI yang cerdas dalam artian memiliki wawasan dan informasi yang luas dan memiliki analisis dan kreativitas yang tinggi.

Kedua, Uswah (contoh). Pembelajaran doktriner mensyaratkan adanya sosok guru yang benar benar mampu sebagai contoh (uswah) bagi peserta didik. Jika semua peserta didik sudaha menjaidkan idola abagi gurunya, maka apa yang dikatakan oleh Guru akan selalu di ikuti tanpa ada pikir panjang bagi siswa tersebut. Uswah atau contoh akan muncul dari dalam diri guru jika guru memiliki kelebihan dimata peserta didik. Kelebihan yang pantas dijadikan idola bagi siswa adalah  kelebihan dalam hal pengetahaun (wawasan) dan ahlaq. Jika guru memiliki dianggap sosok orang yang cerdas dan pinter dan memiliki sikap dan perilaku yang baik di mata siswa, maka peserta didik akan menjadikan idola  dalam kehidupan sosialnya. Jika peserta didik sudah menjadikan idola, maka model doktrin akan mudah di tanamkan.

Ketiga, Cerita atau dongeng yang siap disajikan kepada peserta didik salaam proses pembelajaraan. Dalam pembelajaran doktriner, harus memiliki cukup persediaan dongeng atau cerita yang menggambarkan resiko resiko anak kala bersikap dan berbuat jahat. Sewaktu waktu  kisah tersebut bisa disampaikan kepada siswa agar siswa memiliki keyakinan secara optimal dalam menjalani kehidupan sosialnya.

Keempat, Tehnik motivasi pembelajaran. Pembelajaran doktriner perlu didukung dengan motivasi yang tinggi dari peserta didik. Konsekeunsinya setiap guru yang menjalankan model pembelajaran doktriner harus memiliki ketrampilan member motivasi belajar bagi peserta didik agar optimal dalam melaksanakan proses pembelajaran.