Berita

M. Saekan : Profil Kiai Kudus Sangat Unik

TIPD STAIN Kudus | Jumat, 02 Juni 2017 - 06:59:04 WIB | dibaca: 323 pembaca

 

 

Profil secara umum diartikan cara fikir atau visi pemikiran, sikap, perilaku atau aspek aspek yang dominan melekat dalam diri seseorang sehingga masyarakat mudah untuk mengenalinya. Menurut Kamus besar bahasa  Indonesia, Profil diartikan sketsa atau kerangka umum terhadap sesuatu.

Profil Kiai Kudus dalam tulisan ini dimaksudkan cara fikir, sikap atau hal hal yang dilakukan seorang Kiai dalam mengelola dan mengembangkan pondok pesantrennya. maka profil ini dilihat dari aspek gaya atau pola dalam mengelola atau memimpin pondok pesantren. berdasaarkan hasil penelitian Lembaga Swa daya masyarakat (LSM) bernama Cermin (penulis juga ikut sebagai TIM peneliti tahun 2005)  menghasilkan 7 (tujuh)  profil Kiai Kudus dalam mengelola pondok pesantren sebagai berikut:

Pertama, kiai dengan profil kepemimpinan masyarakat (community leader), yaitu seorang kiai yang dikenal kebesarannya. Baik kebesaran kepribadian pribadinya maupun pesantrennya, disebabkan karena seorang kiai itu memiliki posisi atau jabatan dalam organisasi sosial keagamaan, organisasi politik, atau memiliki jabatan dalam kekuasaan tertentu. Memang tidak dapat dipungkiri keberhasilan kiai dalam menduduki posisi atau jabatan publik juga disebabkan karena kiai itu memiliki nama besar pesantrennya. Dalam perkembangan berikutnya jika kiai itu sudah memilki posisi dalam organisasi kemasyarakatan atau jabatan publik, masyarakat melihat kebesaran namanya tidak lagi didasarkan atas pengelolaan pesantrennya tapi lebih kepada sosok pejabat publik. Dengan demikian, ketenaran atau nama besarnya di mata masyarakat bukan lantaran tokoh pesantrennya melainkan dikenal sebagai tokoh masyarakat karena memiliki jabatan atau posisi yang bersifat publik.

Kedua, kiai berprofil kepemimpinan keilmuan (intelektual leader), yaitu seorang kiai yang memiliki kebesaran pribadi dan pesantrennya disebabkan karena sang kiai dianggap memiliki keahlian bidang ilmu secara mendalam yang dijadikan rujukan atau panutan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Setiap harinya kiai ini lebih diposisikan sebagai pembuat fatwa bagi masyarakat yang tidak hanya semata-mata urusan ibadah (ritual) keagamaan, melainkan juga urusan di luar ritual keagamaan. Sosok kiai yang memiliki profil intelektual leader, di mata masyarakat adalah sosok kiai yang memiliki keahlian di bidang ilmu sangat mendalam. Kebesarannya benar-benar disebabkan karena penguasaan atau kemahiran dalam mengembangkan atau mendalami ilmu pengetahuan secara komprehensif. Kiai ini dikenal karena pengusaan ilmu tafsir, falak, hukum Islam, fiqh. Sosok kiai ini juga dikenal sebagai tokoh yang benar-benar mampu mengayomi masyarakat dari segala keresahan dan persoalan. Predikat profil intelllectual leader seorang kiai akan lebih sempurna, bukan hanya disebabkan karena kiai itu memiliki kemahiran atau keahlian dalam menguasai ilmu tertentu, tetapi juga didasarkan atas kualitas penguasaan ilmu pengetahuan mendalam, kalau masyarakat memiliki keraguan dalam integritas moralnya, maka sosok kiai itu akan sulit dikategorikan termasuk kiai yang berprofil intellectual leader.

Ketiga, kiai berprofil kepemimpinan rohani (spiritual leader), yaitu kiai yang kebesaran pribadi dan pesantrennnya lebih disebabkan karena sang kiai memliki kemampuan dalam urusan peribadatan (imam mushala/masjid), menjadi mursyid (guru) thariqah dan menjadi panutan moral keagamaan. Kiai ini sering memberi fatwa kepada masyarakat, tetapi lebih kepada fatwa yang bersifat murni ritual keagamaan yang bersifat personal, seperti ilmu hikmah. Sosok kiai seperti ini sering berkiprah dalam lahan privat kegamaan. Sosok kiai itu seringkali diposisikan sebagai pemimpin mushala, pemimpin hajatan, pemimpin doa dalam acara keluarga, serta dimintai fatwa dalam urusan mistii keagamaan, seperti mencari hari yang baik dalam pernikahan, hari yang tepat untuk melaksanakan kegiatan bagi masyarakat.

Keempat, kiai dengan profil kepemimpinan administratif (administrative leader), yaitu posisi kiai dalam pesantrennya hanya berperan sebagai seorang penanggung jawab, sedangkan pembinaan proses pembelajarannya diserahkan kepada seorang yang dianggap memiliki kualifikasi sesuai dengan visi dan misi pesantrennya. Dalam kepemimpinan ini seorang kiai tidak terjun langsung melakukan pembelajaran, kiai hanya berperan sebagai manajer dan bertugas mengelola lembaga. Munculnya profil kepemimpinan administratif (administrative leader) ini lebih disebabkan oleh dua faktor. Pertama, karen kesibukan tugas yang dimiliki kiai itu. Bagi kiai yang memiliki mobilitas tinggi di luar pesantrennya, mereka tidak memiliki waktu banyak dalam memberi perhatian kepada santrinya. Agar perhatian dan proses pendidikan tetap berjalan secara baik, maka kiai itu mengangkat seorang yang dianggap sudah mumpuni di bidang ilmu yang dikembangkan pesantrennya. Kedua, faktor keturunan (nasab). Diakui atau tidak, predikat kiai masih lebih didominasi unsur nasab. Munculnya sebutan kiai kepada seseorang tidak selalu disebabkan karena kemampuan dalam bidang ilmu agama. Predikat kiai bisa muncul karena mereka putra dari seorang kiai. Bagi keturunan yang sudah diberi sebutan kiai harus bersedia menggantikan posisi bapak (abah)nya dalam mengelola dan meneruskan pesantrennya. Bila penerus itu memiliki kualifikasi keilmuan yang setara dengan pendahulunya (abahnya), mereka akan berdiri sendiri sebagai kiai seperti pendahulunya. Bila penggantinya tidak memiliki kulifikasi keilmuan yang sama maka kiai tersebut akan cenderung memiliki profil kepemimpinan administratif, karena ia akan mencari orang lain yang memiliki kredibilitas keilmuan yang sesuai dengan visi dan misi keilmuan pesantren untuk mengelola keilmuan.

Kelima, kiai dengan profil kepemimpinan emosional (emotional leader), kebesaran pesantrenatau kiai itu hanya lebih didasarkan pada ikatan nilai-nilai kebesaran seorang kisi tertentu. Kebesaran kiai itu biasanya disebabkan oleh keunikan ilmu yang dimiliki, bukan disebabkan karena substansi ilmu yang dipelajari di pesantren tersebut. Tampilan profil emotional leader ini ditandai dengan adanya perbedaan antara kebesaran ilmu yang dimiliki pengasuhnya (kiai) dengan kenyataan kajian ilmu yang berlaku di pesantren. Profil emotional leader dapat juga dimaksudkan suatu kebesaran kiai atau pesantren yang hanya berlaku selama kiai itu masih hidup. Setelah kiainya wafat, maka kebesaran kiai dan pesantrennya akan pudar bahkan hilang atau bubar. Pudarnya kepemimpinan emosional bisa disebabkan adanya karena keturunan penggantinya tidak memiliki kemampuan yang sebanding dengan karakteristik moral pendahulunya meskipun secara keilmuannya sebanding dengan keilmuan pendahulunya.

Keenam, kiai berprofil kepemimpinan ekonomi (economic leader), yaitu kiai yang cara pengelolaan pesantren dilakukan dengan cara melaksanakan program pemberdayaan potensi yang dimiliki masyarakat dan para santrinya. Titik tekannya adalah upaya pemberdayaan potensi ekonomi. Sedangkan targetnya adalah mejaga kemandirian, khususnya kemandirian ekonomi lembaga pesantren. Substansi economic leader adalah proses pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh kiai agar muncul kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan potensi ekonomi secara baik dan tepat. Substansi profil economic leader juga telah ada di lingkungan pesantren Kudus. Hanya economic leader mengalami pergeseran dari aspek pemberdayaan ekonomi ke dalam penggalian ekonomi yag dikemas dengan program kerja pesantren atau hanya menjadi bentuk usha pribadi sang kiai. Bentuk kepemimpinan ekonomi yang dipraktikkan pesantren di Kudus berupa; usaha persewaan, pertokoan, membuka usaha lain yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pesantren atau pribadi kiainya. Faktor yang menyebabkan adanya pergeseran ekonomi lebih disebabkan situasi lingkungan masyarakat Kudus yang lebih cenderung pada aklim perindustrian dan perdagangan. Oleh karena itu, profil kepemimpinan ekonomi perlu diupayakan lebih mengarah kepada paradigma pemberdayaan daripada sekedar pengumpulan atau penumpukan keuntungan ekonomi.

Ketujuh, pofil kepemimpinan eksoterik (exoteris leader), yaitu cara pengelolaan pesantren dari seorang kiai yang cenderung hanya mementingkan atau memperlihatkan sebagian aspek formalitas yang dimiliki pesantren. Profil ini seringkali muncul dari sikap yang hanya mementingkan aspek formalitas dalam pesantren, sehingga cenderung menafikan aspek substansi yang dimiliki pesantren. Faktor lahirnya profil exoteris leader diawali dari tujuan bukan untuk membangun atau mendirikan pesantren, tetapi karena tekanan kenyataan yang mengharuskan untuk mendirikan pesantren, maka akhirnya lembaga yang dikelola sebelumnya bukan untuk pesantren, dikemas atau didesain sedemikian rupa agar mendekati dengan predikat pesantren. Misalnya awalnya bangunan itu direncanakan untuk tempat asrama (kos) bagi siswa sekolah, agar asrama itu memiliki nilai plus atau keinginan dari wali siswa, akhirnya asrama itu didesain sebagai pesantren yang diberi muatan pengajaran keagamaan.