Berita

M. Saekan Muchith : Pelaku Bom Bunuh Diri Di Neraka Tempatnya

TIPD STAIN Kudus | Jumat, 26 Mei 2017 - 10:29:43 WIB | dibaca: 539 pembaca

Peristiwa Ledakan Bom bunuh diri di Kampung Melayu Jakarta pada hari Rabu 23 Mei 2017 jam 21.00 WIB memunculkan kecaman dari berbagai pihak. STAIN Kudus sebagai perguruan tinggi agama Islam negeri di wilayah pantura Jawa tengah juga mengecam dengan sangat keras tindakan tersebut. Kecaman dengan sangat keras itu di sampaikan oleh Wakil ketua I bidang akademik Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd. Ketika ditemui oleh Tim Web STAIN Kudus diruang kerjanya, Saekan panggilan akrabnya mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri di kampung melayu menurut saya hidupnya di neraka selama-lamanya, karena mereka sudah menyengsarakan banyak orang dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa.

Ketika ditanya pandangannya tentang motivasinya untuk jihad dan menjalankan perintah agama, Doktor lulusan Unnes dan aktivis organisasi di lingkungan NU ini menjelaskan panjang lebar tentang cara memahami agama Islam. Menurut Saekan ini, Islam itu agama yang besar, maka hanya orang-orang yang punya jiwa besar dan berwawasan luas yang bisa menjelaskan dan memahamkan Islam kepada keluarga dan orang lain.  Islam tidak boleh dipahami secara tekstualis saja, al-Qur`an harus didekati dengan cara fikir kontekstual. berfikir tekstualis pasti akan melahirkan cara fikir hitam putih, normatif yang akhirnya mudah menyalahkan orang lain, mudah mengkafirkan orang lain, dirinya merasa paling benar sendiri. 

Mengakhiri wawancara, M. Saekan Muchith berpesan bahwa orang Islam yang baik harus membaca dan belajar tentang Islam. Jika Islam hanya dibaca akan berpotensi salah paham, Islam hanya belajar saja tidak mau membaca juga tidak akan melahirkan kualiats beragama. Jika ingin dakwah Islam yang benar maka harus mau membaca secara serius dan belajar yang utuh dengan guru yang tepat. Islam tidak boleh didekati hanya dengan satu pendekatan saja, Islam harus didekati dengan multi pendekatan agar Islam benar-benar mampu menjadi Islam rahmatan lil`lamiin. Islam harus didekati dari sudut pandang budaya, sosiologi, antropologi, hukum, psikologi. Kala Islam hanya didekati dari aspek Hukum Islam saja, maka yang terjadi hanya ada Haram dan halal. Jika Islam didekati hanya dengan ilmu aqidah atau tauhid maka yang ada hanya muslim atau kafir. M. Saekan wanti-wanti agar Islam dipahami dengan multi pendekatan ilmu, agar Islam benar sebagai agama yang menjaid contoh peradaban di dunia.(Hms/STAIN).