Berita

M. Saekan Muchith : Profil Masyarakat Kudus, Menarik!!

TIPD STAIN Kudus | Jumat, 02 Juni 2017 - 06:56:48 WIB | dibaca: 329 pembaca

 

Masyarakat yang beragama Islam (muslim) di wilayah kabupaten Kudus memiliki karakter yang mendominasi kultur daerah tersebut, karena masyarakata yang beragama Islam mendominasi tatanan sistem kehidupan masyarakat. Persepsi masyarakat dapat dimaknai bagian dari persepsi masyarakat Kudus, karena memang umat islam mayoritas di kabupaten Kudus.

Profil atau karakter masyarakat kudus bagian dari karakter masyarakat muslim, karakter tersebut dapat dilihat bagaimaan persepsi atau cara pandang terhadap berbagai fenomena yang ada di wilayah kabupaten Kudus mulai dari fenomena pendidikan sampai dengan fenomena persoalan politik yaitu proses partai politik dan pemilihan umum. STAIN Kudus melakiukan survey beberapa kali tahun 2010, 2011 dan 2012 tentang beberapa aspek sebagai berikut:

PERSEPSI TERHADAP PARTAI POLITIK

Partai politik didirikan pasti untuk membangun bangsa ana negara demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Dalam Undang Undang Nomor 2 tahun 2008 didefinisikan partai Politik adalah oraganisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga nehgaar Indonesia secara sukarela untuk memperjuangkan dna membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara serta memelihara keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Secara idealistik Partai politik akan disenangi dan dijadikan tumpuhan masyarakat dalam memperjuangkan kepetinganya untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Berdasaarkan hasil survey Pusat Penelitian Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Kudus yang dilakukan pada tahun 2010 dengan jumlah responden 800 responden, khususnya terhadap pertanyaan “Apakah anda yakin partai politik mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat Kudus dan Indonesia?”. Terhadap pertanyaan tersebut  diperoleh hasil  2,8 % masyarakat menjawab Ya Yakin ,  sedangkan  37,1 % menjawab ragu ragu dan  62,8 % menjawab tidak yakin.

Sangat kecil sekali, keyakinan masyarakat Kudus terhadap keberadaan partai politik dalam usaha memeprjuangkan aspirasi atau kepentingan masyarakat. Penulis  menyadari bahwa survey ini dilakukan sudah cukup lama, sehingga pada tahun 2017 ini ada potensi besar bisa berubah, jika partai politik yang ada benar benar giat dalam memperjuangkan aspirasi atau kepentingan anggota kelompoknya dan masyarakat.

PERSEPSI TERHADAP KIAI/TOKOH AGAMA

Pada atahun 2010, P3M STAIN juga melakukan survey kepada 800 responden yang terdiri dari empat elemen yaitu Birokrasi, Guru, Mahasiswa dan Buruh. hasil survey diperoleh data, khususnya terhadap pertanyaan “ Apakah anda setuju, jika ada Kiai/tokoh agama ikut dalam proses pencalonan Pemilu dan Pilkada? “ . Terhadap pertanyaan tersebut diperoleh data :

Dari empat elemen masyarakat yang disurvey diperoleh hasil bahwa, kalangan perempuan tingkat persetujuanya sangat kecil ( hanya 5,7 %) kalau ada tokoh kiai/ulama ikut dalam proses pencalonan kepala daerah. Sedangkan yang tingkat persetujuannya paling besar dari kalangan birokrasi (mencapai  30,22 %),  dari elemen guru yang setuju jika kiai/ulama ikut proses pencalonan pilkada berkisar  22,08 %. Sedangkan para mahasiswa tingkat persetujuannya berkisar 13,48 %.

Hal ini menandakan bahwa mayoritas amsyarakat Kudus tidak setuju bila Kiai atau tokoh agama ikut terlibat dalam proses politik praktis seperti maju sebagai calon DPR/DPRD atau kepala daerah. Seorang tokoh agama (kiai/ulama) akan lebih baik berperan sebagai kendali atau kekuatan moral masyarakat  yang  siap memberikan bimbingan dan nasehat bagi masyarakat dalam menghadapi problem kehidupannya.

PERSEPSI PELAJAR TERHADAP TAWURAN

Pelajar merupakan anak yang memiliki potensi berkembang baik dari aspek fisik maupun psikis. Perkembangan tersebut menyebabkan berbagai dinamika dalam dirinya baik dinamika fisik maupun psikhis. Potensi kekerasan diantarA pelajar merupakan sesuatu yang harus diantisipasi agar mampu meredam konflik diantara pelajar dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Terhadap fenomena tawuran antar pelajar, STAIN Kudus pada tahun 2012, melakukan survey tentang persepsi pelajar terhadap fenomena sosial. Pelajar yang disampel adalah pelajar jenjang SLTA baik sekolah umum maupun sekolah berbasis Islam (madrasah), dengan jumlah responden sebanyak 1400 pelajar.

Terhadap pertanyaan bagaiamana pendapat anda tentang fenomena tawuran diantara pelajar? Hasilnya adalah yang menjawab, Sekolah tidak mampu membina  71 (5 %), yang menjawab Sistem pendidikan lebih mengutamakan kecerdasan ketimbang kepribadian  239 (16 %),  yang menjawab Ada provokator  yang mengajat tawuran  753 (51 %),  yang menjawab Terpengaruh berita tawuran di media 191 (13 %), yang menjawab Kurang pengawasan dari orang tua  44 (3 %), yang menjawab Yang terlibat tawuran tidak diberi sanksi tegas   66 (5 %), yang menjawab Kalao yang terlibat tawuran anaknya orang besar cenderung dibiarkan  15 (1 %), dan yang menjawab Abstain  86 (6 %)

Faktor yang dominan menjadikan siswa tawuran adalah lebih disebabkan oleh adanya provokator atau dipengaruhi oleh temannya. yakni keterlibatan dalam tawuran karena adanya provokator yang mengajak sebanyak 51%. Sedangkan rangking kedua ditempati pilihan jawaban (b), yakni menganggap sistem pendidikan yang lebih mengutamakan kecerdasan dibanding kepribadian sebanyak 16%. Sedangkan urutan terbesar ketiga jatuh pada pilihan jawaban (d) yang menganggap peran media dalam mempengaruhi keterlibatan pelajar sebanyak 13%.

PERSEPSI PELAJAR TERHADAP RADIKALISME

Radikalisme masih tetap menajdi topik menarik untuk dikaji, karena radikalisme menajdi penyebab dominan munculnya kekerasan dan ketidak nyamanan kehidupan dalam berbangsa, bernegara dan beragama. pada tahun 2011, STAIN Kudus melakukan survey tentang pelajar  dan radikalisme dengan jumlah sampel 812 pelajar. Survey dimaksudkan untuk mengekplorasi persepsi pelajar terhadap fenomana sosial keagamaan khususnya potensi radikalisme dilingkungan pelajar. Hasil survey diperoleh data sebagai berikut:

(1)   Terhadap  Pertanyaan Apakah anda yakin sistem negara Islam akan mampu mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia? (a) Yang menjawab YAKIN sebanyak 541 = 66,60% (b) Yang menjawab TIDAK YAKIN sebanyak 216 = 26.60% (c) Yang menjawab RAGU RAGU sebanyak 55 = 6,7%

(2)  Terhadap pertanyaan, Apa yang anda pahami tentang Jihad menurut Islam? (a) Yang menjawab, bersungguh sungguh menegakkan kebenaran dan keadilan sesuai dengan aturan yang berlaku, sebanyak 646 = 79,55% (b) Yang menjawab, Bersungguh sungguh memerangi orang kafir dari muka bumi, sebanyak 146 = 17,90% (c) Yang menjawab, bersungguh sungguh memberantas kemaksiyatan dengan cara menutup tempat hiburan malam, sebanyak 11 = 1% (d) Yang menjawab,bersungguh sungguh melarang warung makan berjualan di siang hari waktu bulan ramadhan, sebanyak 3 = 0,36% (e) Yang menjawab, lainnya sebanyak, 6 orang = 1%.

(3)          Terhadap pertanyaan, Bagaimana Sikap yang tepat kepada orang kafir? (a) Yang menjawab, Wajib diperangi, karena jika tidak diperangi akan mengganggu/merusak orang Islam, sebanyak 194 orang = 23,89% (b) Yang menjawab, Wajib diperangi jika menggganggu orang Islam, sebanyak 392 orang = 48,20% (c) Yang menjawab, Wajib di perangi, karena membunuh orang kafir termasuk mati sahid, sebanyak 92 orang= 11,30% (d) Yang menjawab, wajib hidup rukun kepada orang kafir, sebanyak 134 orang=16,50%.

Manfaat hasil survey atau penelitian salah satunya dapat dijadikan bahan renungan atau evaluasi untuk melakukan perbaikan di masa mendatang. hasil survey tidak untuk menjustifikasi dan memastikan suatu keadaan atau fenomena. hasil survey bisa berubah sesuai dengan respon kebijakan para pemangku kepentingan. marilah kitab jadikan hasil survey sebagai bahan pertimbangan atau bahan renungan untuk melakukan perbaikan di masa yang akan datang.