Artikel

M. Saekan Muchith : Takbir Nusantara

TIPD STAIN Kudus | Sabtu, 24 Juni 2017 - 16:38:27 WIB | dibaca: 198 pembaca

 

Renungan Hari Raya idul Fitri 1438 H/25 juni 2017 H

Malam tanggal 1 syawwal yang dikenal malam hari raya idul fitri, umat Islam disunahkan mengumandangkan kalimat takbir, tahlil dan tahmid semalam suntuh. Kalimah takbir dikumandnagkan dari berbagai tempat dan dilakukan dengan berbagai cara atau variasi. Ada yang takbir keliling sambil berjalan kaki keliling wilayah desa atau kampung, ada juga dilakukan dengan cara iring iringan mobil dengan berbagai hiasan keliling wilayah kecamatan dan kabupaten.

Suasana takbir keliling terasa indah dan syiar Islam benar benar terwujud.  Disi lain, dengan takbir keliling yang menggunakan kendaraan, iring iringan atau karnaval maka memiliki peluang terjadi benturan antara kelompok desa atau diinternal kelompok itu sendiri.  Cara takbir dengan menggunakan kendaraan juga akan berkaitan dengan peraturan dan tatatertib berlalu lintas di jalan raya. Apa lagi sering kali takbir keliling diikuti dengan letusan petasan dan kembang api yang juga bisa membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

 Lebih memperihatinkan jika pada saat perayaan hari raya umat Islam yang harus saling memaafkan dan saling hormat menghormati sehingga bisa kembali kepada kesucian setelah puasa ramadhan selama satu bulan justru dikotori dengan ulah segelintir orang orang yang tidak bertanggung jawab  yang melakukan provokasi sehingga terjadi perkelahian atau tawuran antar kelompok.

Sebagai langkah antisiapsi inilah, maka aparat penegak hukum memberikan himbauan agar tidak melakukan takbir keliling menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Karena mengumandangkan takbir dengan cara berkeliling dan berkendaraan selain bernilai ibadah juga merupakan tradisi atau kebudayaan bangsa Indonesia  maka secara tehnis sangat sulit untuk di  atur seperti kegiatan lainnya apalagi dilarang.

Perlu diketahui, membaca atau mengumandangkan takbir adalah ibadah, tetapi melaksanakan atau mempraktekkan takbir yang dilakukan dengan cara berkeliling dengan berkendaraan dan menggunakan pengeras suara adalah benar benar budaya  bagi bangsa Indonesia. Artinya takbir di hari raya dengan cara berkeliling, berkendaraan dihias dan menggunakan pengeras suara hanya ada di Indonesia. Kalau mengumandnag takbir di masjid dan di musholla adalah disunahkan oleh syariat Islam.

Takbir keliling dengan berbagai atribut seperti yang selama ini dilaksanakan umat Islam Indonesia harus menjadi landasan untuk membangun karakter bangsa Indonesia. Takbair tidak hanya untuk hura hura, tidak hanya untuk menang lomba dan dapat hadiah, tidak hanya untuk unjuk kekuatan yang membuktikan banyaknya umat Islam, justru yang sangat penting takbir yang dikumandangkan menjadi sarana untuk  dakwah Islam agar Islam terlihat agama yang ramah, damai, santun, anti kekerasan. Karena pada hakekatnya takbir adalah pengakuan manusia kepada Allah swt, bahwa manusia itu penuh kesalahandan kelemahan tidak memiliki daya apapaun kecuali dari Allah swt. Allah maha besar, maha segalanya, manusia tidak ada artinya apa apa tanpa pemberian Allah swt.

 Takbir hari raya idul fitri, harus diposisikan sebagai sarana untuk membangun kesadaran bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang beradab sesuai karakter bangsa Indonesia, sarana untuk memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan bangsa, memupuk rasa saling hormat dna menghormati sesama manusia, karena manusia tidak memiliki daya apapun kecuali dari Allah swt.

Takbir simbol kelemahan manusia, takbir simbol persaudaraan antar mansuia, takbir simbol kekompakan sebagai bangsa ataupun sebagai umat beragama. Inilah yang dimaksud Takbir nusantara. Selamat hari raya idul fitri 143H H, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin.