Berita

M. Saekan Muchith: Kudus Harus Punya Monumen Wali

TIPD STAIN Kudus | Minggu, 04 Juni 2017 - 09:21:40 WIB | dibaca: 406 pembaca

 

 

Catatan Kepada Siapapun Yang berniat Nyalon Bupati Kudus 2018-2013...

 

 

Monumen dipahami suatu lokasi atau bentuk bangunan yang dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap peristiwa masa lalu (sejarah).  Ada dua pengertian yang dapat dihubungkan dengan monumen, yaitu relif sejarah dan bangunan peringatan. Monumen sebagai relif sejarah dapat berupa benda-benda bergerak atau tidak bergerak yang memiliki nilai sejarah bagi umat manusia. Monumen sebagai bangunan peringatan ialah bangunan-bangunan baru yang dibuat untuk memperingati suatu peristiwa sejarah. Bangunan tersebut bisa berupa tugu, batu berukuran besar, tembok, atau bentuk-bentuk lainnya. Jadi, pengertian dasar monumen adalah upaya untuk menumbuhkan kesadaran dan penghayatan manusia terhadap peristiwa masala lalu. Banyak sekali monumen yang ada di Indonesia, seperti Monumen nasional (monas), monument Jogya kembali, Monumen pahlawan revolusi, Monumen peristiwa Bom Bali, Monumen tragedi tri sakti, dll. Semua monumen tersebut  jelas dimaksudkan agar bangsa Indonesia mengetahui sekaligus menghayati bagaimana peristiwa masa lalu, sehingga bangsa Indonesia mampu mengambil makna dari peristiwa tersebut, dengan harapan dapat mewujudkan sikap dan perilaku yang positif dalam membangun tatanan sistem kehidupan bermasyarakat.

Kudus di kenal sebagai kota santri, dimana karakteristik santri dilihat dari adanya komitmen masyarakat untuk menumbuhkian kesadaran dan penghayatan terhadap nilai nilai ajaran agama. Tumbuhnya kesadaran terhadap nilai nilai agama dapat dilakukan melalui penghayatan terhadap peristiwa masa lalu yang dilakukan oleh para tokoh agama (ulama). Banyak tokoh agama yang perlu dikatahui kualitas ahlaqnya dalam melakukaan perjuangan dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam. Kanjeng Sunan Kudus, Kanjeng Sunan Muria, Kiai Telingsing  sebagian contoh tokoh (ulama) yang harus diketahui sikap, kepribadian dan ahlaqnya dalam memperjuangkan nilai nilai agama Islam dalam kehidupan sosialnya.

Monumen Wali di Kudus lebih tepat jika diwujudkan berupa sebuah bangunan besar/luas yang di dalamnya berisi dokumen dokumen tulisan maupun foto, relif, patung yang menggambar peristiwa atau suasana perjuangan tokoh tokoh agama (kanjeng Sunan Kudus, kanjeng Sunan Muria dan Kiai telingsing atau sunan lainnya yang ada di tanah jawa), mengenai biografinya, silsilahnya, cara cara dalam menyebarkan Islam, dan kisah kisah kehidupan lainnya.

Sebagai kota santri, seyogyanya seluruh elemen masyarakatnya mengetahui, menghayati semua aspek kehidupan tokoh agama (Islam)  dalam menjalankan nilai nilai ajaran agama sehingga nilai nilai semangat perjuangan terhadap Islam dapat diimpelemnatsikan dalam tatanan sistem kehidupan sekarang. Tiga tokoh besar yaitu kanjeng Sunan Kudus, kanjeng Sunan Muria dan Kiai Telingsing dikenal sosok ulama yang memiliki komitmen toleransi dalam menjalankan nilai nilai ajaran Islam, sehingga dapat hidup rukun, berdampingan dengan agama lain yang berakhir dengan suasana yang tenang, nyaman, damai penuh toleransi.

Para wisata yang datang ke Kudus, tidak hanya melakukan ziarah yang bernuansa ritual saja, melainkan juga bisa melihat dan sekaligus menghayati segala perjuangan para tokoh agama. Oleh sebab itu pentingnya segera di bangun monumen wali di Kudus dapat dilihat dari beberapa hal:

Pertama, sebagai kota santri, harus mampu memberikan fasilitas atau lokasi/suasana kepada masyarakat yang mampu dijadikan saran untuk menumbuhkan semangat dan kualitas ke-santri-an bagi masyarakat. Salah satunya dapat dilakukan dengan membangun monumen wali yang ada di Kudus.

Kedua, selain kota santri, Kudus juga layak di sebut kota wisata. Dalam rangka mengoptimalkan wisatawan asing dan domestik, maka perlu di lakukan berbagi upaya untuk menambah lokasi wisata yang bernuansa religi. Bangunan monumen wali salah satu upaya untuk menambah lokasi wisata yang sesuai dengan karakteristik kota santri. Apa lagi sekarang sedang ngetren wisata syariah. Kota Kudus merupakan kota yang snagat relevan mempelopori pelaksanaan wisata syariah. salah satu di lakukan dnegan membangun monumen wali di Kudus.

Ketiga, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pejuang. Kanjeng sunan Kudus, kanjeng Sunan Muria dan Kiai telingsing adalah pejuang islam yang sudah diakui keberhasilan dan jasa jasanya dalam memeprjuangkan nilai nilai islam di tengah  tengah kehiudpan berbanagsa dan bernegara. Pembangunan monumen Wali salah satu bukti nyata kalau orang Kudus menghormati jasa jasa pejuang agama Islam.