Artikel

Membangun Jiwa Leadership Santri Dengan Meneladani Ulama Nusantara

TIPD STAIN Kudus | Selasa, 30 Agustus 2016 - 08:06:30 WIB | dibaca: 1018 pembaca

Oleh :
Muhtarom, M.Pd
Dosen STAIN Kudus

Ditengah-tengah kondisi bangsa saat ini yang sedang dilanda krisis multidimensional khususnya krisis kepemimpinan, diperlukan beberapa terobosan dan solusi alternatif untuk menjembatani problem diatas. Salah satunya adalah strategi untuk menyiapkan para genari penerus yang professional serta memiliki keyakinan dan karakter yang baik dengan proses pendidikan.
Rasanya memang tidak cukup hanya dengan pola pendidikan yang sudah ada, bukankah mereka-mereka tersangka kasus korupsi, narkoba, dan sejenisnya mereka semua juga telah mengenyam pendidikan? Bahkan tidak sedikit dari mereka berpendidikan tinggi. Lantas pola seperti apakah yang paling tidak mendekatkan idealisme sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas dalam  intelektual saja akan tetapi juga kecerdasan emosionl dan spiritual.
Strategi serta pola pendidikan yang perlu ditekankan adalah pendidikan nilai, pendidikan karakter, kita tahu bahwa pendidikan karakter dan pendidikan nilai memang tidak cukup dengan lisan, ceramah pengajaran dan sejenisnya, akan tetapi diperlukan uswah atau keteladanan. Pola ini kita ingat betul bagaimana para salafussholih kita dalam mendidik para santrinya serta ummatnya.
Pertanyaannya sekarang apakah para salafussholih dahulu dalam mendidik para santri dan ummatnya dengan pola kurikulum yang berjejal, deretan mata pelajaran, serta deretan kompetensi yang harus ditempuh peserta didik? Jawabannya tentu tidak selalu demikian. Pola yang menonjol dari para salafussholih adalah keteladanan dan kejernihan hati serta niat tulus dalam mendidik, rasanya ini yang mampu membawa para santri mendapatkan keberkahan serta kemanfaatan ilmu yang diajarkan.
Penulis berkeyakinan penuh bahwa pola ini justru menjadi pondasi atau landasan yang kuat dan kokoh yang harus dipertahankan para pendidik khususnya pada lembaga-lembaga keagamaan. Pola serta gaya inilah yang sering dilakukan oleh para ulama khususnya para kyai di lingkungan pondok pesantren.
Mari kita lihat secara dekat apa, siapa, dan bagaimana beliau sebenarnya sehingga perlu diapresiasi dalam kancah perkembangan ilmu pengetahun serta teknologi serta problem era kesemrawutan budaya dewasa ini. Julukan Kyai adalah seseorang yang merupakan tokoh yang mempunyai posisi strategis dan sentral dalam masyarakat, aktifitasnya terkait erat dengan kedudukannya sebagai seorang pendidik dan terpandang di tengah-tengah masyarakat, serta memberikan pendidikan atau pengetahuan Islam para penduduk desa dan para santri-santrinya.
Masyarakat sudah cukup kental dengan ketokohan seorang kyai, dimana menurut Sukamto seperti yang dikutib oleh Imron Arifin dan Muhammad Slamet, mengategorikan Kyai dalam dua istilah berdasarkan peran yang dimainkannya di dalam masyarakat, dia mengistimewakan dengan sebutan Kyai teko atau kendi dan Kyai sumur.
Pertama, mengapa seorang Kyai dikategorikan dengan teko atau kendi? Kyai dikategorikan teko atau kendi karena sang Kyai mengajarkan pengetahuan agama dengan cara berceramah dari desa kedesa, menyampaikan fatwa agama kepada masyarakat luas. Maka para kyai yang berceramah ini di ibaratkan sebuah teko berisi air, yang senantiasa memberikannya kepada setiap orang yang memerlukannya, dengan cara menuangkan air kedalam gelas. Ceramah yang di sampaiakan kyai ini sebagai siraman keagamaan kepada masyarakat.
Kedua, Kyai dikategorikan dengan istilah sumur, ini adalah julukan kyai yang memiliki lembaga pondok pesantren. Dimana Keberadaan kyai ini berada dalam rumah (pondok pesantren), dan masyarakat akan datang ke Pondok Pesantren berniat menjadi santri untuk mendapatkan pengetahuan agama. Maka Ibarat orang yang kehausan akan mengambil air dari dalam sumur. masyarakat yang memerlukan pengetahuan agama harus datang sendiri di tempat kediaman kyai.
Keberadaan Kyai sebagai pemimpin pesantren, ditinjau dari tugas dan fungsinya dapat dipandang sebagai fenomena kepemimpinan yang unik. Mengapa demikian? dikatakan unik sebab para Kyai sebagai pemimpin sebuah lembaga pendidikan Islam tidak sekedar bertugas merancang desain pendidikan pesantren yang mencakup kurikulum, membuat tata tertib, sistem evaluasi, sekaligus pemimpin dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, melainkan pula sebagai pimpinan dalam semua tata kelola pesantren, bahkan pemimpin masyarakat.
Pola ini sesuai dengan pemahaman tentang leadership menurut George R. Terry, yaitu "Leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences others to work together willingly on related tasks to attain that which the leader desires ” maksudnya kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri orang seorang atau pemimpin, mempengaruhi orang-orang lain untuk bekerja sarna secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai yang diiginkan pemimpin.
Pembentukan karakter leadership yang sangat menarik untuk kita teladani paling tidak ada 10 tokoh nusantara, yaitu 1) Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari. 2) KH. Abdul Wahab. 3) Chasbullah. 4) KH. Bisri Syansuri. 5) K.H. Ahmad Shiddiq. 6) K.H. Wahid Hasyim. 7) K.H. M. Ilyas Ruhiat. 7) K.H. M.A. Sahal Mahfudz. 8) K.H. Idham Chalid. 9) KH. Ali Ma’shum, dan 10) K.H. Abdurrahman Wahid.
Kesepuluh tokoh yang luar biasa ini memiliki beberapa kesamaan, antara lain Pertama  dalam kesungguhan untuk memperjuangkan kebaikan ummat khususnya di bumi nusantara. Selain para tokoh ini seorang pengembara ilmu pengetahuan dan selalu haus dengan ilmu dengan dibuktikan sejak usia remaja bahkan anak-anak beliau menghabiskan waktunya untuk belajar dari pondok satu ke pondok lainnya. Ini merupakan pemandangan yang susah didapatkan pada era akhir-akhir ini.
Kedua, selain pengembara ilmu para salafussholih ini juga sama-sama berkecimpung dalam organisasi, baik pada masa belajar bahkan setelah terjun di masyarakat. Ini juga pemandangan yang langka pada era masa kini dimana seseorang banyak disibukkan hanya untuk mencari materi yang kadang jauh dari kegiatan dakwah.
Ketiga, kesamaan serta pengalaman yang juga harus diteladani adalah selalu beristiqomah dalam melaksanakan jihad dalam rangka li i’lai kalimatillah, dengan tanpa pamrih dan tanpa imbalan apapun para khadratussyaikh rela mengikhlaskan waktu, pikiran dan kesempatan untuk selalu melakukan dakwah islamiyah.
Keempat, karena pemahaman agama yang kuat serta kesungguhan dalam menjalankan dakwah terutama pada masa penjajahan, maka kesamaan berikutnya adalah sama-sama berjihad untuk kemerdekaan. para khadratussyaikh yang kesibukannya melayani ummat dengan memberikan pendidikan agama, maka dengan bekal keyakinan akan rahmat Allah beliau mengobarkan semangat jihad dalam melawan penjajah, sehingga mulai dari persiapan kemerdekaan, hingga terjun perang melawan penjajah dilakukan demi tercapainya kemerdekaan dengan cita-cita mulianya yaitu ”baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur”.   Alhamdulillah peran beliau tercapai untuk mengusir penjajah di muka bumi nusantara hingga merumuskan konsep negara pancasila.
Kelima kesamaan yang dimiliki adalah sikap dan perilaku baik secara pribadi maupun organisatoris adalah selalu bersikap tasamuh, tawazun. Modal dasar inilah yang mampu mengantarkan pribadi-pribadi beliau diterima di masyarakat. Sikap toleransi serta sikap moderat ini juga yang mampu membangun peradaban musantara menjadi peradaban yang ramah, santun, dan damai dalam beragama maupun bernegara, sehingga ini sekarang dijadikan master peace islam nusantara.
Kisah spektakuler ini harus mampu dilhami generasi bangsa khususnya para santri nusantara dan selalu mengalir deras untuk terus meneladani perjuangan mulia khadratussyaikh, sehingga dalam kehidupan kita benar-benar bekmakna serta sebagaimana harapan maqolah dalam hadis ”khoirunnas anf’uhum linnas”. Semoga tulisan ini mampu mengembalikan memories yang mungkin lupa karena sibuknya aktifitas kita dan harapannya tentu menjadi manusia yang bermakna dan sa’adah fiddaroin. Amin.
 
*) tulisan ini pernah disampaikan dalam kegiatan latihan dasar kepemimpinan pon-pes Darul Ulum Ngembalrejo tahun 2016