Artikel

Memperbincangkan Terminologi Musyrik

STAIN Kudus | Selasa, 07 Juni 2016 - 14:08:31 WIB | dibaca: 1089 pembaca

Memperbincangkan Terminologi Musyrik
M. Saekan Muchith

Terminologi tentang musyrik secara jelas dinyatakan oleh  Allah dalam firman-Nya yaitu ayat suci al qur’an. Semua umat islam percaya dengan sepnuh hati bahwa musyrik itu adalah dilarang oleh Allah dan siapapun yang melakukannya termasuk melaksanakan dosa besar. Banyak ayat yang menjelaskan tentang pengertian musyrik, antara lain: QS Yusuf : 106 “ Dan sebahagian besar dari meeka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengans embahan sembahan lain). QS. Ar Ruum : 42 “ Katakanlah : “adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang orang yang terdahulu. Kebnayakan  dari mereka itu adalah orang orang yang mempersekutukan Allah.”
Ayat ini memberi informasi bahwa musyrik adalah keyakinan atau perasaan yang menduakan kekuatan dan kewenangan Allah swt. Setiap orang yang menyamakan atau memiliki keyakinan ada hal hal lain yang mampu melebihi kekuatan Allah maka sejauh itu pula manusia dapat dikategorikan musyrik.
Allah juga melarang kepada umat Islam untuk menikah dengan orang yang telah nyata nyata masuk kategori musyrik. Hal ini dijelaskan di dalam firman-Nya QS. Al Baqarah : 221 “ Dan janganlah kamu menikahi wanita wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang orang musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin Allah. Dan Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.
Ayat ini memberik ketegasan tentang karakter orang (wanita )musyrik. Bahwa wanita musyrik dan juga termasuk laki laki, memiliki karakter yang membahayakan yaitu karakter yang menjadikan orang lain berpotensi masuk negara, jika orang tersebut bersama sama atau hidup dalam satu ikatan pernikahan. Karakter mangajak ke negara jelas jelas bertentangan dengan apa yang diharapkan Allah yaitu semua manusia yang beriman diharapkan bisa masuk surga Allah Swt.
Menelisik indikator musyrik
Diakui atau tidak, kata  atau kategori musyrik bersifat umum a9a global yang perlu dijelaskan atau ditemukan indikatornya agar umat Islam tidak mudah terjerumus kedalam kategori musyrik. Kalaupun ada yang terjerumus kedalam musyrik, maka meeka akan mudah untuk kembali ke jalan Allah. Indikator atau kreteria musyrik menjadi penting untuk membimbing atau mengarahakan umat islam dalam berpendapat atau berfikir tentang musyrik. Diantara ciri ciri orang musyrik antara lain:
  1. Orang musyrik memiliki karakter atau jiwa tidak segan segan membunuh anak anak mereka. Hal ini dijelaksan Allah swt dalam firman-Nya. “ Dan demikianlah pemimpin pemimpin  mereka elah menjadikan kebanyakan dari orang orang musyrik itu memandang baik membunuh anak anak mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada adakan. (QS. Al an’am : 137)
  2. Orang musyrik adalah orang yang tidak berbuat baik kepada orang tuanya dan taku miskin dalam kehidupan. Hal ini sesuai dalam firman Allah swt “  Katakanlah : Mari kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dan janganlah kamu membunuh  jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan sesuatu sebab yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahaminya”. (QS. Al An ‘am : 151).
  3. Orang musyrik adalah orang yang sering atau melakukan penyembahan kepada jin. Sesuai dalam firman Allah swt. “ Dan  mereka (orang orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah lah yang menciptakan jin jin itu dan mereka membohong dengan mengatakan bahwasanya Allah mempunyai anak laki laki dan prempuan, tanpa berdasar ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan maha tinggi dari sifat sifat yang mereka berikan” (QS. Al An’am : 100). Dan juga firman Allah “  Dan bahwasanya ada beberapa orang laki laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki laki diantara jin, maka jin jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (QS. Al Jin : 6).
Berdasarkan indikator tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa musyrik adalah fenomena atau kondisi psikologis seseorang yang tidak mengakui kekuasaan atau kemaha Esaan Allah. Kondisi psikologis yang berpotensi menuju kemusyrikan bisa terjadi kapan saja , dimana saja dan dalam bentuk apa saja. Musyrik diawali dari cara pandang atau pikiran yang dilanjutkan  dengan keyakinan dan akhirnya ditindak lanjuti dengan perbuatan.
Musyrik awal mulanya seseorang memiliki anggapan atau pandangan bahwa perbuatan itu mampu membantu nasib atau taqdirnya, kemudian pemahaman atau cara fikir itu diyakini secara optimal, dan akhirnya didukung dengan perilaku atau tindakan. Persoalan musyrik adalah persoalan psikologis atau hati, apa yang dilakukan atau dikerjakan secara dhohir belum tentu atau elum bisa dijaidkan alasan untuk mengatakan seseorang itu musyrik atau tidak. Justru yang paling paham apakah dirinya musyrik atau tidak hanya dirinya seseorang itu sendiri.
Musyrik menyangkut berbagai hal dan kenyataan (fenomena), seseorang muslim yang “membunuh” anaknya sendiri jelas masuk kategori musyrik. Membunuh tidak hanya bermakna pembunuhan secara nyata, pembunuhan masa depan, pembunuhan psikologis, kepada anak anak kita juga masuk kategori musyrik. Orang tua yang tidak serius memikirkan masa depan anak anaknya, orang tua yang seteengah setangah mengeluarkan biaya pendidikan bagi anak anaknya, orang tua yang membiarkan  atau tidak mempedulikan apa yang dikerjalan anak diluar rumah, orang tua yang sering melakukan tenakan psikologis atau mudah marah kepada anak anaknya dapat dikategorikan sikap seseorang yang mengarah kepada kemusyrikan bahkan bisa saja dikatakan sudah sebagai seorang musyrik.
Orang yang memiliki rasa ketakutan atau kekhawatiran akan kemiskinan, juga amsuk kategori musyrik. Orang yang memiliki pehamana dan keyakinan bahwa tidka menjadi PNS adalah akan hancur masa depannya, dia layak dikatakan sebagai seorang musyrik. Seorang pemuda ayang memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa nikah harus sudah kerja dulu, karena kalau belum kerja tidak akan mampu menghidupi dirinay dan keluarganya juga termasuk kategori musyrik. Seseorang yang menderita sakit, meeka setiap hari takut akan datangnya kematian, layak juga dikatakan sebagai musyrik. Seorang yang sakit dan amemiliki keyakinan hanya kepada ke dokter A saja bisa sembuh, kalau ke dokter lainnya tidak bisa sembuh juga layak dikategorikan sebagai musyrik. Seseorang yang bekerja di kantor atau perusahaan, mereka memiliki pemahaman dan keyakinan kalau saya dipecat dari kantor atau perusahaan akan melarat atau jatuh miskin karena tidak pnya pekerjaan tetap, ini semua juga masuk kategori oang yang telah mengidap penyakit kemusyrikan.
Musyrik tidak selalu diawali dengan indikator benda benda keramat seperti akik, keris, tumpeng, kembang, menyan. Semua benda keramat tersebut, bisa menjadikan seseorang menjadi musyrik dan juga bisa saja tidak menjadikan mereka musyrik. Karena musyrik adalah persoslan psikologis. Ketika seseorang memakai cincin akik, dan menyimpan keris, tetapi pemahaman dan keyakinana mereka hanya untuk hiasan seperti halnya seorang perempuan memakai cincin emas dan intan, itu semua tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang musyrik.
Seseorang yang datang ke makam makan orang yang sudah meninggal bisa menjadi musyrik atau tidak sangat ditentukan oleh cara pandang (pemahaman) dan keyakinan yang dimiliki. Menentukan atau menjustifikasi seseorang hanya dengan indikasi mereka datang ke makam tidak bisa dijaidkan landasan mengatakan bahwa seseorang itu telah musyrik. Menuduh seseorang musyrik dari indikasi mereka menyimpan cincin akik, menyimpan keris atau senjata keramat lainnya  tanpa terlebih dahulu mengetahui kondisi psikologis  adalah bentuk sikap perilaku seseorang yang tidak dewasa atau tidak profesional.
Artinya, persoalan seseorang itu musyrik atau tidak yang paling tau hanyalah Allah swt, sesama manusia tidak memiliki kewenangan untuk mengatakan atau menuduh orang lain musyrik atau tidak. Jika sesema muslim saling tuduh kemusyrikan hanya dengan indikasi indikasi subyektivitas maka akan mudah muncul konflik diantara sesama muslim. Tugas sesama muslim adalah selalu menginagtkan dalam ketaqwaan dan dalam hal hal kesabaran. Saling tuduh orang lain menjadi musyrik berarti mereka telah melakukan kemusyrikan sendiri. Semoga perbincangan musyrik itu menjadi kemaslahatan bersama bukan menjadi awal kemadharatan bagi umat islam, amien ya robbal alamiin.

 Penulis adalah Dosen STAIN Kudus, yang memperoleh tugas tambahan sebagai Wakil Ketua I Bidang aakdemik dan pengembangan lembaga STAIN Kudus.