Artikel

Merajut Spiritualitas Islam By: Masturin

Administrator | Kamis, 03 Agustus 2017 - 09:00:06 WIB | dibaca: 116 pembaca

Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan spiritualitas Islam adalah dimensi terdalam atau keimanan manusia pada Sang Pencipta Yang Maha Esa atau tauhid dan tuntutan implimentasinya dalam kegiatan muslim dalam kerangka merespon terhadap persoalan sosial-budaya.

Dalam perspektif Islam, pembangunan manusia seutuhnya harus mencakup dua dimensi yaitu dimensi jasmaniyah atau materi dan rukhaniyah atau spiritual. Peradaban Islam yang anggun pada era kejayaannya dibangun diatas landasan ”fikri dan zikr”, dimensi akal dan nilai ketuhanan. Jika kita mengilas balik sejarah kita akan menemukan fakta bahwa, sumbangan terbesar dan sangat substansial yang diberikan Islam dalam perkembangan peradaban manusia adalah pada dimensi spiritualitasnya dalam makna nilai-nilai tauhidiyahnya, terutama ketika Islam kontak dengan kebudayaan Helenian dan perso-Semitik.

Islam dengan nilai-nilai tauhidiyahnya mampu mengakomodasi pengetahuan baru yang diperoleh dari kebudayaan di luar dirinya. Hal ini tidak menjadikan kebudayaan Islam jatuh miskin, sebaliknya menjadi lebih kaya. Dimensi tauhidiyah inilah yang memberikan ikatan sekaligus menjadi penyaring dan dinamisator atau seperti dikatakan Saunders peradaban Islam hanya mengambil elemen-elemen dari luar yang dianggap baik. untuk mengisi kekurangannya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya. Hal ini sekaligus mengandaikan bahwa Islam tidak bersifat pasif namun bersifat aktif dalam makna selektif –kreatif – inovatif. Sifat-sifat ini dengan mengacu pada nilai dasar (dimensi spiritualitas/nilai tauhidiyah) telah menjadikan generasi Islam terdahulu mampu membangun peradaban khas Islam yaitu peradaban yang berpilarkan fikr dan zikr, jasmaniyah dan rukhaniyah. Dua dimensi integral dari kemanusiaan manusia. Reduksi terhadap salah satunya akan mendatangkan kemudaratan dan hal ini secara aktual telah menimbulkan nestapa manusia modern.

Upaya menghidupkan kembali spiritualitas sebenarnya telah menjadi kesadaran bukan saja di kalangan Islam. Hal ini dampak dari perkembangan denominasi dan gerakan spiritualisme di kalangan Kristiani,  Yahudi dan Shinto di berbagai belahan dunia. Naisbitt & Aburdene misalnya mencatat bahwa sejak tahun 1960-an agama jalan utama atau kelompok arus besar agama mengalami kemunduran, namun kelompok-kelompok yang lebih menekankan pada dimensi spiritualitas terus meningkat. Penegasan yang sama diberikan Nasr atas pengamatannya di masyarakat barat. Bahkan Naisbitt meramalkan milinium ketiga sebagai abad spiritualitas. Kesadaran ini juga muncul di kalangan kepercayaan lokal, sehingga memunculkan banyak kelompok spiritualisme-nativistik.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Islam sebagai respon terhadap persoalan sosial-budaya kontemporer bukan saja menjadi keharusan, namun sekaligus menjadi kebutuhan dan keharusan sejarah, baik masa dulu, kini maupun pada abad mendatang. Permasalahannya yang muncul kemudian adalah bagaimana format spiritualitas baru Islam kedepan.

 

Format Spiritualitas Islam

Sejauh ini kita telah mengalami dampak modernitas pada dataran sosial-budaya dan kondisi yang berkembang di dunia Islam. Modernitas dengan segala dampaknya telah menimbulkan kesadaran kultural berupa kerinduan orang untuk kembali pada nilai-nilai tradisional atau terjadi semacam romantisisme sejarah. Di masyarakat Islam bentuk kesadaran ini sering, menjadi tidak proporsional. Banyaknya kelompok yang hanya berorientasi kepada kepuasan batin (esoterisme) dan gerakan spiritualisme yang ekslusif menunjukkan hal ini, padahal Islam mengajarkan agar dalam membangun manusia harus memperhatikan dimensi jasmani dan rukhani.

Berdasarkan kecenderungan di atas, maka ada beberapa hal yang penting dicatat dalam rangka merajut spiritualitas baru Islam ke depan.

Pertama, kemampuan mengekspresikan kesadaran balik dalam bidang sosial budaya sangat terkait dengan kemampuan memformat spiritualitas Islam yang proportional. Oleh karena itu persoalannya bukan sekedar harus kembali kepada warisan lama seperti terkait, walaupun bukan berarti harus menafikannya sama sekali terutama pada aspek nilai-nilai komunalitasnya. Di sisi lain kita tidak mungkin mengabaikan faktor-faktor yang datang dari luar akibat interaksi Islam dengan budaya Barat. Karena itu wajar saja kalau umat Islam melakukan akomodasi budaya. Justru dengan adanya kemampuan melakukan akomodasi itulah yang menyebabkan berbagai elemen kebudayaan Islam seperti hukum, pendidikan dan bahasa memiliki resistensi dan terus hidup sepanjang sejarahnya.

Selain itu kita harus mengambil hikmah dari apa yang dilakukan denominasi dan spiritualisme Kristiani ketika dihadapkan kepada ’boom’ modernitas. Banyak diantara mereka yang pada akhirnya tidak punya nilai keagamaan karena terlalu akomodatif atau menjadi bisa karena menjadi sangat ekslusif. Slob dalam Interfidei misalnya memberikan tiga model spiritualitas baru di kalangan Kristiani-Barat, khususnya Eropa. (1) Spiritualitas yang berorientasi pada kemanusiaan (rasional-humanis) yang justru cenderung lepas dari semangat keagamaannya. (2) Spiritualitas-ortodok-ekslusif yang cenderung mengasingkan diri dari dunia. (3) Spiritualitas reformis, yang mencoba melakukan penilaian kritis terhadap simbol-simbol keagamaan lama, sekaligus memberikan pemaknaan baru doktrin terutama dalam merespon persoalan kontemporer seperti etika sosial, etika politik. Model ketiga merupakan model yang cukup moderat.

Kedua, penumbuhkembangan spiritualitas baru Islam mengandaikan juga upaya menghidupkan kembali elan profetik kenabian. Para pembawa agama muncul dalam situasi masyarakat yang mengalami degradasi spiritual, kemudian mereka memberikan pesan secara radikal dan revolusioner agar manusia menjadi makhluk yang ’baik’, ’merdeka’ dan ’membebaskan’ manusia dari berhala (materi). Hal ini telah ditunjukkan juga oleh Nabi Muhammad, Ahmad Talib yang dikutib Earle H. Waugh dalam Martin misalnya menggambarkan Nabi sebagai pemimpin yang sangat revolusioner dan radikal pada jamannya. Hal ini terbukti dari kemampuannya melakukan peran pemerdekaan manusia secara radikal dari kungkungan struktur dan budaya yang sangat humanis-materialis ke struktur dan budaya tauhidiyah, dari paradigma kemanusiaan ke paradigma tauhidiyah. Semua dilakukan dalam konteks dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yaitu melakukan kritik (nahi mungkar) kemudian memberi solusi (amar ma’ruf) yang dilakukan secara dinamis dan menyeluruh dalam waktu relatif singkat.

Ketiga, Spiritualitas baru Islam itu juga selayaknya memperhatikan dua aspek yaitu memberi perhatian kepada kualitas spiritual diri (personal concern) dan sekaligus punya komitmen dalam persoalan masyarakatnya (communal commitement). Dengan demikian spiritualitas Islam yang dibutuhkan ke depan adalah, meminjam istilah Kuntowijoyo sikap yang menggabungkan antara kesalehan simbolik-individual dan kesalehan aktual-struktural.

Kesalehan simbolik hanya berorientasi kepada peningkatan spiritual diri, mencari kepuasan batin tanpa ada komitmen moral dan tanggung jawab sosial serta solidaritas kemanusiaan. Sebaliknya kesalehan aktual memberi dorongan bagi individu atau kelompok untuk memberi respon atas persoalan kontemporer masyarakatnya secara radikal dan progresif.

Spiritualitas Islam yang menggabungkan sikap kesalehan simbolik dan aktual tersebut harus berfungsi dalam tiga hal yaitu fungsi emansipasi, liberasi dan transendensi. Fungsi emansipasi berkaitan dengan upaya mengangkat kembali martabat manusia agar sesuai dengan fitrahnya yang terdiri dari dimensi jasmani dan rukhani. Fungsi liberasi mengandaikan bahwa spiritualitas Islam harus mampu membebaskan manusia dari belenggu struktur. Spiritualitas Islam yang berwatak emansipasi dan liberasi tersebut harus diacukan kepada fungsi ketiga yaitu nilai-nilai tauhidiyah. Di sinilah inti pembeda Islam dengan spiritualitas yang lain, baik spiritualitas nativistik maupun spiritualitas humanistik.