Artikel

PEREMPUAN PILAR PERADABAN Oleh: Ahmad Fatah

Administrator | Kamis, 09 Maret 2017 - 10:52:12 WIB | dibaca: 701 pembaca

PEREMPUAN PILAR PERADABAN
Oleh: Ahmad Fatah*
 

Perempuan adalah pilar peradaban. Banyak kajian dan teladan mengenai kisah dan kiprah perempuan dari zaman ke zaman. Misalnya yang secara rutin, tiap tanggal 22 Desember selalu diperingati hari ibu; tiap tanggal 21 April juga diperingati hari Kartini. Kemarin, tanggal 8 Maret juga diperingati sebagai International Woman`s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional. Disebut peringatan tujuannya tentu agar untuk diingat, baik mengingat ibu dan perempuan dari sisi jasa-jasa, peran dan fungsinya dalam keluarga; bukan sekedar mengingat tanggal tersebut. Ibu adalah sosok perempuan yang mendampingi kepala keluarga, sekaligus sebagai stabilisator dan pengelola keluarga. Idealnya begitu. Maka sering disebut perempuan sebagai tiang Negara. Hal tersebut cukup beralasan karena dua hal. Pertama, karena keluarga secara sosiologis adalah unsur terkecil dari masyarakat. Dari unsur-unsur keluarga yang harmonis tersebut muncullah masyarakat yang harmonis dan beradab. Kedua, baik dan buruknya perkembangan dan peradaban suatu bangsa tergantung pada kaum perempuan. Jika perempuan mampu berperan secara ideal maka terbentuklah masyarakat yang harmonis, tenteram dan beradab. Sebaliknya jika perempuan zero participant atau justru peran yang negatif, maka justru akan menjadikan masyarakat yang mundur dan tidak beradab. Secara data statistik, hal itu bisa dipertimbangkan karena memang jumlah perempuan  lebih banyak daripada laki-laki.

Dalam pandangan Al-Quran, perempuan dan keluarga mendapat perhatian yang sangat intens. Bahkan ada satu nama surat dalam Al-Quran yang disebut an-Nisa` (perempuan), dan tidak dijumpai nama surat ar-Rijal (laki-laki). Tidak cukup itu, Al-Quran cukup menyebut satu surat khusus yaitu Ali Imron (keluarga Imron). Yang menarik surat Ali Imron itu diiringi surat an-Nisa` yang mengisyaratkan pentingnya peran perempuan dan keluarga dalam masyarakat. Tapi perlu difahami, selain dua surat tersebut banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan arti penting dan kedudukan keluarga. Misalnya dalam surat at-Tahrim ayat 6 disebutkan bahwa Ayat tersebut pada dasarnya mengingatkan semua kepala keluarga dalam hal ini Bapak dan atau Ibu bahkan para wali, supaya membangun, membina, memelihara dan atau melindungi semua dan setiap anggota keluarga yang menjadi tanggungannya dari kemungkinan mara bahaya yang disimbolkan dengan siksaan api neraka. Sebab, dalam pandangan Islam, berkeluarga itu tidak hanya untuk sebatas dalam kehidupan duniawi; akan tetapi juga sampai kehidupan akhirat kelak.

Indikator lain dari kepedulian Islam terhadap eksistensi dan peran keluarga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan ialah adanya hukum keluarga Islam yang secara spesifik mengatur persoalan-persoalan hukum keluarga mulai dari perkawinan, hadhanah (pengasuhan dan pendidikan anak), sampai kepada hukum kewarisan dan lain-lain yang lazim dikenal dengan sebutan al-ahwal al-syakhshiyyah, ahkam al-usrah, Islamic family law dan lainnya. Hukum Keluarga Islam benar-benar mengatur semua dan setiap urusan keluarga mulai dari hal-hal yang bersifat filosofis dan edukatif, sampai hal-hal yang bersifat akhlaqi yang teknis operasional sekalipun. Itulah sebabnya mengapa Islam memerintahkan pemeluknya agar selalu saling menyayangi dan bekerjasama antara sesama keluarga.

Secara historis, di Indonesia banyak tokoh-tokoh perempuan, baik pejuang-pejuang pra kemerdekaan hingga masa sekarang ini. Kita bisa meneladani Raden Ajeng Kartini dari Jepara yang berupaya untuk memperjuangkan emansipasi perempuan. Kita juga bisa meneladani Cut Nyak Din yang gigih berjuang melawan penjajah di Aceh. Dalam Islam, Khadijah dan A`isyah adalah sosok yang sangat berperan terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW. Khadijah seorang saudagar dermawan dan perempuan terhormat di kalangan Arab; A`isyah perempuan cerdas dan banyak meriwayatkan hadis. Disamping itu, dikenal tokoh sufi Rabi`ah  Adawiyah yang intens untuk pengembangan ilmu tasawuf. Era sekarang kita juga bisa meneladani Ainun Habibi, isteri dari Presiden Republik Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie yang setia lahir batin untuk memberikan support sang suami dan juga keluarganya. Dibidang lingkungan, ada nama Aleta Baun, seorang ibu dari Nusa Tenggara Timur yang menerima Goldman Enviromental Prize tahun 2013 di San Fransisco Amerika Serikat atas jasa-jasanya dibidang konservasi alam. Goldman Environmental Prize merupakan Hadiah Lingkungan Hidup yang diberikan setiap tahun kepada pahlawan lingkungan hidup, masing-masing mewakili enam kawasan besar di dunia. Tentu, kita juga bisa meneladani tokoh tokoh yang lain. Pendek kata, mereka berperan positif guna kemajuan dan peradaban pada zamannya di berbagai sektor kehidupan. Karena memang kontribusi dan partisipasi perlu dipetakan dan perjuangkan dengan baik. Jadi perjuangan mereka untuk kemerdekaan jiwa, raga dan lingkungannya, untuk meletakkan moralitas sebagai fondasi membangun peradaban masyarakat dan bangsa.

Akhirul kalam, menurut Prof. Naquib al-Attas kekaburan makna adab/moral atau kehancuran adab/moral tersebut mengakibatkan kezaliman (zulm), kebodohan (jahl), dan kegilaan (junun). Artinya karena kurang adab/moral maka seseorang akan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (zalim), melakukan cara yang salah untuk mencapai hasil tujuan tertentu (jahil) dan berjuang berdasarkan kepada tujuan dan maksud yang salah (junun). Maka, jadilah perempuan yang kontributif dan beradab. Wallahu A`lam.

*Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus dan juga Pemuda Pelopor Pendidikan kabupaten Kudus 2011.