Artikel

PEREMPUAN-PEREMPUAN TOLERAN DI PEMATANG SAWAH

Administrator | Kamis, 07 Juni 2018 - 14:21:41 WIB | dibaca: 307 pembaca

Oleh : Manijo 

Mungkin bukan hanya saya yang tertunduk malu tapi senang ketika membaca alasan buku Gerakan Kultural  Islam Nusantara, yang merupakan kumpulan masyarakat Isnus muktamar NU ke-33 yang tergabung dalam JNM (Jamaah Nahdliyin Mataram), begitu hebatnya para ulama masa lalu yang telah berhasil memahami Islam dan kemudian menggabungkan dengan budaya setempat (nusantara) sehingga tampil Islam yang ramah, Islam yang membumi dan Islam yang rahmatan lil alami sehingga mampu diterima oleh masyarakat nusantara dari semua lapisan tanpa ada kekerasan apalagi gesekan yang menjadikan permusuhan.

Siapa yang tidak ngeri ketika negara-negara timur tengah seperti Yaman, Mesir, dan Irak mengalami peperangan yang tidak jelas juntrungya, sehingga banyak kaum muslimin yang jadi korban, mereka kehilangan satu bahkan beberapa generasi, mereka hidup dalam ketidak pastian, anak-anak bukan lagi berjuang dalam ilmu pengetahuan tapi mereka berjuang dengan membawa senjata.

Kondisi ini sudah terjadi di Timur Tengah, tapi bukan tidak mungkin, hal serupa akan terjadi di negara-negara Asia seperti Indonesia bila pemahaman orang Islam yang ada di dalamnya  intoleran, inklusif, tertutup, benar hanya untuk kelompoknya sendiri, menganggap yang lain sebagai thoghut, dan menyukai kekerasan.

Sebenarnya Islam moderat dan toleran sudah dipraktekkan sejak Islam dibawa oleh para Walisongo di Jawa, mereka berdakwah bukan dengan kekerasan terhadap penduduk pribumi yang masih primitif saat itu, tapi mereka para mubalig berdakwah dengan penuh hikmah dan adaptif terhadap budaya setempat, sehingga nyaris tidak ada pertentangan apalagi sampai mengalirkan darah. Agus Sunyata dalam bukunya Atlas walisongo menyebutkan, Islam datang ke Nusantara pada abad ke 7, itu artinya sangat mungkin Islam nusantara saat itu nabi Muhammad SAW masih hidup, tapi nusantara baru menjadi mayoritas beragama Islam pada abad ke 14, berarti ada sekitar tujuh abad dari abad ke 7 sampai abad ke 14 belum terlihat hasilnya, sedangkan walisongo menyebarkan Islam cukup antara satu atau dua abad semua nusantara menjadi muslim. Bukankah hal ini sebagai bukti nyata yang bisa di lihat, betapa hebatnya pendekatan kultural, toleran dan moderat dalam Islam telah dipraktekkan oleh para ulama dan kyai-kyai yang ada di nusantara termasuk kyai mushola yang ada di pelosok desa.

Banyak jasa kyai desa yang mengajarkan teologi dan fiqh yang mampu membekas dalam setiap langkah hidupnya sehingga para santrinya dimanapun dan kapanpun tetap memegang teguh iman dan tetap menjalankan sholat walaupun pekerjaanya hanya buruh bahkan petani sawah.

Saya jadi teringat dengan beberapa hari yang lalu, sehabis sholat asar saya jalan-jalan menyusuri jalan desa yang masih alami, didepan terbentang sawah luas para petani desa, kanan kiri terdapat sungai kecil yang selalu menemani petani. Saat itu kebetulan sedang panen raya padi walikan (kemarau) ketika itu masih ramai para petani di sawah, laki-laki terlihat sibuk mengambil padi di sawah, sedangkan perempuan menunggu mengais sisa-sisa padi yang tertinggal atau tercecer, tidak masuk di kantong-kantong sak.

Sebagian perempuan dari mereka ada yang sholat dipematang sawah dengan khusu’ dengan pakaian seadanya walaupun tetap menutup aurat. Bergantian mereka melakukan sholat dipematang sawah, sehingga tidak sadar akhirnya padi hasil panenan terambil habis. Perempuan-perempuan itupun terlihat bahagia dengan raut muka yang ceria, mungkin karena kantong sak yang dibawa sudah terisi padi walaupun tidak penuh, tapi mereka puas bukan hanya padi yang diperoleh namun mereka puas karena bisa menjalankan ibadah dengan sempurna walaupun situasi dan kondisi seadanya.

Tepat di Desa Undaan Lor, Karanganyar, Demak, adalah mayoritas penduduknya  bertani. Desa kecil yang terletak di sebelah timur kabupaten Demak ini mayoritas petani sawah, bahkan daratan desa dengan sawahnya lebih luas sawahnya. Tidak heran penduduk di desa itu mayoritas sebagai petani.

Ada sekitar 1500 kepala keluarga yang mendiami desa ini dan 80 % dari penduduk adalah bertani, sehingga laki-laki dan perempuan tidak aneh dan bahkan terbiasa berada di sawah setiap hari dan setiap waktu. Sebagaian besar mereka ke sawah setelah mereka sholat (dhuhur/Ashar) di rumah, namun tidak sedikit yang tidak sempat pulang ke rumah karena alasan lain, sehingga sebagian mereka melaksanakan sholat di pematang sawah.

Kegiatan sholat di pematang sawah ini juga dilakukan oleh petani yang bukan berasal dari daerah itu –mungkin dari kabupaten sikitar-  baik laki-laki maupun perempuannya. Mereka melakukan ibadah sholat ini merasa nyaman, khusu’  dan tidak masalah, walau tempat sholat seadanya dan beralaskan daun pisang, juga seadanya, pakaian yang digunakan juga sama dengan pakaian yang digunakan saat bekerja di sawah.

Mereka melakukan ini ikhlas tanpa paksaan, juga bukan karena mereka tidak tahu Islam, justru mereka adalah orang-orang Islam yang tahu, sehingga mereka harus menjaga sholat dengan benar dengan harus bisa beradaptasi dimanapun mereka berada. Pekerjaan di sawah dengan bisa menjalankan sholat walaupun di pematang sawah adalah pekerjaan yang sangat mulia, satu sisi mereka orang taat beragama yang bisa bertoleransi dengan alam sekitar juga bisa beradaptasi dengan kondisi dimana ia ada saat itu, sedangkan sisi yang lain mereka sebagai makhluk sosial yang bertanggung jawab atas kehidupan keluarga dan masyarakat sekitar.

Perempuan-perempuan toleran di pematang sawah ini, hanyalah sebagian dari beribu-ribu perempuan di nusantara ini, bila perempuan mampu menyadari seperti perempuan desa di sawah, mungkin Islam akan lebih terlihat ramah, terlihat santun dan mampu hidup berdampingan dengan siapapun dan mampu beradaptasi di kondisi apapun. Orang desa pelosok saja sudah bisa melakukan Islam yang ramah, toleran dan moderat, kenapa yang ada di sana tidak bisa melakukan hal yang sama? Malu bila mendengar perempuan yang sudah tega membunuh anaknya sendiri dengan dalih jihad, bukankah mengais rezeki di sawah termasuk jihad juga, mengingat mereka melakukan ini mempertaruhkan semuanya demi anak dan keluarga di rumah. Semoga menjadi inspirasi.