Artikel

RAKSASA TIDUR ITU…INDONESIA

STAIN Kudus | Senin, 01 September 2014 - 14:25:01 WIB | dibaca: 1388 pembaca

RAKSASA TIDUR ITU…INDONESIA

OLEH: EKAWATI RAHAYU NINGSIH, SH, MM

            Global Trend perkembangan ekonomi syari’ah pada saat ini naik pesat seiring dengan bertambah baiknya pemahaman masyarakat dunia terhadap pentingnya pemberlakuan ekonomi syari’ah di berbagai sektor ekonomi, baik sektor perbankan dan keuangan syari’ah, maupun bisnis dan perdagangan. Apalagi setelah terjadinya krisis ekonomi di Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu, membuktikan bahwa bank dan lembaga keuangan syari’ah adalah lembaga keuangan yang paling tahan dari bencana krisis ekonomi dan moneter fluktuatif.

Hal ini ditunjukkan dengan bukti-bukti pendukung diantaranya, menurut International Association for Islamic Bank, jumlah bank-bank Islam di seluruh dunia Islam, yang mencakup 40 negara-negara muslim maupun non muslim sudah lebih dari 200 unit, padahal pada tahun 1986 baru berjumlah 35 unit, dengan asset sebesar US$200,- miliar. Walhasil, negara-negara di Eropa yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam-pun telah mengakui bahwa sistem keuangan syari’ah memiliki prospek kedepan yang cukup baik, International Financial Services London (IFSL) melaporkan bahwa perkembangan industri keuangan syari’ah di Inggris dalam tahun-tahun terakhir ini berkembang sangat pesat. Sudah ada 5 bank syari’ah dari total 22 lembaga keuangan yang aktif di Inggris (Syafi’i, al Ikhwan.net).

Dari beberapa fakta diatas, tak heran jika negara Korea Selatan-pun pada saat ini mulai melirik dan tertarik pada penerapan ekonomi syari’ah, baik untuk pasar nasionalnya maupun pasar luar negerinya. Salah satu lembaga riset dari Korea Selatan (KIRI) telah membekali pemahaman tentang budaya keuangan Islami dalam industri asuransi-nya, jika ingin sukses menembus pasar Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia. (Republika, 21 Agustus 2014)

Analis KIRI, Jeon Yong Sik yang dikutip dari Koreatimes.co menyampaikan bahwa Asia Tenggara adalah rumah bagi populasi Islam terbesar di dunia. Dua negara utama yaitu Indonesia dan Malaysia saat ini sedang menggenjot ekonomi syari’ah masuk ke sektor-sektor utama ekonomi negara. Oleh karena itu Jeon Yong Sik menyarankan, jika perusahaan-perusahaan insurance (antara lain: Hanwha Life Insurance) akan melakukan ekspansi ke wilayah Asia Tenggara terutama Indonesia dan Malaysia, maka wajib mempelajari ekonomi Syari’ah.

Kondisi riil di Indonesia, jumlah Bait al Maal wa al Tamwil (BMT) pada saat ini sudah mendekati angka 4000 unit dan Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah berjumlah sekitar 86 unit. Dalam perkembangan produk dan pelayananannya, BMT pun mampu memperbaiki kinerjanya berbasis pada perkembangan Teknologi Informasi (TI) sesuai kebutuhan anggotanya dengan membuka layanan Mobile Platform BMT (M-BMT) atau menerapkan uang virtual sebagaimana yang sudah dilakukan oleh BMT BUS Lasem Rembang. Fungsi M-BMT sama seperti mesin ATM untuk kemudahan transaksi, transfer, bayar tagihan listrik, telepon dan lain-lain. (Republika,  20 Agustus 2014).

Lelang perdana Term Deposit (TD) Valas Syari’ah sebagaimana yang dilakukan Bank Indonesia (BI) juga telah melampaui target. Jumlah penawaran yang masuk tercatat sebesar 89 juta dolar AS, sehingga melebihi target sebesar 70 juta dolar AS (Republika, 21 Agustus 2014). Maksud dikeluarkannya Term Deposit (TD) Valas Syari’ah adalah untuk mendukung peran perbankan syari’ah dan pendalamannya dalam pasar keuangan syari’ah dengan cara menerbitkan instrument operasi moneter syari’ah BI dalam denominasi valas.

Fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa Ekonomi Syari’ah di dunia maupun di Indonesia mengalami perkembangan sangat pesat. Tetapi, jika dibandingkan dengan Malaysia dan negara-negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Yordania, dan Kuwait, Indonesia masih kalah maju. Menurut Sultan Emir Hidayat, Ekonom asal University Collage of Bahrain (Republika, 19 Agustus 2014), bahwa Indonesia seharusnya bisa mengembangkan ekonomi syari’ah lebih pesat dibandingkan negara manapun di dunia, karena mayoritas penduduk Indonesia 80 persen adalah Muslim dan akses transportasi komunikasi sangat mudah. Hal ini menjadi peluang besar, tetapi karena kendala dan berbagai hambatan yang dihadapi, Indonesia terlihat seperti raksasa yang sedang tertidur….secara fisik kelihatan besar, tetapi kurang punya kekuatan…..

Menurut hasil survey dari Kuwait Finance House Research, Malaysia menduduki peringkat teratas dalam perekonomian Islamnya, kemudian disusul oleh Emirat arab dan Bahrain. Sedangkan Indonesia yang memiliki penduduk mayoritas Muslim tidak termasuk ke dalam 20 besar peringkat terbaik pelaksana ekonomi syari’ah dunia. Ironisnya lagi, dibandingkan dengan negara yang minim penduduk Muslimnya, seperti Amerika dan Australia, perekonomian syari’ah Indonesia masih jauh tertinggal (Republika, 29 Agustus 2014).

 Beberapa kendala klasik yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan perbankan syari’ah diantaranya adalah dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi, terutama untuk mengatasi kendala teknis di lapangan, menjadi issu utama. Sekalipun beberapa tahun terakhir, BI telah mengeluarkan Cetak Biru Perbankan Syari’ah secara periodik, tetapi perbankan syari’ah belum bisa dijalankan secara independen, karena masih tercampur dengan regulasi pemerintah pada perbankan konvensional. Pemerintah masih khawatir terhadap kemandirian perbankan syari’ah dan dianggap minor dalam hal permodalan sehingga masih harus di cangkokkan (dalam berbagai versi) dengan perbankan konvensional. Padahal, justru kekhawatiran ini akan mengkerdilkan tumbuh kembang perbankan syari’ah  (abnormal).

Ketidak-bijaksanaan pemerintah juga tampak pada produk tertentu dalam mekanisme perbankan syari’ah (seperti: kredit ala murobahah) yang masih dikenakan pajak ganda untuk setiap akadnya, sehingga biaya/potongan yang dikeluarkan konsumen untuk setiap akadnya menjadi lebih besar dibandingkan dengan kredit jual beli pada perbankan konvensional. Masyarakat yang kurang memahami kewajiban untuk selalu berakad syari’ah, maka akan cenderung lebih memilih produk jual beli perbankan konvensional, selain murah mekanismenya juga tidak berbelit-belit.

Ketidak-lengkapan regulasi pemerintah juga tampak pada upaya pengelolaan lembaga keuangan syari’ah (seperti: BMT, koperasi syari’ah, pegadaian syari’ah, asuransi syari’ah) secara integrated. Terjadinya banyak penyimpangan dan kurangnya pengawasan dalam  pengelolaan lembaga keuangan syari’ah tersebut, menunjukkan ketidak-siapan sehingga merugikan konsumen. Akhirnya konsumen menjauh dan jera menggunakan produk/layanan lembaga keuangan syari’ah.

Fakta lain juga menunjukkan bahwa 80 persen penduduk yang mayoritas muslim juga belum semua memahami ekonomi syari’ah dengan baik dan sempurna. Hal ini terjadi bukan karena Indonesia kekurangan orang pintar, tetapi karena perbedaan persepsi dan kurang yakin dalam menjalankan kewajiban ber-ekonomi syari’ah dalam bingkai masyarakat dan negara yang hingga saat ini masih menjadi polemik klasik ditengah-tengah umat maupun tokoh-tokoh agama dan akademisi. Perbedaan persepsi dan kekurangyakinan inilah yang masih menjadi ganjalan terbesar bagi penerapan ekonomi syari’ah di Indonesia. Bagi mereka yang pragmatis, maka berfikir hal ini tidaklah menjadi penting.

Untuk mengatasi beberapa fakta diatas, salah satunya adalah dengan meningkatkan awareness dan preference terhadap ekonomi syari’ah, baik pada tataran individual, masyarakat maupun pemerintah. Tiga dimensi ini harus menjadi satu variable utama membentuk pemahaman yang comprehensive  terhadap pemberlakuan ekonomi syari’ah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Jika Malaysia saja yang penduduk muslimnya kurang dari 60 persen mampu menerapkan ekonomi syari’ah dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan Indonesia dengan segala potensi yang ada, lebih mampu menerapkan ekonomi syari’ah dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

“Indonesia Optimis Ekonomi Syari’ah, mestinya kalimat inilah yang menjadi motivasi dari semua komponen bangsa. Jika negara-negara lain yang notabene bukan mayoritas Muslim saja melakukan pembenaran dan yakin dalam melaksanakan ekonomi syari’ah, entah apapun motivasinya, semestinya Indonesia dengan segenap potensi yang ada harus semakin yakin dan optimis. Bisa jadi motivasi negara-negara di luar Indonesia yang menerapkan ekonomi syari’ah karena sekedar ingin meraup keuntungan kapital semata, dan itupun sudah mereka buktikan. Sementara setiap Muslim yang diwajibkan meyakini dan menjalankan ekonomi syari’ah, maka InsyaAllah keuntungan yang di dapatkan tidak hanya duniawi tetapi juga ukhrowi.

Akhyar Adnan, Kepala Center For Islamic Economics Studies UMY mengatakan, Prof Humauon (2011) dari Singapura memproyeksikan bahwa Perekonomian Syari’ah Indonesia akan menjadi yang terbesar di dunia pada tahun 2023. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan dan memajukan ekonomi syari’ah (Republika, 29 Agustus 2014). Harapan terbesar penulis adalah, bahwa bangsa Indonesia bukanlah seperti raksasa yang hanya besar fisiknya, tetapi juga memiliki daya fikir, cara pandang dan model sikap yang berkualitas untuk memajukan perekonomian bangsa dengan ber-ekonomi syari’ah secara konsisten dan menyeluruh.