Artikel

Ramadhan=Ramai (dzan) Oleh: M. Saekan Muchith

TIPD STAIN Kudus | Jumat, 09 Juni 2017 - 05:58:49 WIB | dibaca: 329 pembaca

 

 

 

Penulis menyadari bahwa judul di atas bukan pemenggalan yang sesuai dengan  ketentuan bahasa yang baik dan benar. Pemenggalan itu untuk mengurai makna yang terkandung di dalam judul, sehingga pembaca mampu mengambil hikmah dibalik bulan ramadhan.  Dzan yang berarti prasangka merupakan perbuatan bersifat alternatif yaitu bisa bermakna negatif dan juga positif. Jika dzan itu diawali dengan kata su’ , menjadi su’udzan yang berarti berprasangka buruk (jelek), jika dzan diawali dengan kata husnul menjadi husnudzan (berprasangka baik).

Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmad, maghfiroh yang nantinya menjadikan manusia terjada dari siksa api neraka (idqum min al naar). Agar umat islam memperolehs egala kebaikan yang ada di dalam bulan ramadhan maka, sudah seharusnya harus menjadikan bulan ramadhan sebagai bulan yang ramai dzan (prasangka ) yang positif  (husnu al dzan) bukan prasangka yang buruk (su’udzan). Secara tidak sadar manusia seringkali terjebak kepada sikap dan perilaku yang mengarah kepada prasangak buruk (su’dzan). Akibatnya sikap dan perilaku manusia dipenuhi atau dihiasi dengan perbuatan yang sangat buruk.

Konon ada cerita, iblis protes kepada Allah minta pensiun dini untuk menggoda manusia. Ketika ditanya oleh Allah kenapa kamu minta pensiun dini menggoda manusia? Padahal pada saat mau saya ciptakan, justru  kamu  memberikan syarat, siap diciptakan asalkan diizinkan menggoda manusia di muka bumi. Iblis menjawab, saya minta pensiun dini untuk menggoda manusia, karena sekarang sifat dan perilaku manusia sudah banyak yang melebihi sikap kami (iblis), saya (iblis) khawatir  suatu saat nanti, bukan iblis yang menggoda manusia, tetapi justru iblislah yang tergoda oleh sikap dan perilaku manusia yang sudah cenderung buruk dan jahat.

Ramadhan kali ini momentum sangat strategis untuk menciptakan sikap dan perilaku yang baik, salah satu upaya untuk mencapai kualitas diri yang baik harus diawali dari kebiasanaan untuk berprasangka baik (husnu dzan), artinya umat Islam yang berpuasa ramdhan dan di bulan bulan lainnya berupaya untuk selalu membudayakan prasangka baik (husnu dzan) kepada siapa saja agar diantara manusia tidak timbul saling curiga negatif yang akan berujung kepada kebencian bahkan pertengkaran dengan alasan dan tujuan yang tidak jelas. Prasangka baik (husnu dzan) akan mudah dilakukan jika setiap orang selalu instrospeksi (muhasabah), terhadap dirinya sendiri. Setiap manusia selalu merasa ada kekurangan dan kelemahan, bukan kerasa memiliki kelebihan, bukan merasa dirinya yang paling pintar, paling berkuasa, bukan dirinya yang memiliki segala galanya. Jika sikap dan karakter merasa segala galanya masih dimiliki setiap manusia maka prasangaka baik (husnu dzan) akan sulit dilakukan. Bukan ramadhan kali ini kita jadikan awal untuk memperbaiki segalaa kekurangan dan kekhilafan yang telah dilakukan dimwaktu yang lalu. Semog ramadhan kali ini umat Islam benar benar bisa menjadikan ramai dzan yang positif sehingga kita semua benar benar menjadi orang yang bertaqwa (muttaqien), amien.