Artikel

REBORN (KEMBALI FITRAH) Oleh : Iwan Fahri Cahyadi

Administrator | Selasa, 04 Juli 2017 - 13:43:50 WIB | dibaca: 535 pembaca

REBORN (KEMBALI FITRAH)
Oleh : IWAN FAHRI CAHYADI*


Alhamdulillah wa syukurillah, akhirnya kita sudah menunaikan ibadah puasa ramadhan 1438 H. Berbagai amalan ibadah tentu sudah kita kerjakan semaksimal mungkin di dalam bulan suci tersebut. Tentu selama menjalankan ibadah di bulan suci tersebut kita berharap target-target yang ingin kita capai pada akhirnya akan mendapatkan apa yang kita harapkan sesuai kesungguhan dalam mengerjakannya. Siapa menanam akan memetik buahnya. Marilah kita meluangkan waktu dan merenung barang sejenak tentang ibadah yang telah kita lakukan selama bulan ramadhan tersebut dan setelah hari raya Idul Fitri 1438 H kita bisa memetiknya.

Hakikat dari puasa ramadhan tidak hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga pengendalian hawa nafsu. Relatif mudah kalau kita menahan lapar dan dahaga mulai terbit fajar hingga maghrib karena lapar dahaga identik dengan makanan dan minuman yang bersifat material, fisik dan berasal dari luar tubuh kita, sehingga kita mudah mengantisipasinya. Kondisi ini akan sangat berbeda jauh ketika kita dihadapkan dengan godaan hawa nafsu yang sifatnya immaterial, tidak tampak dan berasal dari dalam diri kita. Begitu lengah sedikit maka nafsu fujur akan menyergap kita untuk berperilaku buruk, hina dan nista dihadapan Allah SWT maupun manusia. Dengan berpuasa diharapkan kita mampu mengendalikan hawa nafsu, inilah yang dimaksud dengan syaitan dibelenggu saat bulan ramadhan. Bukankah syaitan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Sesungguhnya syaitan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.” [HR. Muslim].

Secara garis besar, setiap dalam diri manusia terdapat empat jenis nafsu, yang pertama adalah nafsu sufiyah yaitu nafsu yang identik dengan sifat binatang yaitu makan, minum, tidur dan kawin. Nafsu ini jauh dari kesadaran berketuhanan. Kedua adalah nafsu amarah, yaitu nafsu yang merusak karena kita tidak mampu mengendalikan amarah. Ketiga nafsu lawwamah, nafsu yang tidak punya pendirian karena terkadang baik dan terkadang buruk. Ketiga jenis nafsu yang telah saya sebutkan ini dikategorikan sebagai nafsu fujur. Dan yang terakhir adalah nafsu muthmainah, nafsu yang baik sehingga jiwa kita tenang.

Kalau kita klasifikasi nafsu di atas maka ada faktor ketidak-seimbangan yaitu 1 kebaikan melawan 3 keburukan. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan fasilitas puasa, dzikrulah dan ibadah-ibadah lainnya untuk mengendalikan ketiga nafsu fujur itu. Keempat jenis nafsu inilah yang menyelimuti ar-ruh kita atau keempatnya menyelimuti (dinding jiwa,) ar-ruh yang berada di dalamnya. Selama nafsu amarah dan lawwamah (dari sisi buruknya) berkolaborasi maka dinding jiwa kita akan tertutup sehingga ar-ruh terpenjara atau diselimuti oleh nafsu fujur. Perilaku kita menjadi semakin buruk bahkan terkadang lebih rendah dari sifat binatang karena turut andilnya nafsu sufiyah.

Hal ini akan berbeda ketika kita mampu menjalankan ibadah secara istiqomah dan hanif, maka nafsu muthmainah akan berkolaborasi dengan nafsu lawwamah (dari sisi baiknya) maka dinding jiwa akan terbuka sehingga nafsu amarah akan diredam dan nafsu sufiyah akan mengikut jenis nafsu mana yang dominan, sehingga sifat binatang akan tersungkur, tunduk dan patuh bila nafsu baik berkuasa.

Ketika dinding jiwa terbuka, maka ar-ruh akan berkuasa atas tubuh ini. Ibarat kereta pedati yang ditarik 4 kuda dan dikendalikan oleh seorang kusir. Sang kusir (ar ruh) akan mengendalikan empat kuda (sufiyah, lawwamah, amarah dan sufiyah) untuk menarik kereta (tubuh kita) sehingga perilaku dan ahlak kita menjadi baik, karena ar-ruh itu suci dan selalu mengajak kepada kebaikan serta senantiasa ingat kepada Allah SWT. Inilah yang dinamakan agama fitrah dan disetiap diri manusia telah dipersiapkan oleh Allah SWT. Target inilah yang ingin dicapai selama menjalankan ibadah puasa, atau kita kembali menjadi fitrah.

"Dan hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (dan tetaplah) atas fitrah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Ar-Rum 30:30).

Orang yang kembali fitrah hatinya sangat lembut, "nglepruk", penuh kasih sayang kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan serta senantiasa punya rasa malu dan takut di hadapan Allah SWT. Hal ini terjadi karena sifat ar Rahman dan ar-Rahim dari Allah SWT telah diturunkan kepada hamba pilihan-Nya. Kesadaran ketauhidannya senantiasa tune in 24 jam kepada Rabb-nya, sehingga perilakunya jauh dari perbuatan keji dan mungkar karena di jaga langsung oleh Allah SWT.

Lalu kenapa selama ini banyak manusia lebih banyak dikuasai oleh nafsu fujur daripada takwa? Marilah kita kilas balik tentang perjalanan hidup kita. Sebelum Allah SWT meniupkan ar-ruh ke dalam bayi yang berumur 4 bulan dalam kandungan ibu saat hamil, sebenarnya ar- ruh kita sudah pernah bersyahadat di alam azali. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an," Alastu bi Rabbikum? Qollu bala syahidna" (QS. Al-'Araaf 7:172). Dan ketika lahir pun seluruh bayi dalam keadaan fitrah sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, "Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”(HR. Muslim).

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan sang bayi, perlahan-lahan kesadaran ke-tauhid-an nya mulai luntur karena sang bayi yang beranjak menjadi anak-anak mulai mengaku yang sebenarnya bukan miliknya. Pernyataan ini orang tuaku, ini rumahku, ini sepedaku, ini mobilku dan ku...ku...ku yang lain sebagai bentuk kepemilikan telah menjerat (binding/mengikat) dirinya ke dalam keduniaan. Dan kejadian ini semakin menjerat ketika beranjak dewasa, pengakuan-pengakuan seperti ini istri/suamiku, ini anakku, ini hartaku, jabatanku, dan seterusnya. Ikatan-ikatan inilah yang membelenggu kesadaran akan ber-keTuhan-an. Apalagi jika manusia jenis ini jauh dari amal ibadah, maka nafsu fujur benar-benar telah memenjarakan ar-ruh-nya yang menangis dalam ketidak-berdayaan. Suka kepada dunia secara berlebihan inilah yang membuat terhijab kepada Allah SWT. "Tuhan-tuhan" inilah yang diam-diam kebanyakan saat ini kita agung-agung dan menomor-duakan Tuhan yang sebenarnya.

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya dari sisi Allah-lah pahala yang besar" (QS. An-Anfal 8:28)

Ibadah secara istiqomah-lah sebagai salah salah satu media untuk mengembalikan kesadaran kita akan Allah SWT, sehingga apa-apa fasilitas yang diberikan Allah SWT kepada kita hanya diakui sebagai titipan dan sarana ibadah kepada-Nya. Fasilitas bukanlah untuk kita akui dan miliki tapi bukan juga kita harus simgkirkan dengan alasan zuhud. Ini namanya salah kaprah dan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Fasilitas cukup kita manfaatkan untuk beribadah, dan kapan pun fasilitas itu di minta oleh pemiliknya kita harus ikhlas karena itu memang bukan milik kita.

Puasa ramadhan adalah salah satu ibadah untuk mencapai ke-fitrah-an sebagai makhluk berketuhanan, di samping itu Ramadhan juga sebagai sarana kita untuk meraih fitrah secara sosial (tarawih berjamaah, zakat fitrah, bersilaturahim ke sanak saudara), fitrah susila (berbudi luhur, ahlaqqul karimah) dan fitrah bermartabat sebagai manusia yang derajatnya lebih tinggi dari makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Semoga puasa ramadhan kali ini benar-benar sebagai proses yang harus diperjuangkan untuk menghasilkan diri sebagai makhluk yang kembali fitrah. Amin.

*Dosen STAIN Kudus