Artikel

REFLEKSI KKN ABCD: GENERASI MENGEMBANGKAN ASET Oleh Didi Nur Jamaludin*

Administrator | Kamis, 30 Maret 2017 - 08:16:15 WIB | dibaca: 682 pembaca

REFLEKSI KKN ABCD: GENERASI  MENGEMBANGKAN ASET
Oleh Didi Nur Jamaludin*
 

Mahasiswa sebagai generasi muda yang terdidik, memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat menuju lebih baik. Berbagai pengalaman mahasiswa baik akademik maupun non akademik saat di kampus menjadi modal besar untuk  hidup bermasyarakat.  Berbagai macam ketrampilan  mahasiswa baik dalam mengajar, menghadapi berbagai masalah, berbicara dan negoisasi menjadi potensi diri yang layak untuk dikembangkan untuk kemajuan  bersama masyarakat. Era sekarang makna kemajuan tidak lagi sebatas pada kemajuan diri sendirinya, namun lebih pada bagaimana dapat memajukan secara bersama-sama dengan saling bekerja sama atau yang kita kenal sebagai kemitraan maupun kolaborasi.

Dinamika kehidupan masyarakat, memunculkan berbagai macam permasalahan dan sekaligus juga memiliki potensi yang mengiringinya, hal tersebut muncul baik pada masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Keadaan masyarakat pedesaan dengan terbatasnya lapangan pekerjaan, pendapatan ekonomi yang masih rendah seringkali  menjadi masalah yang lazim dalam masyarakat pedesan, sehingga budaya mencari pekerjaan di kota besar dianggap menjadi solusi praktis dalam meningkatkan taraf hidup.

Sementara potensi alam yang melimpah kadang kurang mendapatkan perhatian bagi masyarakat dan berbagai macam aset daerah dibiarkan begitu saja. Memahami potensi alam yang melimpah memang bukan persoalan mudah, namun lebih pada persoalan keyakinan dan pengalaman. Contoh sederhana berupa objek wisata, kadang suatu objek wisata dianggap menjadi hal yang sederhana  bagi penduduk lokal karena menjadi hal biasa  yang sering ditemui. Berbeda dengan penduduk daerah lain, bisa jadi hal tersebut menjadi objek yang patut dikembangkan menjadi wisata yang indah dan eksotis. Fenomena tersebut akhir-akhir ini  banyak bermunculan diberbagai daerah yang mengembangkan desa wisata.

Blora dan Pati menjadi kabupaten yang menjadi tujuan mahasiswa dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKN) STAIN Kudus. Secara geografis Kabupaten Blora berada pada ujung timur Provinsi Jawa Tengah dengan dominansi hutan jati menjadi ciri khas dan beberapa daerah lain memiliki potensi pertanian maupun peternakan. Karakter masyarakat desa yang ramah, sopan, kerja keras dan ulet sangat terasa ketika memasuki wilayah Blora. Hal tersebut terlihat saat seorang ibu pengendara motor, membawa tumpukan jerami pada bagian belakang motor untuk pakan ternak. Sikap kerja keras seperti ini, tentu menjadi potensi besar (aset) yang dimiliki oleh warga setempat. Bahkan bisa jadi kerja keras yang dilakukan bukan merupakan kesulitan hidup, melainkan kebahagian hidup karena dapat memberikan pakan ternak dan sekaligus juga dapat membantu dalam mencari nafkah keluarga.

Melalui adanya undang-undang Desa seolah menjadi motivasi eksternal dalam membangun desa. Keberhasilan  pembangunan suatu daerah sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat. Membangun kesadaran masyarakat untuk sadar akan potensi  (aset) daerah, menjadi hal penting dalam pembangunan masa sekarang.  Pembangunan masyarakat pedesaan tentu tidak hanya dimaknai pada pembangunan infastruktur, melainkan juga bisa jadi layanan program yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan masyarakat.

Program KKN dengan Pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dianggap sebagai pendekatan yang tepat untuk mengembangkan segala aset masyarkat. Hal ini karena pendekatan ABCD memberikan perhatian untuk memandang aset secara positif. Landasan berpikirnya bahwa segala sesuatu itu memiliki daya guna, sekalipun itu seorang pengangguran ia merupakan aset daerah yang wajib diberdayagunakan. Sikap kerja keras, sopan dan ramah ini pun dimaknai sebagai aset diri yang dapat dikembangkan dalam suatu pekerjaan.

Ide tentang orentasi KKN pada pengembangan aset, merupakan ide yang cukup brilliant, dengan ide tersebut kita bisa melihat pengembangan sumber daya manusia maupun alam menjadi terkelola dengan baik. Pandangan tentang pengembangan aset, bisa menjadi pertanyaan refleksi untuk diri kita masing-masing, seperti Apa aset diri kita yang bisa dikembangkan?, atau dengan bahasa lain dengan ungkapan apa kemampuan yang  kita berikan untuk orang lain?. Atau jika kita sebagai mahasiswa, apa aset kampus yang dapat digunakan untuk pengembangan diri?. Apa aset daerahku yang bisa dikembangkan?. Jika beberapa pertanyaan sudah bisa terjawab dengan baik, maka kita akan memandang lebih positif terhadap masa depan.

Upaya pengembangan aset agar berjalan dengan baik dan optimal, memang bukan pekerjaan mudah. Hal ini tentu dalam pelaksanaanya berbagai kendala maupun persoalan akan selalu muncul. Sikap apatis dan tidak kooperatif, juga biasanya ada dalam suatu daerah. Permasalahan sarana dan pendanaan juga seringkali menjadi permasalahan. Oleh karena itu ada pra syarat dasar yang seyogyanya dapat dipenuhi dalam mengembangkan aset, diantarnya sebagai berikut.

Pertama, miliki impian (dream), mimpi dalam hal ini, mengandung makna bahwa seseorang maupun kelompok masyarakat  memiliki suatu cita-cita ataupun gambaran imaginasi. Impian yang baik manakala impian itu sesuai dengan karakteristik diri ataupun karakter daerah. Jika masyarakat menghendaki pengelolaan pertanian maupun peternakannya optimal maka gambaran impiannya, bagaimana masyarakat pertanian dan peternakan bisa lebih unggul.  Begitupun dengan mahasiswa apa yang menjadi impian ketika menjadi mahasiswa maupun ketika setelah lulus?

Kedua, membutuhkan permodelan (modeling), suatu impian akan mudah dicapai manakala kita memiliki permodelan yang baik. Jika kita ingin mengembangkan suatu koperasi dalam suatu daerah, maka kita harus mencari permodelan koperasi yang telah sukses. Semakin banyak permodelan yang sukses, maka semakin baik pula untuk menjadi referensi.  Kaidah lain juga bisa dilakukan semakin banyak kemiripan daerah, maka permodelan semakin mudah dilakukan.

Ketiga, pengetahuan (cognition), jika seseorang memiliki impian dan permodelan  maka secara otomotis, ia akan berusaha untuk mencari catatan informasi agar bisa lebih sukses. Pengetahuan yang diperoleh tidak selamanya harus ditempuh dengan bangku sekolah formal ataupun kuliah, melainkan juga berbagai pengalaman yang mereka peroleh. Hal tersebut sesuai dengan  pepatah, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengetahuan aplikatif, inilah yang memiliki  arti penting bagi masyarakat. Melalui kegiatan sosial kemasyarakatan,  studybanding dan kegiatan KKN, secara tidak langsung telah menambah informasi pengetahuan.

Suatu permodelan pengembangan aset desa yang mampu menarik perhatian publik, yakni pengembangan BUMDes desa Ponggok, Klaten  dengan mengelola Umbul Ponggok yang  dulunya tempat pemandian tua yang tidak terurus sekarang menjadi pemandian yang ngehits di sosial media dengan photo underwater dan keuntungan hingga ratusan juta.  Keberhasilan desa Ponggok memang tidak bisa kita samakan dengan daerah lain, karena dari segi potensi juga  berbeda, namun ada hal yang kita bisa ambil pelajaran bahwa suatu masyarakat ternyata bisa mengembangkan aset secara mandiri. Masyarakat ternyata bisa diberdayakan dengan baik, tentu masih banyak permodelan lain yang pernah kita temui.

Perjalanan kegiatan KKN telah berlangsung dari tanggal 20 Februari hingga tanggal 31 Maret 2017. Berbagai upaya telah dilakukan mahasiswa dalam mengembangkan aset desa, namun bisa jadi masih banyak kekurangan dan kendala. Oleh karenanya peran semua pihak baik instansi kampus, pemerintah desa maupun masyarakat, memiliki arti penting dalam mengembangkan aset. Segala potensi keunggulan tentunya ada disrtiap daerah, selanjutnya apakah kita akan memandang pada dominansi keunggulan suatu daerah atau kita akan melihat kekurangan suatu daerah?. Selamat menjadi generasi mengembangkan  aset.


*Dosen jurusan tarbiyah dan DPL KKN