Berita

RESPONSIF DISABILITAS ADALAH AMANAH ISLAM RAHMATAN LIL`ALAMIN DAN UU

Administrator | Selasa, 10 Oktober 2017 - 07:33:49 WIB | dibaca: 356 pembaca

Di tengah hingar-bingar rutinitas kegiatan akademik yang padat beberapa hari lalu, Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Kudus bersama LPM Paradigma berhasil mencuri perhatian publik untuk kembali memperhatikan kaum disabilitas melalui bedah buku: Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Terhadap Perguruan Tinggi karangan Dr Akhmad Soleh, M.S.I.,  doktor tunanetra pertama dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 
Acara yang dikemas dalam Bincang Kreatif: Menejemen Tata Kota Responsif Disabilitas tersebut dihadiri oleh ratusan akademisi, mahasiswa dan stake holder dengan dukungan penuh dari pimpinan STAIN Kudus. Ahmad Soleh dalam paparan buku hasil riset disertasinya penuh haru menyarankan, sudah saatnya kita mengakhiri segala kebijakan yang diskriminatif terutama dalam memberikan akses kepada semua manusia termasuk penyandang disabilitas untuk memperoleh hak belajar hingga Perguruan Tinggi. Untuk itu diperlukan dukungan perencanaan yang matang dari segi sarana prasarana, proses pembelajaran, sisi arsitektur hingga layanan media teknologi informasi yang responsif kepada penyandang disabilitas. “Jangan sampai pengalaman pahit saya dalam menemukan akses sekolah mulai SD hingga PT itu terulang kembali. Penyangdang disabilitas juga punya hak menjadi pintar agar bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara”, tandasnya yang disambut tepuk tangan meriah.
Sementara Nur Said, Kepala PSG STAIN Kudus yang juga sebagai pembahas menyampaikan apresiasinya yang tinggi atas prestasi Akhmad Soleh yang telah memberikan inspirasi bagi anak-anak Indonesia dengan membuktikan dirinya sebagai pribadi yang mampu menembus keterbatasan menjadi prestasi luar biasa. Menurut Said, semua manusia adalah juara asal diberi kesempatan dan akses untuk menaklukkannya. Kepada para pengambil kebijakan terutama para pemimpin dan calon pemimpin dimanapun berada, Said mengingatkan bahwa responsif disabilitas adalah amanat Islam rahmatan lil’alamin dan sekaligus amant UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.  Forum ini diharapkan menyadarkan semua pihak agar menjadi tonggak menuju institusi atau tata kota yang responsif disabilitas. 
Forum ini juga mendapat respon positif dari Dr Supaat, M.Pd. sebagai pembahas dan sekaligus Wakil Ketua I STAIN Kudus. Menurutnya sudah cukup lama dunia pendidikan mengalami problem pelayanan ketika dihadapkan kepada kaum disabilitas. Bahkan tak sedikit guru-guru PAI di Sekolah Luar Biasa (SLB) ternyata belum dibekali ketrampilan pedagogik untuk penyandang disabilitas sehingga dikhawatirkan proses pembelajaran menjadi tidak berhasil menggapai tujuannya. Maka dengan penuh semangat beliau akan mengusulkan ada mata kuliah khusus terkait pendidikan responsif disabilitas terutama di Jurusan Tarbiyah yang teringerasi dalam kurikulum baru nantinya. 
Acara yang dibuka langsung oleh Ketua STAIN Kudus, Dr Mundakir M.Ag, tersebut mendapat sambutan meriah dari peserta sehingga tempat seminar nyaris tak muat. Beliau berpesan acara yang berorientasi akademik ini harus senantiasa dipupuk terus agar budaya akademik di kampus ini semakin kuat apalagi diskusi yang menyangkut nasib kelompok yang terpinggirkan seperti penyandang disabilitas perlu kita perhatikan. “Secara bertahap semua akan bisa dinikmati pendidikan untuk semua”, demikian pesannya mengakhiri sambutan. 
Menurt Said, sebagai koordinator, acara ini akan ditindaklanjuti dengan perumusan hasil diskusi yang diharapkan menjadi pertimbangan bagi STAIN Kudus dan juga institusi lainnya menuju dibentukannya Pusat Studi dan Layanan Disabilitas di lembaganya masing-masing sehingga menjadi nyata dan memberikan outcome yang jelas. (*PSG)