Artikel

SHILATUN, SHOLATUN, SHOLAWATUN Oleh : IWAN FAHRI CAHYADI

Administrator | Rabu, 19 April 2017 - 11:34:42 WIB | dibaca: 453 pembaca

SHILATUN, SHOLATUN, SHOLAWATUN
Oleh : IWAN FAHRI CAHYADI*
 
"Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya" (QS. Al-Ma'un 107:4-5)
"Kemudian datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan" (QS. Maryam 19:59)

Pada hari Senin, tanggal 24-April-2017 nanti, kita umat Islam memperingati salah satu moment spesial dalam sejarah, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj. Sebuah peristiwa agung yang membutuhkan ketebalan iman karena peristiwa tersebut sukar sekali diterima oleh logika akal sehat. Perjalanan Isra' Mi'raj ditempuh Rasulullah Muhammad SAW hanya semalam pergi pulang dari masjidil haram ke masjidil aqsa kemudian naik ke sidratul muntaha kembali lagi ke masjidil aqsa dan berakhir di masjidil haram. Padahal dalam hitungan normal saja dengan mengendarai unta saat itu dibutuhkan waktu berhari-hari, itu pun hanya perjalanan dari masjidil haram ke masjidil aqsa. Itu mengapa pondasi dan bekal iman yang kuat sangat diperlukan.

Salah satu hal yang menarik dari peristiwa Isra' Mi'raj adalah saat Rasulullah SAW menerima perintah shalat wajib. Perintah ini pun diterima Rasulullah SAW setelah terjadi proses negosiasi dengan Allah SWT atas saran dari nabi Musa AS kepada Rasulullah SAW ketika keduanya berjumpa di langit ke enam. Lalu apa dan mengapa nabi Musa AS menyarankan negosiasi kepada Rasulullah SAW? Seperti kita ketahui bersama dalam literatur islam, sebenarnya pertama kali Rasulullah SAW mendapat perintah sholat dari Allah SWT sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam dan oleh Nabi Musa AS perintah itu dirasa sungguh berat bagi umat Rasulullah SAW.  Atas saran itulah Rasulullah SAW melakukan tawar menawar kepada Allah SWT hingga  pada akhirnya Rasulullah SAW sanggup menerima perintah sholat wajib 5 waktu sehari semalam. Sebenarnya nabi Musa AS saat itu masih meminta Rasulullah Muhammad SAW agar meminta keringanan. Namun karena Rasulullah SAW malu kepada Allah SWT, akhirnya perintah sholat wajib 5 waktu sehari semalam diterima.

Mengapa nabi Musa AS berpendapat dan mensinyalir bahwa shalat 5 waktu sehari semalam dirasa masih berat bagi umat Rasulullah SAW? Betulkah shalat wajib 5 waktu sehari semalam itu berat? Bisa jadi, meskipun tidak untuk semua umat islam dan hanya untuk orang-orang tertentu. Kalau kita mau jujur pada diri sendiri maupun apa yang pernah terjadi pada kebanyakan orang, terkadang sholat dirasa berat, meskipun hal ini tidak dikatakan secara vulgar namun kondisi ini juga tidak bisa dibohongi. Salah satu indikasinya adalah ketika sedang sibuk dengan pekerjaan atau saat tengah asyik berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga atau teman kita. Otak bawah sadar kita secara reflek merespon sebagai tanda bahwa sholat terkadang menjadi berat. Biasanya kalimat yang terucap secara reflek yaitu "yaah...sudah adzan lagi" atau "rasanya tadi baru saja dhuhur kok sudah ashar" atau kalimat sejenisnya. Dari pernyataan tersebut jelas sekali mencerminkan bahwa kita tidak gembira menyambut datangnya waktu sholat. Ada semacam beban psikologis yang harus ditanggung.

Indikasi lain adalah ketika sedang mendirikan sholat. Saat ber-takbiratul ihram hingga rakaat terakhir,  sholat anda tidak khusyu, namun saat memasuki tahiyat akhir dan akan salam ada rasa khusyu yang datang menyelinap secara tiba-tiba, tapi sebenarnya rasa khusyu ini bukan refleksi khusyu yang hakiki tapi lebih kepada sebentar lagi sholatnya akan berakhir dan tidak lama lagi terbebas dari kewajiban. Fenomena ini nyata adanya dan sering terjadi. Rasa berat muncul karena sholat hanya dijadikan sebatas menggugurkan kewajiban, bukan kebutuhan. Kita tidak tahu hakikat ilmu shalat dan dimana letak kenikmatannya. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat meraih nikmatnya sholat dan memperoleh ke-khusyu-kan? Sebelum saya uraikan secara singkat, ada baiknya saya memakai analog seperti di bawah ini.

Apa yang terjadi ketika anda menyetel (menghidupkan) radio transistor untuk mencari station radio yang anda tuju namun gelombang atau frekuensi yang anda pilih tidak tepat atau tidak pas? Pastilah suara yang anda dengar di telinga anda menjadi tidak nyaman, kurang jelas, samar-samar atau bahkan crowded (ramai) karena terimbas oleh polusi gelombang frekuensi station radio lainnya.

Atau resiko apa yang anda terima ketika anda menelepon seseorang namun telepon/handphone tersebut belum diangkat (on) oleh si penerima sementara anda sudah berbicara panjang lebar? Tentu pihak yang anda hubungi tidak tahu dan mendengar apa yang anda bicarakan. Apalagi ketika anda menelepon berada di dalam sebuah ruangan tertutup (terhijab) dan sinyalnya lemah, pastilah pesan yang anda komunikasikan menjadi semakin sia-sia karena tidak tersampaikan.

Analog di atas untuk mempermudah pemahaman artikel kali ini. Demikian pula halnya yang terjadi ketika anda sedang berdzikir, berdoa, sholat, berhaji dan beribadah apapun yang didalamnya ada interaksi, berdialog, atau berkomunikasi dengan Allah SWT. Tanpa frekuensi yang tepat, maka tidak akan ada respon. Mungkin dalam benak anda terlintas pertanyaan bukankah Allah SWT itu Maha Mendengar? Benar, tapi saat berdzikir, berhaji, berdoa atau sholat gelombang frekuensi anda belum tepat, pas, hanif (lurus) kepada Allah SWT mungkin karena anda belum tahu caranya, atau anda tidak fokus kepada-Nya, maka Allah SWT tidak menyambut ibadah kita. Secara syar'i memang sah, tapi secara hakikat belum tentu diterima.

Sadarkah anda bahwa Allah SWT itu Maha Cemburu (tidak mau diduakan). Kalau dalam sholat, dzikir,  berdoa dan ibadah-ibadah lainnya masih ada lintasan-lintasan selain Allah SWT maka itu tergolong syirik dan ibadah anda tentunya tidak akan disambut Allah SWT meskipun Allah SWT Maha Mendengar. Oleh karena itu, dalam prosesi ibadah apapun bentuknya syarat pertama adalah adanya ketersambungan (SHILATUN), fokus kepada Allah SWT.

Ambil contoh ketika anda sholat (SHOLATUN) supaya ada dialog dengan Allah SWT maka terlebih dahulu harus ada ketersambungan. Suasana kesadaran kehadiran-Nya senantiasa terjaga. Ash-Sholatu bi ma'na shilatun wa liqaun bainal abdi wa Rabbi (Sholat itu maknanya ketersambungan dan "perjumpaan" abdi dan Allah SWT). Tanpa ada ketersambungan maka sholat kita menjadi semacam ritualitas, hanya ibadah fisik dan jiwa kita gersang (baca artikel saya sebelumnya yang berjudul ASH-SHOLATU KHOIRUM MINAN MAIN dan SPIRITUAL ARTIFISIAL). Tidak ada dialog, sehingga ketika kita membaca Al-Fatihah pun yang semestinya Allah SWT menjawab dan merespon tiap-tiap ayat yang kita baca, kita tidak mampu menangkap sinyal jawaban-jawaban dari Allah SWT.

Hal senada juga kita alami ketika duduk iftiraj. Doa yang kita baca...Rabighfirlii...dan seterusnya....tidak mampu kita tangkap jawaban dari-Nya. Padahal disetiap doa yang kita panjatkan seharusnya ada jeda untuk menunggu jawaban dari Allah SWT.  Demikian pula ketika dalam posisi tahiyat, dimana Allah SWT memberikan kesempatan kita mengirim salam (SHOLAWATUN) kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarganya, nabi Ibrahim AS beserta keluarganya, orang-orang beriman dan sholeh (termasuk para nabi lainnya) kita pun tidak peka menangkap jawaban salam dari mereka atau mungkin salam kita tidak tersampaikan karena tidak ada ketersambungan.

Lalu bagaimana agar ada SHILATUN sehingga dapat mendirikan sholat yang khusyu (SHOLATUN) dan salam kita tersampaikan dan mendapatkan respon (SHOLAWATUN)? Mari kita simak ayat berikut ini, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan itu (shalat) sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu', yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya" (QS. Al-Baqarah 2:45-46).

Dari ayat di atas minimal ada 3 point penting yang perlu diperhatikan yaitu, Pertama, yakin menemui Tuhannya (Mulaqu Rabbihim). Ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia dapat berjumpa Allah SWT ketika di akhirat kelak. Pertanyaannya kalau pendapat itu memang benar lalu ketika kita mendirikan sholat (dalam hal ini kita lakukan di dunia) kita "berjumpa" dan menyembah siapa?  Bukanlah seharusnya kita "berjumpa" Allah SWT sehingga kita dapat menyembah-Nya? Anda jangan menafsirkan kata berjumpa itu melihat dengan mata telanjang. Hal ini tidak mungkin. Apalagi bila anda berusaha "mewujudkan" bentuk Allah SWT itu tidak mungkin. "Laisa kamitslihi syai'un"....Allah SWT tidak bisa dipersepsikan atau disamakan dengan apapun. Bukankah kita dapat belajar dari peristiwa nabi Musa AS ketika ingin melihat Allah SWT di bukit Tursina dan beliau jatuh pingsan. Justru dalam kondisi pingsan beliau berjumpa dengan Allah SWT sehingga ketika beliau siuman bersaksi bahwa beliau mengaku yang pertama-tama mukmin (QS. Al-'Araaf 7:143).

Lalu mengapa nabi Musa AS mengaku mukmin (beriman)? Bagian apa dari nabi Musa AS yang dapat berjumpa dengan Allah SWT saat pingsan? Yaitu ar-Ruh (Al-Fitrah Al-Munazalah). Bukankah hal yang sama juga kita alami ketika tidur meskipun kita tidak sadar? Yaitu ar Ruh (jiwa) kita kembali dan dalam genggaman Allah SWT (QS. Az-Zumar 39:42). Namun dalam shalat kita "berjumpa" Allah SWT dengan kesadaran penuh. Ar-ruh itu suci dan yang suci yang dapat berjumpa dengan yang Maha Suci. Inilah esensi demensi ihsan, "Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka dirikanlah sholat untuk mengingat Aku...(QS. Thaha 20:14)". Ar-Ruh inilah yang sebenarnya pernah berjumpa Allah SWT sewaktu di alam azali dulu dan diambil kesaksiannya (bersyahadat) oleh Allah SWT..."...Alastu bi Rabbikum? Qollu bala syahidna...(QS. Al-'Araaf 7:172)". Sayang ketika hidup di dunia ini ar-ruh terbelenggu atau terkurung oleh an-nafs yang fujur, sehingga ar-ruh terhijab untuk "berjumpa" Allah SWT, baik saat sholat atau pun ibadah lainnya.

Kedua, yakin kembali kepada-Nya. Berkaitan dengan point pertama maka arti kembali kepada-Nya (Illaihi Roji'uun) tidak semata-mata sewaktu meninggal dunia saja, tetapi saat mendirikan sholat pun bisa, yaitu Mi'raj. Inilah yang dimaksud dari hadist Rasulullah SAW,“Ash-sholatu mi’rajul mu’minin” (Sholat adalah mi’raj-nya orang mukmin...HR..Bukhari). Di dalam Al-Qur'an QS. Ar Rahman 55:33 secara tersirat Allah SWT sudah menginformasikan bahwa dalam diri setiap manusia diberikan  perangkat untuk ber-mi'raj yaitu Ar-Ruh,  "Wahai golongan Jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi maka tembuslah. Kamu tidak akan sanggup menembus kecuali dengan kekuatan (dari Allah)". Jadi ketika shalat fisik kita menghadap kiblat dan ar-Ruh kita mi'raj menghadap Allah SWT. Kalau anda seorang mukmin seharusnya anda yakin bahwa ar-ruh anda dapat mi'raj sesuai sabda Rasulullah SAW, tapi kebanyakan dari kita yang mengaku mukmin justru tidak yakin. Memang tidaklah mudah memfungsikan ar-Ruh supaya dapat mi'raj mengingat harus terlebih dahulu terbebas dari kungkungan nafsu fujur. Untuk itu perlu riyadloh berbekal sabar, ikhlas, tawakal dan istiqomah dengan dibarengi memohon pertolongan kepada Allah SWT. Riyadloh yang kita lakukan tentunya meneladani cara para nabi.

Ketiga, sabar. Kata sabar pada ayat di atas berhubungan atau membahas perihal sholat khusyu, maka kata sabar di sini lebih bermakna thuma'ninah (berdiam diri sejenak). Itu mengapa thuma'ninah menjadi rukun sholat. Sayang sekali kita sering melupakan prosesi ini disetiap perubahan gerak di dalam sholat kita. Seringkali selesainya bacaan dianggap sebagai bentuk aba-aba untuk segera berpindah ke gerakan lain. Kita tidak bersabar agar ar-ruh yang menggerakkan perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lain. Tidak heran bila sholat kita selesai hanya dalam tempo 5-10 menit. Kondisi ini sungguh sangat mengherankan. Kenapa? Lha kalau kita sedang berdua-duaan dan bercengkrama dengan suami/istri atau anak anak saja penginnya berlamaan bahkan mungkin berjam-jam, tapi ketika sedang shalat dan bermesraan dengan Allah SWT kok cukup 5-10 menit saja. Ironis bukan? Logikanya kalau sholat kita sudah benar dan ar-Ruh kita mi'raj menghadap kepada-Nya tentunya ingin berlama-lama bersama Allah SWT.

Untuk mendapatkan sholat khusyu maka ketika point di atas harus dipenuhi sehingga sholat kita tidak merasa berat  dan bukan ritualitas saja. Mengapa tidak berat dan justru kenikmatan luar biasa yang kita peroleh? Karena saat sholat bukan otak (syaraf motorik) kita yang memerintahkan gerakan-gerakan fisik kita tapi ar-ruh kita yang menggerakkan dan menuntun tubuh ini, bahkan bacaan-bacaan pun dituntun ar-ruh dan gerakannya pun lembut. Adapun kenikmatan luar biasa yang kita peroleh adalah kemesraan, dialog, meminta solusi permasalahan yang kita hadapi, dan "berjumpa" dengan Allah SWT. Itu
mengapa ketika Rasulullah Muhammad SAW ada masalah, beliau mendirikan 2 rakaat shalat sunnah untuk meminta pertolongan dan solusi dari Allah SWT. Marilah di moment spesial Isra' Mi'raj ini kita mulai  mencoba tahap demi tahap mempergunakan ketiga point di atas yang sudah saya uraikan secara singkat, sehingga shalat kita bukan hanya sebatas kewajiban tapi sebagai kebutuhan. Semoga Allah SWT senantiasa menyambut sholat dan ibadah-ibadah kita. Amin YRA.
 
*Dosen STAIN Kudus