Artikel

SPIRITUAL ARTIFISIAL Oleh : IWAN FAHRI CAHYADI

TIPD STAIN Kudus | Rabu, 29 Maret 2017 - 19:44:45 WIB | dibaca: 312 pembaca

SPIRITUAL ARTIFISIAL
Oleh : IWAN FAHRI CAHYADI*

 

Kalau kita kilas balik pada medio 90-an, ada fenomena menarik tentang cara  beragama Islam di Indonesia. Di era itu banyak penawaran belajar berspiritual baik dalam bentuk seminar atau pelatihan yang mengajarkan tentang tasawuf (demensi jiwa). Pelatihan ini bisa dibilang tasawuf modern karena rata-rata pesertanya orang per-kota-an, dan mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Hiruk pikuk kehidupan kota yang dipenuhi pola hidup konsumerisme, materialisme dan hedonisme yang memberikan kepuasan semu dan temporer membuat mereka kehilangan makna hakiki kehidupan. Di sisi lain, kegersangan jiwa masyarakat kota dalam beribadah kepada Allah SWT menjadikan dan mendorong mereka berbondong-bondong mengikuti seminar atau pelatihan tersebut yang diselenggarakan di hampir semua kota-kota besar di Indonesia.

Tema tasawuf saat itu menjadi trend dan pangsa pasar yang menjanjikan bagi para trainner. Bagi para pembaca yang pernah mengikuti salah satu pelatihan yang sangat terkenal saat itu tentu sudah paham dengan apa yang saya maksudkan sebagai tema pelatihan. Intinya membawa nama spiritual. Dalam seminar itu peserta di bawa dalam suasana meditatif dengan diputarkan film tentang penciptaan alam semesta, sound yang menggelegar, lampu ruangan dibuat redup sedemikian rupa dan sang trainner men-"doktrin" dan me-recall dengan cerita yang sedih-sedih yang pernah dialami peserta. Suasana dibikin mencekam. Apa yang terjadi kemudian? Mudah ditebak, banyak peserta yang meneteskan airmata, menangis sesenggukan, dan ada beberapa yang histeris.

Mengapa banyak peserta menangis? Tentu saja mudah jawabannya. Ruangan temaran, suasana sedih, dan ditambah sound yang menggelegar itu penyebabnya. Dalam seni musik, nada-nada yang mudah menghanyutkan suasana di sebut nada minor. Demikian pula yang terjadi ketika kita sedang sendirian mendengarkan musik yang mendayu-dayu, apalagi kebetulan isi lagu tersebut menceritakan kisah sedih dan perih yang pernah kita alami maka otomatis kita akan mudah terbuai suasana dan ujung-ujungnya meneteskan air mata atau istilah sekarang disebut baper (bawa perasaan).

Akan beda pula hasilnya bila kita mendengarkan alunan musik pada nada mayor yang identik dengan suasana gembira. Hentakan musik akan membuat kita menggoyang-goyangkan kaki, bersiul, dan terkadang ikut menari mengikuti alunan irama musik itu.

Pertanyaannya, benarkah cara berspiritual demikian? Yaitu dengan mendesain musik yang sedih? Bagaimana jika anda mengikuti kembali pelatihan itu 2 atau 3 kali? Pasti hasilnya akan beda karena anda tidak akan mudah terbawa dan larut dalam suasana yang diciptakan. Suasana yang akan anda alami mungkin hanya datar-datar saja. Bahkan mungkin anda akan terheran-heran dengan peserta lain yang menangis karena baru pertama kali mengikuti pelatihan, seperti anda saat pertama kali mengikuti pelatihan tersebut.

Inilah yang disebut spiritual artifisial. Bukan yang sebenarnya. Mengapa? Karena berspiritual yang hakiki bukanlah demikian. Suasana jiwa semakin terpaut kepada Allah SWT, hanyut dalam ketenangan, kecintaan, dan tangisan sebagai manifestasi rindu kepada Allah SWT. Rasa dahaga untuk senantiasa bersama Allah SWT semakin intens.  Kesadarannya senantiasa tune in kepada Allah SWT di setiap dan berbagai aktivitasnya (Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring....QS. An-Nisaa 4:103). Imannya semakin bertambah. Jadi bertasawuf memang yang dibangun demensi jiwanya (dari dalam), bukan hasil rekayasa panca indera yang di stimulus dari luar. Berspiritual tidak ada fase statis, apalagi terjadi turn back seperti sebelumnya, yaitu datar-datar saja.

Pada hakikatnya dalam beribadah dapat diibaratkan dengan kedua sisi mata uang. Ibadah harus melibatkan demensi jasmani dan rohani, syariat dan hakikat, lahir dan batin. Keduanya harus beriringan. Imam Maliki (Malik bin Anas – Ulama besar pendiri mazhab Maliki) yang juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut, “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, Juz. 2 hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

Ambil contoh ketika kita mendirikan sholat. Ibadah ini harus melibatkan demensi jasmani dan rohani. Sholat adalah pertemuan antara hamba dengan Khaliqnya tanpa perantara siapapun dan apapun. Sebuah kemesraan yang tiada ada tandingannya. Ada dialog, bukan monolog. Ada yang disembah, ada yang menyembah. Ada yang di-sujud-i, dan ada yang men-sujud-i. Sholat dijadikan kebutuhan, bukan hanya kewajiban. Jiwanya mi'raj menghadap Allah SWT dan fisiknya menghadap kiblat. “Ash-sholatu mi’rajul mu’minin” (Sholat adalah mi’raj-nya orang mukmin...HR..Bukhari).

Namun kalau kita mau jujur melihat realita yang ada sekarang ini,  seringkali kita temui atau mungkin yang terjadi pada diri sendiri, kita masih menjadikan sholat sebagai kewajiban saja, bukan menjadi kebutuhan. Terkadang kita sholat sebatas untuk menggugurkan kewajiban karena takut dosa dan masuk neraka, bukan sebagai penghambaan secara ikhlas kepada Rabb-nya, sarana bermesraan dan dialog dengan Allah SWT.  Bahkan terkadang tidak ada bedanya kondisi jiwa antara sebelum dan sesudah sholat. Maksud saya, sungguh aneh rasanya kalau sebelum sholat kita dalam suasana gelisah, dan setelah selesai sholat pun suasana gelisah itu masih bersemayam di hati kita. Padahal dalam sholat kita "berjumpa" Allah SWT (Dirikanlah Sholat untuk mengingat Aku...QS. Thaha 20:14). Lalu mengapa kita masih gelisah? Dimanakah hilangnya ketenangan hati? (Huwalladzi Anzala sakinata fi qulubil mu'minina....QS. Al-Fath 48:4)...Lalu kalau masih gelisah ketika selesai sholat, pertanyaannya adalah anda sewaktu sholat "berjumpa" dan menyembah siapa?

Ataukah ketika kita mendirikan sholat justru teringat masalah dunia seperti pekerjaanku belum selesai, hutangku masih banyak, atau bahkan teringat hal yang remeh seperti teringat jemuran pakaian yang belum diangkat disebabkan saat anda sholat hujan turun, dan lain sebagainya. Kalau demikian halnya yang terjadi, sebenarnya saat sholat kita sedang menyembah Allah SWT atau menyembah masalah-masalah dunia? Kalau ini yang terjadi mungkinkah sholat kita diterima? Kalau sholat tidak teringat Allah SWT tapi kepada selain Allah SWT apa konsekuensinya? Kalau ini yang terjadi tentu saja sholat kita tidak akan membekas dalam perilaku kita sehari-hari. Ayat yang berbunyi," Inna sholata tanha anni fahsya'i wal munkar" (QS. Al-Ankabuut 29:45) tidak terealisasi. Ayat ini dijamin kebenarannya karena firman Allah SWT.  Lalu mengapa kita masih melakukan perbuatan keji dan mungkar baik dalam skala kecil atau besar dalam kehidupan kita sehari-hari? Jawabannya karena sholat kita belum benar dan hanif (lurus) menghadap Allah SWT.  Ini sebagai tanda bahwa sholat kita belum diterima Allah SWT sebagaimana bunyi sebuah hadits, "Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah” (HR. Abu Dawud).Takut kepada Allah SWT adalah sebagian dari iman. Takut kepada Allah SWT tidak hanya ketika mendirikan sholat di atas sajadah di dalam masjid atau musholla, tapi juga takut kepada Allah SWT saat di luar tempat suci itu. Ketika di kantor, saat berbisnis, sewaktu berkumpul keluarga atau bersilaturahim dengan teman dan lain sebagainya. Ini membuktikan bahwa sholat kita sudah hanif kepada Allah SWT dan membekas di segala aspek lini kehidupan kita. Kita yakin gerak-gerik kita sekecil apapun dalam pengawasan Allah SWT karena senantiasa tune in kepada Nya, sehingga kita tidak berani berbuat keji dan mungkar sekecil apapun. Mengapa? Karena perbuatan kita sekecil zarrah pun akan dicatat malaikat.

Sholat merupakan ibadah yang tidak main-main, karena konsekuensinya di akhirat kelak sangatlah besar, sebagaimana bunyi hadist berikut ini,"Amal perbuatan seseorang yang pertama kali dihisab (diperiksa), di hari kiamat nanti adalah sholat, maka barangsiapa diterima sholatnya, akan diterima seluruh amal ibadahnya, dan jika sholatnya ditolak maka akan bertolak seluruh amal ibadahnya" (HR. At Thabrani, Mundzir dan At Tirmidzi).

Beragama itu seharusnya mengenal terlebih dahulu siapa yang disembah. Awaluddin Ma'rifatullah (awal beragama itu mengenal Allah SWT). Ma'rifatullah adalah azas dan fundamen yang di atasnya didirikanlah segala kehidupan kerohanian. Pintu gerbang awal untuk beribadah kepada Allah SWT. Tanpa mengenal Allah SWT, pastilah dalam beribadah kita tidak sempurna, bahkan mungkin tidak diterima. Bagaimana kita mau menyembah kalau tidak kenal siapa yang kita sembah? Kalau ini yang terjadi, maka saat itu juga kita terkena ayat Al-Qur'an,"Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya....", (QS. Al-Hajj 22:74). Dan anda pasti sudah tahu apa konsekuensinya, salah satunya anda tidak khusyu' dalam beribadah.

Wallahua`lam bish shawab

*Dosen STAIN Kudus