Artikel

STUDI ANALISIS PEMIKIRAN ETIKA POLITIK HUKUM FAZLUR RAHMAN Oleh : Drs. H. Muhammad Afif

Administrator | Selasa, 24 Oktober 2017 - 10:10:07 WIB | dibaca: 102 pembaca

BAB  I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Wacana dan perdebatan masalah politik sampai dewasa ini terus mengalami peningkatan yang cukup drastis, baik skala maupun arahnya tidak pernah mengalami stagnasi, seperti skala lokal, regional, nasional, maupun internasional-global. Demikian juga, arahnya terus berkembang tidak hanya mewacanakan politik ansich, tetapi semakin meluas pada ranah sosial, ekonomi, hukum, budaya, dan agama tanpa terkecuali.[1]

Tentu saja, adanya perkembangan wacana perdebatan tersebut bukanlah masalah yang baru sama sekali, namun sudah cukup lama terjadi di dunia perpolitikan umat Islam, tetapi intensitasnya justeru semakin mendapat legitimasi sejalan dengan adanya arah perkembangan sistem demokrasi di Indonesia dewasa ini yang semakin terbuka.[2] Memang tidak dapat dipungkiri, sekarang ini setiap orang dapat berbicara masalah apa saja dan bahkan masalah siapa saja, walaupun, terkadang nampak tidak terkendali dan cenderung ngawur. Sebagai contoh bisa disebutkan, misalnya, bagaimana perdebatan yang demikian panjang dan memakan waktu lama masalah Koalisi Partai yang pluktuatif, masalah Bank Centuri, masalah perseteruan Jenderal Susno Duaji dengan beberapa Jenderal di Mabes Polri, kasus Antasari Azhar, masalah mafia pajak serta mafia-mafia lainnya, dan beberapa masalah yang pada awalnya hanya ada pada ranah politik tetapi selanjutnya merambah ranah hukum. Adanya pergeseran ranah ini tentu tidak terjadi begitu saja, namun boleh jadi disengaja oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan maksud tertentu.

Memperhatikan fenomena tersebut, nampak jelas bahwa masalah etika politik sudah tidak diperhatikan lagi, bahkan pergeseran perilaku politik sudah mengarah, meminjam istilah Nucholish Madjid,[3] pada perilaku politiking, yaitu perilaku politik dengan menghalalkan segala cara, tidak mengenal etika, tidak mengenal baik-nuruk, tidak mengenal boleh-tidak boleh, dan tidak mengenal halal-haram. Pendek kata, perilaku politik dewasa ini sudah mengarah pada ”kepentingan sesaat” walau dengan menghalalkan segala cara.

Perilaku politiking tentu tidak boleh dibiarkan bebas berkembang, sebab selain akan merusah sistem demokrasi di negeri ini, juga akan merusak jaring-jaring silaturrahmi di antara umat yang dulu terkenal santun. Akan merusak tatanan kemasyarakatan yang terkenal guyub, dan tentunya juga akan mendhalimi pihak-pihak tertentu yang tidak memiliki akses dalam pusaran politik dewasa ini.[4] Dus, untuk mengawal perilaku politik dewasa ini, etika politik dengan mengedepankan hukum menjadi sangat penting.

Jika merunut geneologi arah perkembangan etika politik hukum di dunia Islam, tentu akan memakan waktu yang cukup panjang, sebab wacana ini akan sampai pada negerasi Shahib as-Sabiquna al-Awwalun (Nabi Saw.), generasi shahabat, dan seterusnya. Oleh karena itu, pelacakan geneologi etika politik hukum di sini akan dibatasi sampai generasi Fazlur Rahman. Tentu saja adanya pembatasan ini, alasannya, tidak hanya apa yang sudah dikemukakan di atas, tetapi masih banyak alasan lainnya, termasuk alasan prosedural dan keterbatasan ruang serta waktu penelitian. Namun demikian, peneliti merasa masalah ini tidak akan mengurangi bobot hasil penelitian, melihat kapasitas Fazlur Rahman sebagai tokoh sentral gerakkan neo-modernisme di dunia Islam tidak bisa dibantah.

Gerakan pemikiran baru yang dimotori Fazlur Rahman selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan gerakan neo-modernisme,[5] dimana gerakan ini berusaha mengkomparasikan nilai-nilai tradisi dengan modernisasi. Menurut pola pemikiran ini, sesungguhnya sikap mempertentangkan secara dikotomis-dualistik antara keduanya (tradisi dengan modernisasi) sangatlah merugikan. Sebab semata-mata hanya mengandalkan pada adekuasi Islam tradisi akan menjadikan umat Islam terperangkap pada sikap tradisionalisme yang pada gilirannya membuat termarginalkan dari proses percaturan zaman. Jadi sikap demikian akan menjadikan Islam kehilangan élan vitalnya dalam berdialektika dengan perkembangan eksternal.

Demikian juga, sikap berlebihan dalam menerima gagasan kemoderenan, meski di satu sisi membawa perkembangan positif, tetapi di sisi lain sering mengakibatkan kehilangan warisan intelektual yang sangat berharga. Oleh karena kedua model di atas (tradisi dan modernisasi) masing-masing mengandung unsur kelebihan dan kelemahan, maka gerakan neo-modernis bermaksud menggabungkan kelebihan dan meminimalisir kelemahan masing-masing ke duanya. Dalam aktualisasinya untuk menjawab berbagai tantangan zaman, ia berusaha mentransformasi nilai-nilai kemoderenan yang positif dengan tetap berpijak pada akar tradisi.

Gerakan neo-modernisme,[6] sebagai gerakan pemikiran Islam-mondial, ditawarkan oleh sejumlah tokoh pembaharu dari berbagai kawasan. Di antara mereka yang cukup terkenal adalah Fazlur Rahman (1919-1988), pemikir asal Pakistan. Ia mendapat didikan Islam tradisional di negerinya sampai memperoleh gelar M.A. dalam bidang sastra Arab. Pemikirannya berkembang jauh setelah ia meraih Doctor of Philosophy (Ph.D) dari Oxford University pada tahun 1950.[7] Dengan latar belakang inilah, Rahman mulai mengkritisi warisan-warisan keislaman dan berupaya menelorkan gagasan-gagasan pembaharuannya. Tidak hanya itu, pemikiran Islam yang telah mengalami kemajuan ia soroti secara tajam dengan mengupas kelebihan dan kekurangannya. Karena pemikirannya yang konvensional, maka ia kurang mendapat sambutan layak di Pakistan, dan akhirnya pindah ke Barat.[8]

Walau demikian, dikalangan modernis sendiri, Rahman tetap dipandang sebagai pemikir brilian dan dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai juru bicara  soal-soal keislaman kaitannya dengan pembangunan Republik Islam Pakistan. Ayub Khan, sebagai presiden waktu itu, pada tahun 1962 mempercayakan Rahman untuk memimpin Institut of Islamic Research (Lembaga Riset Islam). Dua tahun kemudian, ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology (Dewan Penasehat Ideologi Islam) pemerintah Pakistan. Dengan dua posisi strategis ini, ia semakin tidak disukai oleh kalangan ulama tradisionalis.

Lembaga riset ini dibentuk dengan tugas utama menafsirkan Islam dalam terma-terma rasional dan ilmiah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang lebih progresif . Sementara dewan penasehat antara lain bertugas meninjau seluruh hukum, baik yang telah ada maupun yang akan dibuat, serta berhak mengajukan rekomendasi kepada pemerintah guna merealisasikan prinsip-prinsip Islam dalam masyarakat. Kedua lembaga ini memiliki hubungan yang sangat erat, karena dewan penasehat dapat meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dalam rangka menyusun undang-undang.

Keterlibatan Rahman di dua lembaga ini memicu kontroversial, sebab ia selalu menawarkan konsep-konsep baru yang masih sulit diterima oleh masyarakat muslim Pakistan pada umumnya.  Serangan terhadap pemikiran Rahman datang dan dipelopori ulama-ulama tradisional terutama Abu al-A’la Maududi yang tetap berkutat pada paradigma-paradigma klasik. Selanjutnya kontroversi sudah semakin tidak terbendung, ditambah lagi faktor-faktor politik dan sosial ekonomi yang sangat tidak kondusif, keberadaan Rahman di Lembaga Riset ditolak oleh kalangan ulama tradisional. Akhirnya kontroversi itu memuncak dalam suatu demonstrasi massa di beberapa tempat. Rahman sadar, bahwa dirinya tidak mendapat tempat di Pakistan dan memutuskan pindah ke Amerika Serikat. Di sinilah ia dipercaya dan diangkat sebagai Professor of Islamic Studies pada Departemen of Near Eastern Language and Civilization di Universitas Chicago. 

Dengan suasana kondusif, Rahman semakin aktif memunculkan gagasan-gagasan segarnya, baik melalui perkuliahan, seminar, dan tulisan-tulisan yang dipublikasikan, Islamic Studies adalah salah satu journal yang paling banyak memuat pemikirannya. Dengan jalan ini, ide-ide cemerlangnya tetap teraktualisasikan. Selain itu Rahman juga menulis artikel, serta menerbitkan beberapa karyanya dalam bentuk buku, di dalamnya banyak mewacanakan berbagai masalah, seperti masalah sosial, politik, hokum, budaya, pendidikan, dan sebagainya.

Melalui karya-karyanya yang dihasilkan sekaligus dapat diketahui, bahwa kunci pemikiran Rahman terletak pada penekanannya yang kuat pada aspek metodologi pemahaman Islam, yaitu metode historis dengan pendekatan kontekstual. Bagi Rahman, kaum muslimin tidak cukup menawarkan Islam dalam kehidupan modern hanya dengan menyodorkan al-Qur’an dan Sunnah tanpa dibekali kerangka pemikiran yang memadai. Baginya, seluruh teks-teks keagamaan perlu dilihat dari dua sudut pandang, yaitu” sudut legal-spesifik” dan  “ide formal universal.” Dengan dua sudut pandang ini, maka diharapkan pengaplikasian nilai-nilai Islam akan lebih mengena sesuai tuntutan masyarakat yang dinamis.

Selain menekankan aspek metodologis, dalam soal-soal keislaman, Rahman juga mengembangkan berbagai wawasan yang mendalam. Dalam bukunya, Islam (1968), ia mengelaborasi secara luas hampir semua dimensi sejarah dan keilmuan Islam. Mulai dari kehidupan Rasulullah, legislasi al-Qur’an, asal-usul dan perkembangan ortodoksi, struktur hukum dan kenegaraan, teologi, gerakan filsafat, sufisme, corak pendidikan dan gerakan moderen dalam Islam. Dalam karyanya yang lain, Major Themes of the Qur’an (1980), ia berusaha menampilkan pesan kitab suci al-Qur’an dalam beberapa tema penting. Masing-masing tema dirajutnya dengan mempertimbangkan logika turunnya al-Qur’an dan misi yang diembannya. Karena pendekatan yang bersifat filosofis, maka Rahman sering mengesankan lebih memilih signifikansi makna yang bersifat universal dari pada makna tekstual. Secara umum buku ini dapat dikatakan menunjukkan kepadatan, kedalaman, dan cakupan kohesif al-Qur’an yang hadir untuk menyapa manusia di segala zaman.

Sementara dalam buku Islam and Modernity (1982), greget pembaharuan yang dilakukan Rahman semakin terlihat jelas. Di sini ia menawarkan kekuatan warisan keislaman dengan menunjuk beberapa kasus. Selanjutnya ia menyelami problem-problem yang dihadapi dunia Islam dewasa ini dan kemudian menawarkan solusi pemecahannya. Kandungan buku ini menggambarkan betapa intensifnya pergulatan pemikiran Rahman dalam merancang masa depan Islam.

Mensikapi arah ide Rahman seperti itu, pemikirannya menunjukkan ciri seorang neo-modernis. Sebab sebagaimana dinyatakan H.A.R. Gibb ciri terpenting neo-modernis terletak pada perjuangan melawan otoritas tradisi. Sama halnya dengan Rahman, ia berusaha membongkar pemahaman tradisional umat Islam atas doktrin-doktrin agama dan berusaha menyuguhkan pemahaman yang lebih aktual. Meskipun sealur dengan pola pikir kaum modernis, Rahman mempunyai dinamika tersendiri, sebab dalam beberapa segi ia tidak setuju dengan gagasan-gagasan kaum modernis, bahkan mengkritik dan mengoreksinya secara tegas.

Dalam salah satu artikelnya, ia menyebutkan bahwa meskipun gerakan modernis telah benar dalam semangatnya, tetapi ia memiliki dua kelemahan mendasar. Pertama: Ia tidak menguraikan secara tuntas metodenya. Ini mungkin lantaran perannya selaku reformis terhadap masyarakat muslim dan sekaligus sebagai kontroversialis-apologetik terhadap pemikir Barat sehingga membuatnya terhalang untuk melakukan interpretasi secara sistematis dan menyeluruh atas Islam. Kedua: Kaum modernis terjebak menangani masalah-masalah secara adhoc, sehingga tidak menghasilkan pembaruan yang komprehensif. Bahkan karena masalah-masalah adhoc yang dipilih kaum modernis merupakan masalah-masalah di sekitar dan bagi dunia Barat saja, membuat mereka terkesan sebagai agen-agen westernisasi.

Berpijak dari sinilah, Rahman mencanangkan gerakan baru yang diistilahkan dengan neo-modernisme. Karakteristik gerakan baru ini adalah pengembangan suatu metode sisitematis yang mampu melakukan rekonstruksi Islam secara total dan tuntas, serta tetap setia pada akar-akar spiritualnya dan dapat menjawab kebutuhan Islam moderen, tanpa mengalah secara membabi buta kepada Barat atau menafikannya. Satu hal perlu digaris bawahi dalam gerakan neo-modernisme sebagaimana yang dicanangkan Fazlur Rahman adalah sikap kritis terhadap warisan-warisan sejarah keagamaan.

Sikap kritis yang dilakukan Rahman tidak terbatas pada wilayah keagamaan saja, namun meluar ke berbagai masalah umat, seperti masalah sosial, politik, hukum, perkembangan budaya dan pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. Pendek kata, walaupun pada lapasitas tertentu, Rahman berupanya memberikan jawaban terhadap berbagai permasalahan umat yang terjadi saat itu.

Dari sekian masalah yang dilontarkan Rahman, penelitian ini akan membatasi masalahnya pada pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman. Di dalamnya akan dikaji secara mendalam pemikiran-pemikiran Rahman mengenai etika politik hukum dan sikap Rahman terhadap perilaku politik umat Islam saat itu. Oleh karena itu, penelitian ini diberi judul Studi Analisis Pemikiran Etika Politik Hukum Fazlur Rahman.

C.  Identifikasi dan Rumusan Masalah

Membahas secara sungguh-sungguh pemikiran Fazlur Rahman tentang etika politik hukum bukanlah masalah gampang, sebab masalah ini akan terkait dengan berbagai permasalahan yang asaat itu sedang berkembang. Walaupun ruanggnya dibatasi pada pemikirannya saja, tetap saja akan terkait dengan banyak wacana. Adalah menjadi niscaya masalah tersebut perlu diidentifikasi secara jelas, seperti: Bagaimana sesungguhnya pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman? Bagaimana respons kalangan tradisonalis dan modernis terhadap pekimiran etika politik hukum Fazlur Rahman? Bagaimana aktualisasi pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman di dunia Islam saat itu? Dan bagaimana imbas pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman di dunia Islam dewasa ini? Kesemua masalah ini sangat mungkin mengemuka.

Namun supaya penelitian ini tidak terlalu melebar, maka rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian adalah :

  1. Bagaimana pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman?
  2. Bagaimana respons kalangan ulama tradisionalis dan intekeltual modernis terhadap pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman?

3.      Bagaimana pengaruh pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman di dunia Islam dewasa ini?

D.  Tujuan  Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tiga masalah pokok terkait pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman, yaitu :

  1. Untuk meneliti secara mendalam subtansi pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman.
  2. Meneliti secara seksama respons kalangan ulama tradisionalis dan intekeltual modernis terhadap pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman.

3.      Meneliti pengaruh pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman di dunia Islam dewasa ini.

E.     Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini akan bermanfaat dalam rangka mengembangkan model-model pemikiran etika politik hukum Islam yang dewasa ini disinyalir kurang mendapat perhatian, sehingga perilaku para politisi nampak keluar dari jalur etika politik.

Secara praktis penelitian ini akan bermanfaat, terutama temuannya, untuk dapat dipraktekkan oleh para politisi, pemerhati politik, dan dunia akademisi yang gndrung dengan masalah-masalah politik, dalam perilaku berpolitik sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  II

TINJAUAN PUSTAKA

 

A.    Landasan Teori

Selama ini sudah ada beberapa penelitian baik berkaitan dengan  Fazlur Rahman dan pemikirannya, maupun tentang neo-modernisme Islam Indonesia. Taufiq Adnan Amal menulis, Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman (1989) . Dalam buku ini di ungkapkan keberadaan Rahman sebagai intelektual neo-modernis dengan latar belakang negeri Pakistan, tempat ia bergumul dengan gagasan-gagasan kaum modernis, tradisionalis dan fundamentalis.

Titik tekan kajian Adnan Amal adalah pada tafsir kontekstual Rahman yang disebutnya sebagai obat penawar krisis bagi problematika hukum Islam zaman modern. Selanjutnya Amal memperluas kajiannya dengan mengungkap operasi metodologi tafsir itu dengan disertai contoh-contohnya terutama dalam aspek hukum. Dengan di dukung oleh sumber-sumber primer, penelitian ini mencerminkan hasil yang cukup berbobot.

Gufron A. Mas’adi menulis Pemikiran Fazlur Rahman tentang Metodologi Pembaharuan Hukum Islam (1997). Mirip dengan karya Adnan Amal, buku ini mengungkap background pemikiran keagamaan Rahman sebelum secara khusus menyajikan pembaruan hukumnya. Mas’adi menelusuri lika-liku gagasan Rahman, pertama-tama dengn mengungkap kritik Rahman terhadap perkembangan metodologi hukum Islam, kemudian mengkaji ide-ide pemikiran Rahman dalam tiga sumber, yaitu al-Quir’an, Sunnah, dan Ijma’. Buku ini juga menyajikan konsep ijtihad yang ditawarkan Rahman sehubungan dengan problem-problem dalam aspek hukum Islam.

Tentang neo-modernisme Islam Indonesia, Fachry Ali dan Bachtiar Effendi mempunyai pengantar yang baik dalam Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru (1986) . Buku ini diawali dengan penglihatan sejarah dan perkembangan masyarakat Indonesia beserta terbentuknya diskursus keislaman. Fokus penelitian ini pada pemetaan baru pemikiran Islam Indonesia sebagai konsekwensi dari pudarnya pemikiran modernis dan tradisionalis. Pola-pola baru ini diantaranya disebut neo- modernis.

Budy Munawar-Rahman dalam sebuah artikel “Dari Tahapan Moral ke Periode Sejarah : Pemikiran Neo-modernisme Islam Indonesia“ dalam Jurnal Ulumul Qur’an (1995) . Berbeda dengan buku yang disebut sebelumnya, artikel ini menyebut lebih banyak deretan nama-nama pembaharu yang dapat dikategorikan sebagai neo-modernis Indonesia. Mereka ditipologikan dalam tiga kelompok, yaitu: (1) Islam Rasional dengan tokoh Harun Nasution dan Djohan Effendi ; (2) Islam Peradaban dengan tokoh Nurcholis Madjid, Kuntowijoyo, (termasuk A. Syafi’i Ma’arif) dan (3) Islam transformatif dengan tokoh Adi Sasono dan M.Dawan Raharjo. Pola yang dikembangkan oleh masing-masing ini agak berbeda akibat dari fokus tekanannya yang berlainan, tetapi secara keseluruhan menunjukkan arah baru bagi aktualisasi nilai-nilai keislaman yang lebih objektif, berani, transparan, dan sistematis.

Sementara Greg Barton dalam tulisannya Neo-modernism a Vital Synthesis of Tradisionalist and Modernist Islamic Thought in Indonesia (1995). Sebagai pengamat asing, Barton mengkhususkan beberapa tokoh saja, yakni Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid yang merupakan tokoh kunci neo-modernis. Masing-masing tokoh memiliki karakter berbeda disebabkan, karena latar belakang, kiprah dan pengalaman pergulatannya  di masyarakat. Secara keseluruhan Barton menggaris bawahi bahwa neo-modernis Islam Indonesia betul-betul sebagai gerekan alterenatif. Boleh jadi, masih ada beberapa penelitian lain yang di sini belum dapat diungkapkan secara tuntas, karena adanya keterbatasan ruang dan waktu, serta keterbatasan informasi diperoleh peneliti.

Namun penelitian ini fokusnya akan diarahkan pada pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman, tidak akan membahas masalah-masalah yang sudah dikaji oleh para peneliti terdahulu seperti di kemukakan di atas.

 

B.     Asumsi Dasar

Kebesaran tokoh Fazlur Rahman ternyata berkorelasi dengan banyaknya pemikiran dalam berbagai bidang yang menjadi objek kajian Rahman. Dalam sepanjang hidupnya, hampir dapat dipastikan, Rahman “mempermasalahkan” setiap hal yang ada di tengah-tengah masyarakat, mulai dari masalah ketuhanan, al-Qur’an, sunnah dan hadis, masalah hukum, masalah politik, pendidikan Islam, ekonomi umat, sosial dan budaya, masalah hak asasi manusia, masalah hubungan antar agama, masalah negara, dan sebagainya.

Demikian juga terkait penelitian ini, mewacanakan secara sungguh-sungguh pemikiran Fazlur Rahman tentang etika politik hukum bukanlah masalah gampang, sebab masalah ini akan terkait dengan berbagai permasalahan yang asaat itu sedang berkembang. Walaupun ruanggnya dibatasi pada pemikirannya saja, tetap saja akan terkait dengan banyak wacana. Adalah menjadi niscaya masalah tersebut perlu diidentifikasi secara jelas, seperti: Bagaimana sesungguhnya pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman? Bagaimana respons kalangan tradisonalis dan modernis terhadap pekimiran etika politik hukum Fazlur Rahman? Bagaimana aktualisasi pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman di dunia Islam saat itu? Dan bagaimana imbas pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman di dunia Islam dewasa ini? Kesemua masalah ini sangat mungkin mengemuka.

Terlbeih lagi bila masalah ini diciutkan pada tema penelitian yang menjadi bidikan peneliti, yaitu politik hukum Fazlur Rahman, maka akan muncul asumsi-asumsi sebagai berikut: Bagaimana pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman? Bagaimana respons kalangan ulama tradisionalis dan intekeltual modernis terhadap pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman? Dan Bagaimana pengaruh pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman di dunia Islam dewasa ini?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  III

METODE PENELITIAN

 

A.  Jenis dan Pendekatan Penelitian

Sebagaimana dijelaskan di muka, bahwa penelitian ini selain akan mengorek produk pikir seseorang di masa silam, juga akan melihat proses transformasi produk pikir itu dalam perkembangan pemikiran masa kini. Keabsahan produk pikir masa silam dapat dipertahankan eksisistensinya oleh laporan sejarah.[9] Atau dalam istilah Louis Gottschalk, bahwa penelitian tentang masa silam dapat dipertanggung jawabkan eksistensinya dengan adanya bukti-bukti historis yang lengkap dan akurat.[10]

Karena demikian adanya, maka jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif,[11]  dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan karena tema penelitian ini menitik beratkan pada kajian konseptual yang berupa butir-butir pemikiran dan bagaimana pemikiran itu ditransformasikan. Seperti disebutkan Bogdan dan Biklen (1982)  diantara kunci pendekatan ini adalah pengungkapan makna ( fact of meaning ),[12]   atau dalam istilah lain disebut mentifact,[13] merupakan hal paling esensial bagi peneliti sebagai instrument kunci dan adanya pendeskripsian fenomena atas objek. Produk pikir dalam kajian ini tidak terbatas pada empiri inderawi, melainkan juga empiri logis dan etis.

Sudah barang pasti, fenomena dimaksud merupakan kenyataan sosial yang bersifat konstruktif. Sifat konstruktif ini mengakibatkan produk pikir sebagai laporan sejarah tidak dalam bentuk realitas tunggal, tetapi  merupakan satu kesatuan dengan konteks sekitarnya.[14] Artinya, bahwa produk pikir itu akan dielaborasi dengan mempertimbangkan seluruh fenomena yang melatar belakanginya, seperti masalah sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.

 

B.  Jenis dan Sumber Data

Data pada dasarnya adalah fakta yang diberi makna dalam sebuah kegiatan penelitian.[15] Dengan demikian, maka data juga merupakan bahan mentah yang jika diolah dengan baik melalui suatu proses analisis dapat melahirkan berbagai informasi.[16] Karena keseluruhan data dalam penelitian ini berupa butir-butir pemikiran, maka jika dilihat dari teknik pengukuran-data dimaksud adalah data  yang bersifat kualitatif.[17]

Selanjutnya jenis data dalam penelitian ini akan dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data tentang pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman yang diambil dari buku-buku dan/atau tulisan Rahman secara langsung. Sementara data sekunder adalah data menyangkut berbagai komentar atas pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman yang sebelumnya sudah ada.

 

C.  Teknik Pengmpulan Data

Teknik pengumpul data dalam penelitian ini akan menggunakan satu teknik, yaitu telaah naskah secara mendalam oleh peneliti sendiri. Sementara cara kerjanya dimulai dengan studi kepustakaan untuk mencari data-data berupa karya orisinal dalam bentuk buku dan artikel maupun dokumen yang memiliki relevansi. Studi ini dilakukan peneliti sejak awal penyusunan rancangan riset dan terus sampai penyusunan laporan. Karena dipastikan literatur-literatur secara lengkap tidak diketemukan di satu tempat, maka sasaran tempat-tempat studi kepustakaanpun tidak difokuskan pada satu tempat. Cara kerja berikutnya adalah data-data yang sudah terkumpul kemudian diolah melalui klasterisai sesuai dengan bentuk dan karakter data yang diperoleh.

 

D.  Metode Analisis Data

Seluruh data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan metode Content Analisis. Metode ini terutama dipakai untuk menelusuri dan menggali seluk beluk pemikiran etika politik hukum Fazlur Rahman yang tersebar dalam berbagai karya dan tulisannya.

 

E.  Pengujian Validitas Data

Guna memperoleh keabsahan dan kesahihan data, maka dalam pengujian validitas data akan digunakan cara trianggulasi berikut, yaitu: Membandingkan data dari satu sumber baku dengan sumber lain, membandingkan data literatur dengan informasi aktual, dan membandingkan perspektif seseorang dengan orang lain. Hal ini dilakukan dalam rangka menemukan konsistensi logis dari sebuah informasi dan menemukan kecocokan dengan data.[18] Dan untuk menemukan kecocokan anatar satu data dengan data lainnya, cara pikir logico-hipoteticho-verifikatif, sebagaimana yang ditawarkan Yuyun S.Suriasumantri, juga menjadi salah satu alternatif.[19]

H.  Sistematika Penulisan Laporan

 Supaya pelaporan penelitian ini terarah dan mudah dipahami, maka adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

SURAT KETERANGAN

ABSTRAK

 

Bab      I        :  Pendahuluan

a.       Latar Belakang Masalah.

b.      Identifikasi dan Rumusan Masalah.

c.       Tujuan Penelitian.

d.      Manfaat Penelitian

Bab      II      :  Tinjauan Pustaka

a.       Landasan Teori

b.      Asumsi Dasar

Bab      III     :  Metode Penelitian................ 20

a.       Jenis dan Pendekatan Penelitian.................. 20

b.      Jenis dan Sumber Data.................21

c.       Teknik Pengumpulan Data...............22

d.      Metode Analisis Data.................23

e.       Pengujian Validitas Data.............23

f.       Sistematika Pelaporan...............23

Bab      IV     :  Perjalanan Hidup Fazlur Rahman.................26

a.       Biografi Fazlur Rahman.........26

b.      Kondisi Sosial Politik di Pakistan.................29

c.       Penolakan Kaum Tradisionalis Terhadap Pikiran Rahman.........33

d.      Perkembangan Pemikiran Fazlur Rahman...........34

Bab      V      :  Pemikiran Politik Hukum Fazlur Rahman.............40

a.       Gerakan Politik Fazlur Rahman.........40

b.      Konsep Negara Sekuler..........47

c.       Pandangan Politik Hukum Fazlur Rahman...........59

d.      Kedaulatan Negara Islam Menurut Fazlur Rahman.......72

 

Bab      V      :  Kesimpulan........86

a.       Kesimpulan.............86

Daftar Pustaka...................88