Artikel

WAJAH PENDIDIKAN ISLAM DALAM BUDAYA POPULER

Administrator | Senin, 02 Juli 2018 - 10:09:29 WIB | dibaca: 375 pembaca

WAJAH PENDIDIKAN ISLAM DALAM BUDAYA POPULER*

Primi Rohimi**

 Studies of the relationship between religion and popular culture are not new, and the past decade has seen a dramatic burgeoning of interest in this relationship (Porter, 2009: 271).

 Simbol-simbol Islam di media massa khususnya dalam film dan program televisi oleh sebagian khalayak hanya dimaknai sebagai tontonan yang memenuhi kebutuhan akan hiburan. Namun oleh sebagian khalayak lain, film dan program televisi bertema Islam juga dimaknai sebagai tuntunan yang memberikan informasi dan pendidikan. Maka budaya popuper dalam bentuk sinetron religi, film bertema Islam, musik islami, busana muslim, gaya hidup islami, dan novel bertema Islam dapat menjadi media dalam pendidikan Islam, bukan sekedar simbol.

Film Bertema Islam

Film adalah salah satu produk budaya populer yang menjadi media pendidikan Islam. Di Indonesia, meskipun interaksi Islam dan film sudah ada sejak tahun 70-an dalam film-film yang dibintangi Rhoma Irama namun setelah kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta pada tahun 2008, popularitas Islam dalam film kembali hadir. Tidak hanya itu, popularitas pendidikan formal di bidang ilmu-ilmu keislaman pun nampaknya menjadi meningkat. Ini bisa dilacak dari peminat perguruan tinggi keislaman yang semakin banyak sejak boomingnya film Ayat-Ayat Cinta.

 

Sinetron Religi

Sinetron Indonesia baik itu religi dan non religi menampilkan simbol-simbol Islam. Simbol-simbol tersebut dapat dilihat misalnya adegan berdoa setelah sholat. Kostum busana muslim baju koko, peci, dan sarung yang dipakai tokoh laki-laki, mukena yang dipakai tokoh perempuan, serta adegan menengadahkan kedua tangan untuk berdoa dengan sesekali melafalkan bahasa Arab sambil menangis, juga merupakan simbol-simbol keislaman. Adegan berdoa setelah sholat disertai tangisan, memunculkan keberpihakan penonton pada tokoh protagonis yang malang namun tetap beriman sehingga menguatkan rasa simpati dan iba. Nilai-nilai keimanan yang dimaknai dari simbol-simbol keislaman tersebut dapat dikatakan sebagai nilai-nilai dalam pendidikan Islam.

 

Musik Islami

Media pendidikan Islam yang nampaknya paling efektif adalah lagu (musik). Simbol Islam di blantika musik Indonesia di antaranya adalah Bimbo. Kepopulerannya di tahun 80-an tanpa disadari oleh khalayak pada umumnya, merupakan media pendidikan Islam. Lagu Tuhan, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, dan Sajadah Panjang tidak hanya mengajarkan akidah Islam tapi juga syariatnya.

Sebetulnya, Bimbo bukan satu-satunya yang mengawali kepopuleran musik islami di negeri ini. Grup Nasida Ria yang melegenda dan masih eksis hingga sekarang adalah salah satu ikon budaya populer yang menghadirkan Islam dalam musik bergenre qosidah. Lagu Jilbab Putih yang dipopulerkan Nasida Ria menjadi media pendidikan Islam tentang aurat yang mampu memberikan spirit tersendiri.

Fashion

Fashion dalam pendidikan Islam secara sederhana diwakili dengan tren busana muslim seperti koko, peci, sarung, jilbab, dan gamis. Pendidikan Islam identik dengan fashion menutup aurat dengan busana muslim yang sudah disebutkan sebelumnya. Fashion tersebut tidak hanya menjadi simbol tapi mempengaruhi sikap dan tingkah laku yang mencerminkan akhlakul karimah yang sudah disepakati dalam norma beragama di masyarakat.

Akhir-akhir ini, tren fashion dunia yang menyebar melalui globalisasi telah mempengaruhi fashion pendidikan Islam. Fashion tersebut juga menjadi identitas dan spirit intelektual muslim. Misalnya penggunaan dasi dan jas oleh kalangan cendekiawan muslim. Jas bahkan kini menjadi identitas para santri yang membedakan pesantren mereka masing-masing. Industri fashion pun menjadi terpengaruh dengan fashion islami sehingga memberikan pemahaman tentang menjaga aurat semakin mudah. Maka muncullah berbagai tren fashion islami. Menutup aurat adalah ajaran Islam. Namun bagaimana menutup aurat dalam bentuk mode busana sesuai perkembangan jaman adalah ijtihad manusia. Ini artinya, prinsip pendidikan Islam mengikuti perkembangan jaman (Nata, 2016: 99).

Budaya populer dalam dunia pendidikan Islam adalah hal yang tidak bisa dihindari dan tepat jika direspon dengan bijak. Interaksi dalam bentuk adaptasi, akulturasi, dan simbiosis yang saling menguntungkan antara budaya populer dan pendidikan Islam adalah keniscayaan suatu ilmu pengetahuan. Suatu ilmu akan bermanfaat jika mampu mengikuti perkembangan jaman. Budaya populer adalah salah satu indikator perkembangan budaya saat ini.

 

*Versi lengkap tulisan ini bisa dibaca di Majalah Pendidikan Agama Islam TARBIYA Volume 5, Nomor 1, 2017 dengan judul “Budaya Populer dan Pendidikan Islam”

**Dosen Dakwah dan Komunikasi IAIN Kudus; mahasiswi S3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang; anggota ELKASYF, Litbangkominfo PC Muslimat NU Kudus, Ketua Yayasan Aboesiri Klambu, dan pendiri SMK Unggulan Klambu.