Artikel

YANG TERSISA DARI RAMADHAN

Administrator | Kamis, 21 Juni 2018 - 15:18:46 WIB | dibaca: 325 pembaca

YANG TERSISA DARI RAMADHAN

 

Oleh: Primi Rohimi*

 

Versi lengkap tulisan ini bisa dibaca di Koran Suara Merdeka 14 Juni 2018 dengan judul “Budaya Pop di Bulan Ramadhan”

 

Di antara komoditas bulan Ramadhan di media massa di Indonesia adalah program acara TV bertema Islam baik itu berita maupun hiburan yang ditayangkan hampir selama 24 jam sehari. Program berita misalnya, berisi liputan tentang berbagai peristiwa yang hanya terjadi di bulan Ramadhan, tradisi berbagai daerah selama bulan Ramadhan serta tema-tema keislaman lainnya. Berita hiburan atau lebih dikenal dengan infotainment menayangkan aktivitas selebriti dalam mengisi bulan Ramadhan. Sedangkan program acara hiburan dengan mudah dapat dilihat dalam bentuk lagu-lagu islami, sinetron religi, komedi, dan lainnya. Berbagai acara TV selama bulan Ramadhan ditayangkan dari mulai waktu sahur sampai sahur kembali.

Media sosial sebagai bagian dari budaya pop menjadi sarana meminta maaf sebelum Ramadhan. Hal ini dilakukan karena kesibukan yang menyita waktu namun di sisi lain, meminta maaf sebelum Ramadhan adalah tradisi yang diyakini sebagai ajaran Islam yang harus dilakukan. Esensi permintaan maaf sebetulnya juga melibatkan silaturahmi tatap muka. Dengan meminta maaf melalui media sosial maka dua esensi tersebut hanya menjadi kenikmatan sesaat.

Salah satu penyebab budaya pop hadir dalam dakwah Islam adalah sebagai negosiasi antara selera golongan muda yang dinamis dan nilai-nilai Islam yang mutlak. Negosiasi hadir dalam bentuk musik, tren fashion, dan hobi yang menyebabkan nilai-nilai dalam Ramadhan misalnya menjadi lebih mudah untuk diamalkan. Misalnya nilai tentang pengendalian nafsu lebih bisa diterima dengan visualisasi dalam sinetron religi serta motivasi dari musik religi.

Budaya pop juga menguatkan identitas kelas menengah muslim yang hadir sebagai wujud Islam agama semua golongan. Kelas menengah muslim tidak hanya menunjukkan golongan konsumtif namun juga merupakan representasi kemakmuran dan politik (Jati, 2015). Kelas menengah melahirkan tren di berbagai bidang yang memacu dinamika industri.

Di satu sisi, budaya pop di bulan Ramadhan dengan nuansa konsumerisme dan kapitalismenya berpotensi mendangkalkan makna ibadah umat muslim. Namun di sisi lain, industri budaya pop menjadi sarana dakwah Islam bahkan memberi manfaat bagi semua orang. Dengan demikian, kita bisa menyikapi dengan bijak yaitu dengan memaksimalkan relijiusitas dan spiritualitas keislaman dalam budaya populer di bulan Ramadhan ini. Kita jangan sampai terjebak dan terperosok terlalu dalam di jurang kapitalisme dan konsumerisme. Semua ada waktu dan tempatnya. Saatnya beribadah tentunya kita maksimalkan dengan ibadah. Saatnya rekreasi bisa kita manfaatkan pula dengan rekreasi yang berkah tanpa meninggalkan ibadah. Mari kita raih keberkahan Ramadhan dengan menguatkan identitas Islam sebagai agama yang populer, agama yang bisa merespon perkembangan kekinian, agama rahmatan lil ‘alamin.

 

*Penulis adalah mahasiswi S3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang; dosen Dakwah dan Komunikasi STAIN Kudus; anggota ELKASYF, Litbangkominfo PC Muslimat NU Kudus, dan Ketua Yayasan Aboesiri Klambu.